Penjara Luka

Penjara Luka
Bonchap part 2


__ADS_3

Riena bergegas mengambilkan segelas air putih di atas nakas samping tempat tidur mereka. Meja berukuran hampir satu meter tempat dua ponsel tergeletak ketika sang empunya sudah berada di atas ranjang---sekedar melepas lelah atau terkadang juga menuntaskan dessah.


"Ini, Ay." Riena memberikan gelas tersebut kepada Raditya. "Tadi kamu makan apa sih? Bukannya hanya sesendok bubur? Kok bisa sakit perut?" tambahnya.


Raditya meneguk isi gelas tadi hingga tandas. Dia masih meringis kesakitan ketika berusaha meletakkan gelas itu kembali ke atas nakas. Sementara Riena berusaha mencari obat sakit perut di almari P3K yang terletak tidak jauh dari layar televisi 52 inch yang menempel di dinding putih sisi sebelah kanan.


"Sakit, Bee. Rasanya mulas. Tapi kenapa tidak bisa keluar." Raditya menyeka bulir-bulir keringat sebiji nasi yang membasahi wajah dan lehernya. Menahan dan merasakan sakit di perutnya, sungguh membuat tubuhnya merasakan panas dingin secara bersamaan.


Sekali lagi, Raditya kembali masuk ke dalam kamar mandi. Bukannya bisa keluar sesuatu yang melegakan, rasa sakit semakin nyata merambah hingga ke bagian punggung belakangnya. Seakan tertusuk ribuan jarum suntik---kebas hingga kesemutan.


"Ay, coba kamu berbaring saja. Sini aku bantu gosok punggungnya." Riena menghampiri Raditya yang baru keluar dari kamar mandi. Jalan pria tersebut membungkuk karena mengikuti rasa sakit yang mendera.


Begitu Raditya sudah berbaring tengkurap di atas ranjang king size dengan balutan seprei berwarna biru dengan motif polos, Riena segera menuangkan minyak kayu putih ke telapak tangannya dan langsung menggosok-gosokkannya ke seluruh bagian punggung hingga pinggul Raditya sampai merata.


"Apa masih sakit?" tanya Riena.


"Masih," jawab Raditya dengan suara yang sangat lemah.


Kondisi itu berlangsung sampai sekarang menjelang subuh. Sempat mereda sejenak, tetapi tiba-tiba muncul kembali dengan rasa sakit yang menurut Raditya semakin luar biasa. Bisa dibilang, Riena dan Raditya sama-sama tidak tidur semalaman.

__ADS_1


Hingga ketika hendak mengambil air wudhu, Riena baru menyadari jika ada flek merah atau darah di cellana dalam yang ia kenakan. Sedikit panik, ia menghampiri Raditya dan berkata, "Ay, aku berdarah Kenapa ini? Ayo kita ke dokter!"


Belum juga kepanikan Riena akan adanya flek terjawab, sesaat kemudian cairan bening sedikit kental keluar dari jalan lahirnya tanpa diminta dan tanpa bisa dikendalikan layaknya bocah yang mengompol.


"Air apa ini?" Riena mencoba mengusap rembesan air yang mengaliri bagian paha bagian dalamnya, lalu mendekatkan bekas usapan yang ada ditangan pada hidungnya. "Ini bukan pipis. Ay, ayo kita segera ke dokter. Ayo, cepat!"


Raditya berusaha menahan tarikan tangan Riena meski dia juga sudah turun dari ranjang. Riena yang belum menyadari kondisi Raditya, masih tetap bertahan pada keinginannya untuk segera berangkat menuju rumah sakit.


"Ay, Ayo! Malah diem aja! Nanti lagi ngerasain sakitnya. Ini pasti ketubanku sudah pecah. Ayo, Ay. Jangan sampai Baby R kenapa-napa!" Riena menarik tangan Raditya lebih kencang dari sebelumnya.


"Iya, Bee. Iya. Aku pakai baju dulu. Kamu mau orang lain lihat Raju? Nanti suster-suster bukannya nolong kamu, mereka malah bakalan fokus mengagumi Raju."


