Penjara Luka

Penjara Luka
Part twenty


__ADS_3

"Pria itu bernama Reno. Dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya sebentar di sini. Kami tidak banyak bicara. Tas itu dikembalikan, urusan selesai." Riena menjawab jujur, tetapi tidak seluruh bagian dia ceritakan. Termasuk akan niatnya untuk menanyakan sesuatu pada Reno. Untuk hal tersebut, Riena tidak ingin mengungkapkan pada sang suami.


"Ya, sudah." Raditya memaksakan senyumnya. Sama seperti Riena, dia pun tidak ingin menceritakan bahwa dirinya kenal baik dengan Reno di masa lalu. Namun, kini beban Raditya semakin bertambah. Dia bukanlah orang yang percaya dengan yang namanya kebetulan. Mengingat latar belakang hubungan yang ada antara Raditya dan keluarga Rena, dia yakin apa yang menimpa Riena bisa jadi ada campur tangan Reno atau Rino di dalamnya.


Raditya dan Riena sama-sama terdiam. Hanya sorot mata saling beradu pandang, mewakili ungkapan begitu banyak rasa yang terpendam. Ada hasrat, rindu dan cinta yang menggebu tetapi beradu dengan sendu juga gelisah yang tertahan.


Tangan Riena mengalung mesra pada leher suaminya. Sementara satu tangan Raditya, melingkari pinggul sang istri tidak kalah mesra. Satu tangan pria tersebut naik turun di paha kanan Riena.


"Ay, sungguh aku tidak keberatan jika kamu mau menyentuhku," lirih Riena. Satu kali lagi dengan suara khasnya yang kembali lembut sedikit menggoda.


"Aku sangat ingin, Bee. Tapi jangan, aku yakin kamu belum siap. Kalau kamu sudah siap, tentu aku tidak akan merasakan jantungmu berdetak secepat ini. Kamu seperti ini saja, aku sudah sangat senang. Yang penting kamu jangan pernah merasa sendiri. Aku selalu ada, Bee. Apa yang kamu alami, bukan aib. Sekali pun seluruh dunia tau, kita tidak perlu malu."


"Ay, tadi tasku kamu taruh di mana? Aku tadi belum melihat isinya." Riena mengalihkan pembicaraan sembari perlahan beranjak berdiri dari pangkuan suaminya.


"Aku ambilkan dulu, ya." Raditya pun berdiri sembari menarik ke bawah bagian paha dalam celana yang dipakainya. Meski bibirnya dengan enteng menolak tawaran Riena, tentu ada bagian teristimewa dari dirinya yang tidak tahu diri meronta hingga membuat ukuran celananya mendadak kekecilan.

__ADS_1


"Aku ikut, Ay." Seakan tidak ingin keduluan Raditya yang membuka isi tasnya. Riena langsung mengapit lengan suaminya tersebut.


Tidak ada pilihan bagi Raditya selain menuruti kemauan Riena. Hal bodoh yang ia sesali sekarang adalah mengapa dia tidak memeriksa isi tas istrinya terlebih dahulu. Kini, dia hanya berharap. Reno tidak memasukkan apa pun di sana. Entah mengapa, kecurigaan Raditya semakin menjadi.


Sepasang suami istri itu pun melangkahkan kaki bersama menuju lantai satu rumah mereka. Karena tas Riena tadi, diletakkan Raditya di tempat pemantauan CCTV. Sedetik pun Riena tidak melepaskan lengan Raditya. Dia berharap, Reno tidak meninggalkan nomor teleponnya di tempat yang langsung terlihat begitu dia membuka tasnya.


"Ay, kalau kamu masih ada kerjaan, selesaikan saja dulu. Biar aku temani," ucap Riena begitu tas sudah di tangannya.


"Nanti saja, Bee ... Hanya sedikit, kok. Beberapa tender perusahaan kita kalah, jadi kita hanya maintaince yang ada saja sambil menunggu tender baru dari Twilight Corp dan yang lain. Inflasi global membuat beberapa bisnis terhambat. Investor memilih cara aman dengan menahan dananya dulu. Menunggu ekonomi stabil, atau setidaknya melihat daya tahan pasar menghadapi kondisi ini," jelas Raditya seraya mengusap punggung istrinya.


