Penjara Luka

Penjara Luka
Part thirty four


__ADS_3

Rosyani dan Retno dengan kompak melepas genggaman tangan mereka. Kedua orang tersebut saling melempar pandang, seakan ingin mencari cara yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan dari Riena. Jelas Rosyani maupun Retno sama sekali tidak menduga kemunculan Riena di depan mereka.


"Maksud mama, kamu berhak tau kalau kami akan menuntut manusia laknat tadi ke jalur hukum. Mama dan papa akan mengurus semua. Kamu cukup memberi keterangan satu kali saja. Selebihnya, serahkan pada papa." Retno segera menjawab sesaat setelah apa yang diucapkan tadi terlintas di pikirannya.


Riena tersenyum tipis, lalu dia berkata, "Saat ini, Riena hanya ingin ketenangan. Setelah Rien merasa sudah sanggup menghadapi kenyataan, Rien sendiri yang akan membuat perhitungan dengan binatang itu," ucapnya.


"Mama percaya kamu perempuan yang kuat, Rien. Mama yakin kamu bisa melalui semua lebih cepat. Mimpi buruk ini akan segera berakhir. Penilaian kami tidak berubah sedikit pun. Kamu tetap anak, menantu dan seorang istri yang hebat." Rosyani beranjak berdiri, membelai rambut Riena penuh kasih sayang.


"Kita berangkat, yuk, Ma. Riena sudah menyewa private jet milik teman Rien," ajak Riena sembari menoleh ke arah kopernya yang berada tidak jauh dari kaki sang mertua.


"Tapi, Rien ...."


"Kalau mama masih ingin di sini, tidak mengapa. Rien bisa berangkat sendiri. Maaf, Ma, Rien pamit." Riena mencium punggung tangan Retno dengan gerakan sedikit memaksa. Karena mertuanya itu jelas tidak merelakan kepergiannya.


Tanpa persiapan apa pun dan mau tidak mau, tentu Rosyani tetap saja mengikuti Riena. Hanya baju yang melekat di badan dan telepon genggam di kantong celananya, perempuan tersebut mengikuti langkah pasti Riena, tampaknya di luar Resti sudah menyiapkan mobil sesuai dengan perintah Riena yang disampaikan melalui pesan singkat whatsapp.

__ADS_1


Raditya menatap nanar kepergian Riena dari balik gorden ruang kerjanya. Hingga mobil yang dikemudikan Resti tidak terlihat oleh indera penglihatannya, Raditya tetap bertahan pada posisinya.


"Siapkan hatimu untuk kehilangan Riena, Dit. Mama tidak yakin dia bisa memaafkan kamu seandainya dia tau laki-laki lucknat yang memperkosanya adalah seseorang yang datang dari masa lalu kamu. Seseorang yang sakit hati dan menuntut balas akan kebodohanmu. Mama tidak akan membantumu lagi. Meski mama tidak mengharapkan kalian berpisah, mama juga tidak berhak memaksa Riena untuk bertahan."


Ucapan Retno membuat Raditya segera menoleh ke arah mamanya itu. Hanya gelengan kepala kuat yang Raditya berikan. Setelah itu, pria tersebut malah bergegas melangkahkan kaki menuju kamarnya. Meninggalkan mamanya sendiri meratapi penyesalan dan kesedihan yang dirasakan sekaligus disaat yang sama.


Semenjak hari itu, akses komunikasi Raditya secara langsung dengan Riena tertutup rapat. Pesan yang dia kirim tidak dibaca, telepon biasa atau pun video call yang dia usahakan, tidak pernah sekali pun direspon oleh Riena. Alat sadap yang di pasangnya dulu, tentu saja tidak berfungsi karena Riena memang sudah menggunakan ponsel dan nomor lamanya kembali. Bahkan jauh-jauh hari sebelum Riena menerima video panas dari Reno. Itulah mengapa Raditya tidak mengetahui alasan sebenarnya kenapa sang istri memutuskan pergi dari rumah mereka secara mendadak.


Kabar tentang Riena hanya dia dapatkan dari Rosyani. Itu saja cukup sulit. Karena papa Riena sekarang ini tidak dapat menerima kenyataan, pria tersebut menganggap Raditya sudah lalai dan tidak layak lagi diberikan kepercayaan atas Riena.


"Belum habiskan kebodohanmu, Dit? Kamu pikir cintamu sekarang cukup untuk mengembalikan keadaan. Jadilah laki-laki sejati. Malu jika kamu datang pada seorang perempuan hanya untuk mengucapkan maaf dan menawarkan janji. Keadaan Riena tidak akan lebih baik hanya dengan kata maaf dan janjimu untuk menyelesaikan semua tapi tanpa bukti nyata kamu sudah melakukan sesuatu," timpal Rama. Papa Radit itu memang datang satu hari setelah kepergian Riena.