Riena segera mengambilkan baju ganti untuk sang suami. Sembari mulut terus mengoceh agar Raditya mengenakannya dengan cepat.


Tidak butuh waktu terlalu lama, akhirnya mereka berdua berangkat menuju rumah sakit bersama driver tanpa membawa bekal persiapan apa pun selain dompet Raditya. Padahal pasangan calon orangtua baru tersebut sudah beberapa kali melakukan simulasi ketika hendak berangkat ke rumah sakit untuk persalinan. Di mana Raditya akan membawa dulu keperluan calon baby dan juga Riena yang sudah di pack di dalam koper menuju mobil. Baru setelahnya Raditya akan kembali menjemput Riena untuk digendong. Nyatanya, simulasi dilupakan dan tidak ada gunanya sama sekali.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, bukan desis kesakitan Riena yang membuat driver mereka risih, melainkan suara keluhan Radityalah yang membuat pria paruh baya yang sudah bekerja Lama bersama Raditya itu menginjak pegas gasnya lebih dalam agar segera sampai di rumah sakit bersalin tempat Riena memeriksakan kandungannya selama ini.


"Ay, yang mau melahirkan aku. Kenapa malah aku yang usap-usap punggung kamu?" Riena semakin heran dengan kelakuan sang suami yang kini malah menambah beban di tubuhnya dengan menjadikan bahunya sebagai sandaran.

__ADS_1


"Sakit, Ay. Ini lebih dari diare biasa. Mending diare, dibawa ke toilet masih sedikit bisa merasakan lega. Ini nggak jelas," keluh Raditya semakin menjadi.


"Ya sudah nanti minta periksa sekalian," dengus Riena. Meski kesal, dia juga tidak tega melihat wajah suaminya yang pucat dan memelas. Bulir-bulir keringat tampak jelas di sekitaran dahi dan di bawah hidung Raditya.


Sesampainya di rumah sakit. Petugas security yang berjaga di depan pintu UGD merasakan kebingungan harus memberikan kursi roda yang di dorong yang kepada siapa. Mengingat rumah sakit tempatnya bekerja adalah khusus rumah sakit bersalin, sudah seharusnya yang duduk di atas kursi dorong tersebut adalah Riena. Namun, melihat kondisi Raditya, sebagai orang yang biasa menyambut pasien darurat, jelas nuraninya mengatakan bahwa Radityalah yang pantas duduk di sana.


Pada akhirnya, Raditya dan Riena kompak menolak menggunakan kursi roda. Keduanya sepakat berjalan kaki menuju ke dalam bangunan UGD. Seorang perawat di belakang meja resepsionis langsung menyambut mereka dan menanyakan beberapa hal.


Tidak lama dari itu, Riena dan Raditya pun diarahkan masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Ketika Riena berbaring di atas brankar, Raditya merasakan sensasi melilit di perutnya semakin menjadi. Keringat dingin mengucur deras tidak hanya di bagian wajah, tapi bagian belakang atasan yang dikenakannya pun basah karena keringat.


Kepalanya semakin pusing. Begitu seorang bidan masuk dan mengatakan akan memeriksa jalan lahir Riena dengan jari memasukkan jari telunjuk kanan bidan tersebut ke liang kenikmatan yang selama ini menjadi sarang hangat Raju.


"Tarik nafas ya, Bu. rilex saja. Jangan kaku biar tidak sakit."


Raditya merasakan sakit yang maha dasyat. Sakit yang sebelumnya benar-benar tidak pernah dia rasakan. Pria tersebut mencoba berdiri untuk menggenggam tangan Riena yang kini juga meringis menahan ngilu karena jari telunjuk sang bidan berada begitu dalam di area sensitifnya.


Brukkkk


Tubuh Raditya terhuyung membentur pinggiran brankar hingga membuat tempat Riena berbaring tersebut terguncang.

__ADS_1


__ADS_2