Riena menarik garis senyuman yang sedikit dipaksakan. Entah dia harus membalas seperti apa sikap Raditya yang begitu memprioritaskan dirinya. Apa yang dikatakan suaminya barusan, jelas sangatlah tidak mungkin. Perusahaan Raditya bukan perusahaan yang didirikan kemarin sore. Yang karena inflasi seketika langsung terkena imbasnya. Kalaupun tidak ada investor yang mendanai, Raditya bisa saja mengambil tabungan mereka atau pun menjaminkan aset mereka ke bank. Satu-satunya alasan logis yang terlintas dan diterima pikiran Riena hanya satu. Raditya pasti mengurangi kepadatan pekerjaan hanya karena ingin menjaganya lebih dekat.


Raditya tersenyum begitu lebar. Sorot matanya dalam penuh cinta dan kebanggan pada sang istri. Itulah yang membuatnya begitu jatuh cinta pada Riena, sekali pun terlahir dari keluarga berada, sikap dan tutur katanya jauh dari kata angkuh. Kesederhanaan yang bersahaja, pekerja keras dan tidak mengandalkan harta orang tua, begitu memikat hati Raditya.


"Iya, Bee. Terimakasih sudah diingatkan. Percayalah, sebisa mungkin, aku tidak akan membuat mereka terlalu merasakan dampaknya. Aku janji. Sekarang temani aku kerja, ya. Kalau bisa bantu aku cek laporan divisi marketing," pinta Raditya sembari menuntun Riena keluar meninggalkan ruangan CCTV menuju ruang kerjanya di lantai yang sama.

__ADS_1


Sesampainya di sana, Raditya langsung duduk di belakang meja dan fokus di depan layar laptopnya. Sementara Riena, memilih duduk di sofa sembari membuka tasnya. Dia mencari sesuatu yang menjadi tujuannya memberanikan diri membuka tas tersebut. Sesekali, dia melirik ke arah Raditya yang tampaknya masih fokus pada pekerjaannya.


"Ini dia," batin Riena begitu menemukan secarik kertas putih bertuliskan sepuluh digit angka di sana. Lagi-lagi dia melirik suaminya. Merasa aman, dia segera mengambil dan memasukkan kertas tersebut ke dalam saku dres yang dikenakannya.


"Tidak ada yang hilang, Ay. Semua sudah aku cek," suara Riena agak bergetar saat mengatakannya. Sungguh tidak biasa berbohong atau menyembunyikan sesuatu pada Raditya, membuatnya ketakutan sendiri ketika harus melakukan hal itu.


"Syukurlah, Bee. Aku kirim by email saja ya laporan dari divisi marketing. Tolong bantu cek ya, Bee." Raditya yang sebenarnya diam-diam memperhatikan apa yang dilakukan Riena, bersikap pura-pura tidak tahu. Kini kewaspadaan memang harus ditingkatkan berlipat-lipat.


"Ehm, baik. Aku cek di kamar saja, ya? Ponselku ada di kamar." Riena buru-buru meninggalkan ruangan tersebut tanpa menunggu persetujuan dari Raditya.


Selepas keluarnya Riena dari ruangan. Raditya menutup laptopnya dengan gerakan sedikit menghentak. Rahangnya terlihat mengeras dengan sorot mata memerah menahan amarah.


"Berani kamu usik Riena, aku pastikan kamu akan hancur sehancur-hancurnya, Ren," gumam Raditya.


Sementara itu, di dalam kamar, Riena langsung memasukkan nomor ponsel Reno di dalam telepon genggamnya. Lalu dengan kebulatan tekad yang ada, dia mengirimkan pesan singkat pada pria yang tanpa ia sadari akan mendatangkan badai pada keluarga kecilnya.

__ADS_1


Tidak butuh hitungan menit dalam lima jari, pesan Riena pun berbalas. Perempuan tersebut pun segera membuka pesan tersebut.


"Foto dan video apa yang dia maksud?" Riena mengernyitkan keningnya karena terlalu heran sekaligus penasaran dengan pesan yang dikirim Reno.


__ADS_2