"Pa, Radit masih menyuruh orang mencari keberadaan si banggsat itu dan juga Ramona. Sejak kejadian di rumah sakit, dia dikabarkan pindah dan tidak pernah muncul kembali di kantornya. Radit tentu tidak tinggal diam, Pa. Radit juga maunya cepat selesai," jawab Radit sedikit dengan nada kesal. Pasalnya, Retno dan Rama kali ini benar-benar lepas tangan. Orangtuanya itu, tidak sedikit pun membantunya untuk membuka jalan komunikasi kembali dengan Riena.


"Maka berusahalah lebih keras. Curahkan tenaga dan pikiranmu lebih banyak dan fokus pada inti permasalahan dulu. Kesampingkan rindu dan cintamu pada Riena untuk sesaat. Jangan dekati istrimu sebelum masalah ini selesai. Sudah cukup kamu menyeret dia dalam karma masa lalumu. Ini konsekuensi yang harus kamu terima. Cepat atau lambat, setiap perbuatan memang harus dipertanggungjawabkan," tutur Rama

__ADS_1


Raditya hanya diam. Dalam hati dia membenarkan sepenuhnya apa yang diucapkan papanya barusan. Tetapi bagaimana pun, saat ini dia benar-benar khawatir akan kehilangan Riena. Hari-hari terakhir ini, tidur tidak lagi nyenyak. Makan pun tidak lagi senikmat sebelumnya. Dijauhi Riena adalah hukuman terberat yang harus dia jalani sejauh ini.


Tidak lama, ponsel Raditya bergetar dan mengeluarkan ringtone pertanda panggilan masuk. Pria tersebut buru-buru berdiri, sedikit menjauh dari posisi Retno dan Rama duduk. Raditya menerima panggilan itu. Si penelepon langsung menyambut dengan serentetan informasi. Dia mendengarkan dengan mimik wajah yang sangat serius. Setelah itu, tanpa berpamitan Raditya langsung meninggalkan ruangan. Langkahnya cepat menuju mobil terdepan di garasi. Dia masuk ke dalam mobil tersebut dan segera melajukannya meninggalkan rumah.


Sementara Riena sendiri lebih sering menghabiskan waktu di kamar. Memakan makanan pedas luar biasa lengkap dengan buah-buahan yang biasanya pantang dikonsumsi oleh perempuan yang sedang hamil seperti nanas dan durian. Rosyani dan Rinto---Papa Riena, tentu sudah mencoba mengingatkan, tetapi putri semata wayang mereka itu selalu mengabaikan dan mengancam akan menjauh jika keinginannya dilarang.


"Rien, sampai kapan kamu begini? Berhentilah menyiksa diri dan anak yang kamu kandung. Jangan terus bersikap seakan kamu tidak mempunyai iman, Ndhuk. Allah hanya sedang meminjam pundakmu. Ia sedang menegur banyak orang dengan memberimu ujian ini. Melalui kamu, Allah percaya akan banyak orang yang akan menjadi lebih baik." Rosyani kembali mencoba mengingatkan sang putri kesayangan.


"Sampai Ratih mau membantu Rien menggugurkan anak ini, Ma. Riena tidak mau hamil," tegas Riena.


"Ndhuk, meski seorang korban pemerkosaan berhak meminta melakukan aborsi, papa sangat tidak ingin kamu melakukannya. Kalau kamu tidak bisa menerima anak itu, biar papa yang rawat. Cukup sekarang kamu jaga baik-baik kandunganmu. Lihat papa, Ndhuk. Percaya sama papa. Tidak ada satu hal pun yang terjadi di dunia ini tanpa seizin Allah. Sekarang kita belum tau apa maksud dari Allah memberi kita cobaan sebesar ini. Suatu saat nanti, akan ada jawabannya. Sabar ...." Rinto ikut memberikan nasihatnya pada Riena.


Sesaat ketiganya terdiam. Hingga seorang asisten rumah tangga menghampiri mereka dan mengatakan sesuatu dengan sopan. "Maaf, Bu, di depan ada tamu dari Jakarta. Katanya teman Mbak Riena."


Riena langsung beranjak berdiri. Dia sudah tidak sabar ingin bertanya banyak hal pada sosok tamunya ini. Menegaskan sesuatu yang sebelumnya hanya mereka bicarakan lewat aplikasi pengiriman pesan di telepon pintar.

__ADS_1


__ADS_2