Penjara Luka

Penjara Luka
Part thirty six


__ADS_3

Raditya tersenyum sinis begitu santai. Dia mendekati Ramona yang menundukkan kepalanya dalam-dalam setelah mengucapkan hal tersebut.


"Anakku katamu? Sudah bener bohongnya? Kamu yakin mau mempertahankan tuduhanmu ini? Pikir baik-baik Ramona. Kalau mau membuat skenario, setidaknya gunakan logikamu sedikit," cecar Raditya dengan tatapan yang semakin tajam.


"Dia memang anakmu, Dit. Saat itu, Aku tidak meminta pertanggungjawabanmu karena aku sendiri juga akan menikah." Ramona masih berusaha untuk berkilah.


"Terus?" Raditya sengaja ingin mendengarkan keterangan Ramona yang menurutnya hanya sebatas karangan bebas.


"Mengetahui aku hamil, tentu saja Reyhan tidak jadi menikahiku. Dia tidak ingin bertanggung jawab atas sesuatu yang tidak dia lakukan. Tapi karena banyak pertimbangan dari pihak keluarga, akhirnya kami menikah juga. Meski pernikahan itu hanya sebentar. Begitu Aku melahirkan, kami bercerai. Meski demikian, Reyhan sangat menyayangi Reva. Dan aku sengaja memasang fotomu di sini, agar Reva mengenal siapa papanya. Bagaimana pun dia berhak tau asal usulnya"


Raditya menggeleng-gelengkan kepala, lagi-lagi disertai senyuman sinis. "Semakin tidak masuk akal ceritamu, Mon. Kalau memang Reyhan menyayangi anak itu, seharusnya dia mudah menerimamu dalam kondisi apa pun. Menerima anak orang lain saja bisa, kenapa tidak dengan menerimamu."


"Memang begitu adanya, Dit. Baguslah sekarang kamu datang. Aku tidak menolak jika kamu ingin bertanggungjawab. Meski terlambat, masih lebih baik daripada tidak sama sekali." Ramona berdiri ingin mendekati Raditya.


"Jangan gila kamu, Mona. Orang lain mungkin percaya ceritamu. Tapi aku? Tentu saja tidak. Ingat baik-baik, kamu bukan perawan lugu saat kita melakukannya. Dan camkan baik-baik juga! Aku selalu menggunakan alat pengaman saat bersenang-senang. Kamu pikir aku bodoh? Aku tidak akan mempertaruhkan masa depanku pada napsu sesat. Dan jelas aku masih waras untuk tidak asal memilih ibu bagi calon anakku. Kamu salah orang Mona. Aku bukan Don Juan kemarin sore yang tidak bisa mengontrol diri."


Ramona tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya begitu mendengar jawaban Raditya. Dia sendiri bahkan tidak menyadari kalau pria tersebut memakai pelindung saat bercinta dengannya. Yang dia ingat hanyalah perlakuan lembut dan memabukkan dari Raditya.

__ADS_1


"Biar adil, kita lakukan tes DNA saja. Ini bukan hanya perkara fitnah, Mon. Tapi pengakuanmu ini bisa jadi alasan kenapa Reyhan bajingann itu menghancurkan istriku," tegas Raditya.


"Tidak! Reva anakmu, Dit! Anakmu!" Tiba-tiba reaksi Ramona begitu berlebihan. Perempuan tersebut berdiri dengan gerakan cepat, lalu berlari ke dalam kamar. Tidak lama, Ramona kembali keluar membawa setumpuk kertas dan melemparkannya tepat di depan wajah Raditya persis. Kertas itu berhamburan jatuh ke lantai.


Kini berganti Raditya yang mendapatkan kejutan. Berbagai gaya dirinya di atas ranjang saat bersama Ramona, Rena dan satu perempuan lagi terpampang jelas di setiap lembar yang berserak. Dengan gerakan gesit, Raditya memunguti kertas-kertas itu penuh kemarahan.


"Kamu gila, kamu tidak waras, Mona!" teriak Raditya.


Posisi rumah Ramona yang sangat berdekatan dengan rumah yang lain, membuat teriakan Raditya terdengar oleh orang-orang yang berada di sekitar sana. Mengira Ramona sedang kambuh, salah satu dari mereka yang menjadi penanggungjawab atas kondisi Ramona, segera berlari ke dalam sana.


"Mbak Mona," panggil perempuan tersebut sesabar biasanya.


