
Rosyani membalas tatapan sang putri dengan tatapan penuh selidik dan juga rasa heran. Selama ini, dia tidak pernah mendapati putrinya itu bersikap sentimentil atau menunjukkan reaksi kesedihan saat dia atau besannya sedang membicarakan tentang keturunan.
"Belum siap apa lagi? Jangan jadi hamba yang kufur nikmat, Rein. Allah sudah memberikan kalian rejeki melimpah. Rumah ada, kendaraan punya dan tabungan tidak mungkin tidak ada isinya. Jangan bilang tidak siap mental. Kamu bukan anak kemarin sore, yang belum merasakan kecewa dan perjuangan dalam kehidupan."
Mendengar kata-kata mertuanya, Raditya langsung merangkul pundak Riena dan mengusapnya perlahan. Seakan ingin memberikan kekuatan agar istrinya itu tetap tegar dan mampu mengendalikan emosinya. Raditya paham betul apa yang membuat Riena mendadak mengatakan tidak siap untuk memiliki anak.
"Mama nggak pernah ngerti. Selama ini, mama hanya bisa menuntut Riena untuk segera memberikan mama cucu. Jika memang benar mental Riena yang belum siap, mama bisa apa? Apa mama mau terus memaksa? Ini rumah tangga Riena. Mama cukup mendoakan yang terbaik. Jangan memaksa seperti ini." Riena berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Retno dan Rosyani seketika saling bertukar pandang. Pembahasan soal anak, biasanya tidak berakhir dengan perdebatan apalagi pertengkaran seperti ini. Riena selalu menanggapi dengan santai seakan tidak ada beban. Kedua perempuan paruh baya itu kemudian kompak menatap Raditya. Seakan menuntut sebuah penjelasan akan perubahan sikap Riena. Bahkan mereka mulai menghubungkan sikap barusan dengan jarangnya Riena menerima sambungan telepon dari mereka akhir-akhir ini.
"Kalian baik-baik saja, kan? Kenapa mama merasa ada yang berubah drastis pada Riena?" tanya Retno.
Raditya melangkah maju, baru teringat dia belum memberikan salam pada kedua mamanya tersebut. Dia pun mencium punggung tangan Retno dan Rosyani secara bergantian.
"Kita bicara di bawah saja, ma. Setelah ini. Biar Radit bicara sebentar sama Riena," ucap Raditya dengan sangat sopan.
"Ya sudah, mama tunggu di bawah." Retno mengamit lengan Rosyani dan mengajak besannya itu untuk menunggu di lantai satu.
Kedua perempuan yang pergi umroh sendirian tanpa didampingi suami masing-masing itu tampak saling berbisik, masih membicarakan Riena. Ucapan maaf terdengar disampaikan oleh Rosyani pada Retno akan sikap Riena yang menurutnya tidak sopan dilakukan di depan orangtua.
"Tidak mengapa mbak yu, mungkin Riena lagi banyak pikiran. Kita juga salah. Datang-datang langsung membahas anak. Mestinya kita tanya kabar dan melihat situasi dulu." Retno menjawab permintaan maaf Rosyani dengan santai.
__ADS_1
"Semoga saja hanya lagi tidak enak hati. Kok saya jadi deg-deg'an, ya, mbak? Coba Mbak Retno pikir, pernah tidak Riena bersikap kayak tadi? Masak mereka sedang berantem? Tapi kalau berantem nggak mungkin juga sudah siang masih dikamar bareng. Terus tadi sepreinya juga awut-awutan, to?"
Retno menepuk lengan Rosyani sembari tersenyum lebar. "Mbak Yu ini sempet-sempetnya loh memperhatikan. Sudah mungkin tadi Raditya kecepetan, jadi Riena kesel belum sampai sudah keduluan."
Kedua ibu sosialita bersahaja itu kompak cekikikan sembari terus melanjutkan langkah menuruni anak tangga bergandengan. Meski dalam keseharian mereka hidup berbeda kota, kalau sudah bertemu tidak perlu diragukan lagi kekompakannya. Hubungan Retno dan Rosyani lebih cocok digambarkan layaknya kakak adik ketimbang sebagai besan.
"Bee, buka pintunya sebentar, aku mau pipis ini, dari tadi ketahan loh." Raditya kembali mengetuk pintu kamar mandi yang terkunci rapat dari dalam. Riena sendiri menangis sesenggukan di dalam bathup dengan shower menyala menguyur kepalanya.
"Bee," panggil Raditya sekali lagi.
Tidak lama kemudian, Riena pun membuka pintunya. Tanpa bathrobe dan sehelai benang pun menempel di badannya, tubuh perempuan tersebut tampak menggigil kedinginan. Raditya buru-buru mengambil handuk dan menutup tubuh istrinya dengan kain tebal tersebut.
"Aku tidak mau mereka tau yang sebenarnya, Ay," cegah Riena sembari menggeleng kuat.
"Maka bersikaplah biasa saja. Jika ingin berbohong, pintarlah menyembunyikan keadaan. Apa pun keputusanmu, ada aku yang akan menguatkan dan mendukungmu. Aku mandi dulu. Temui mama dulu, minta maaf sama Mama Ros, tadi kamu berbicara ketus loh," ingat Raditya sembari membelai lembut pipi mulus Riena.
"Nunggu kamu saja. Turunnya bareng. Sekarang kamu mandi dulu," Riena mencubit manja lengan suaminya.
Raditya buru-buru masuk ke kamar mandi. Tidak ingin godaan di depan mata berlanjut. Sekali saja tadi sudah berkah, jangan sampai dia tidak tahu diri dengan meminta lebih.
Di sisi lain tidak jauh dari tempat tinggal Riena dan Raditya. Hanya berjarak tembok tinggi di samping kanan rumah tersebut lebih tepatnya. Ratih tampak memekik kegirangan begitu penutup mata yang dipasangkan oleh Reno sedari mereka keluar dari hotel dibuka.
__ADS_1
"Mas Reno, ini seriusan?" tanya Ratih masih saja belum percaya ketika dia berdiri di depan gerbang utama sebuah rumah yang tidak kalah mewah dengan rumah di sekitarnya.
"Serius, dong. Masak becanda? Seneng nggak?" Reno mengedipkan satu matanya pada Ratih.
"Seneng bangettttttttt! Mas tau tidak, bukan karena rumahnya memang sangat bagus. Tapi rumah kita ini bersebelahan dengan rumah sahabatku, Mas. Ini rumah Riena, Mas. Rumah sahabat kecilku," pekik Ratih yang dibalas senyuman penuh arti oleh Reno.
"Benarkah? Kebetulan sekali. Nanti malam, kita datang ke rumahnya. Tapi sebentar, tunggu dulu, aku sepertinya pernah masuk ke rumah ini." Reno pura-pura mengingat sesuatu sembari menunjuk gerbang megah rumah Riena.
"Benarkah? Untuk apa?" tanya Ratih.
"Ehm, sepertinya untuk mengembalikan dompet pemilik rumah ini. Perempuan ... ah, ya, namanya juga Riena. Apakah kebetulan lagi Riena yang kita maksud sama?" Reno mulai memanipulasi keadaan. Sebelum Ratih dikejutkan dengan pertemuan nanti, dia memilih untuk sedikit jujur untuk mempermudah langkah selanjutnya.
Ratih terlihat bersemangat ingin menanyakan lebih lanjut perihal bagaimana bisa suaminya menemukan dompet milik Riena. Namun, entah mengapa,bukannya bertanya dia malah membuka galeri ponselnya dan menunjukkan salah satu potret dirinya bersama Riena yang diambil beberapa hari yang lalu saat mereka jalan-jalan ke taman. "Apa Riena ini yang kamu maksud?" tanyanya.
Reno kembali pura-pura mengingat sembari terus menatap layar ponsel Ratih. Dalam hati dia jelas sedang mengagumi kecantikan alami Riena yang lebih dominan ketimbang istrinya sendiri.
"Sepertinya iya, aku lupa sih. Tau sendiri kalau sama perempuan lain perhatianku tidak bisa sefokus ketika memperhatikanmu." Reno jelas sedang membual. Dia lalu mengajak Ratih segera masuk kembali ke dalam mobil untuk memasuki rumah baru mereka.
Sementara itu, Riena dan Raditya tampak menuruni anak tangga untuk menemui mama-mama yang sudah menunggu di ruang keluarga.
"Mbak yu, coba lihat dadanya Riena, kok kayak penuh gitu, ya? Pinggulnya juga kayak gak seramping biasanya. Jangan-jangan malah sudah isi, mbak," bisik Retno sembari terus mengamati tubuh menantunya dari ujung kaki hingga ujung kepala.
__ADS_1