"Aku baik-baik saja. Rum, ini papanya Reva sudah datang. Kamu sekarang percaya, kan? Aku ini tidak pernah bohong. Papanya Reva tampan, kan? Aku sangat cantik, mana ada pria yang menolak pesonaku."


Raditya menatap tajam Ramona dan perempuan yang dipanggil Rum itu secara bergantian. Dia mencoba memahami kondisi yang tengah dihadapinya. Sepertinya, apa yang terjadi tidak sesederhana yang dia duga sebelumnya. Menilik keadaan Ramona yang labil, bisa jadi Reyhan juga korban gagal paham atas cerita bohong yang terlanjur dibangun.


Sementara itu, Reno yang tengah berhadapan dengan Rinto. Menjelaskan kembali pembahasan yang tadinya disampaikan pada Riena. Jelas saja, Rinto semakin merasa kecewa pada Raditya. Langsung saja pria tersebut menghubungi besannya. Janji sebuah pertemuan antar orangtua pun dijadwalkan.

__ADS_1


"Tanpa mengurangi rasa terimakasih saya, maaf kalau pertanyaan saya nanti menyinggung perasaan kamu. Ren, apa tujuan kamu mau repot-repot sampai datang sejauh ini hanya untuk menceritakan semua pada Riena? Keuntungan apa yang ingin kamu dapatkan dari kondisi ini?"


Reno mengulas senyuman manis pada Rinto. Lalu dengan sopan dia menjawab, "Tidak mengapa, Pak. Saya sangat memahami kenapa sampai Pak Rinto berpikir demikian. Hati Saya hanya merasa terketuk dengan kejadian yang menimpa Riena. Tidak seharusnya Riena yang menanggung karma buruk atas perbuatan Radit. Sebagai manusia biasa, Saya tidak munafik. Saya akui ketidaksukaan saya pada Raditya. Tetapi cukup kebencian itu saya tahan di hati, saya tidak ada niat sedikit pun membalas. Saya percaya, Tuhan punya cara sendiri untuk menunjukkan kebenaran."


Cara menjawab Reno sungguh tenang dan sangat meyakinkan. Membuat Rinto tidak ingin bertanya lebih lanjut lagi. Papa Riena malah menawarkan Reno untuk menginap dulu di sana.


Di waktu yang sama, Riena masih saja menangis di pangkuan Rosyani. Suara tangisnya begitu pilu disertai suara napas yang tersengal karena isak.


"Tumpahkan air matamu, Rien. Habiskan sedihmu sekarang. Setelah ini, tegakkan kepalamu. Mereka yang membuatmu hancur, harus mendapatkan balasan. Kamu berhak mendapatkan keadilan. Ini bukan aib, Ndhuk. Sama sekali bukan. Ini hanya teguran dari Allah. Pertanda Allah masih sayang sama kamu." Rosyani mengusap rambut Riena dengan lembut.


"Ndhuk, Rien, kita ini punya iman. Masalahmu tidak akan terasa berat kalau kamu terus bersandar sama Allah. Ayo kita hadapi satu per satu. Buang pikiran aborsi jauh-jauh. Kalau dia sudah bernyawa, dosa besar kalau sampai kita tega membunuhnya. Istighfar, Ndhuk. Tawakal, Lillah Billah. Segala sesuatu yang menimpamu ini atas kehendak Allah. Sudah diatur sedemikian rupa."


Riena memeluk Rosyani begitu erat. Tanpa kata perempuan tersebut berusaha mengangguk pelan. "Riena akan berusaha menerima semuanya, Ma," lirihnya di antara isak tangis.


Di sisi lain, Raditya yang bergerak cepat karena ingin menyelesaikan semua dalam waktu singkat, juga sudah mengetahui keberadaan Reyhan yang ternyata tinggal di apartemen mewah hanya bertiga saja bersama Reva dan babysitter gadis cilik itu.


Masalahnya, untuk mencapai unit di mana Reyhan tinggal, Raditya harus dijemput dulu oleh Reyhan secara langsung di lobby apartemen. Hal itu dikarenakan akses menuju ke sana sangatlah private. Hanya si pemegang card key unitlah yang bisa menaiki lift khusus yang mengantar ke lantai unit itu berada. Butuh negosiasi yang panjang untuk membuat Reyhan bersedia turun menemui Raditya.

__ADS_1


"Baguslah kamu masih mempunyai nyali untuk menemuiku."


__ADS_2