Penjara Luka

Penjara Luka
Part twenty seven


__ADS_3

Raditya tentu saja dengan sigap langsung menghampiri Riena. Tanpa berpikir panjang dan banyak bicara, pria tersebut mengangkat tubuh sang istri dan dengan setengah berlari membawanya menuju garasi mobil. Retno dan Rosyani pun tidak kalah gesit mengikuti langkah Raditya.


"Tidurkan di pangkuan mama, Dit." Retno inisiatif membuka pintu mobil berjenis sedan yang letaknya paling mudah dikeluarkan di antara mobil yang lain. Perempuan tersebut masuk ke dalam sana terlebih dahulu agar pangkuannya bisa dijadikan bantalan kepala Riena.


Setelah Raditya membaringkan tubuh Riena yang begitu lemas dan dingin, Rosyani pun ikut masuk ke dalam untuk terus menggosok-gosok telapak kaki putri kesayangannya agar sedikit hangat.


"Cepat sedikit, Dit. Mama tidak mau Riena kenapa-napa." Rosyani langsung meminta Raditya mengemudikan kendaraannya sedetik setelah pria tersebut duduk di belakang kemudi.


Tidak menjawab dengan anggukan atau pun kata-kata, Raditya langsung menginjak pedal gas mobil listrik yang memiliki fitur autopilot tersebut.


Sepanjang perjalanan, hanya terdengar suara Retno dan Rosyani yang bersahutan---berusaha membuat Riena tersadar kembali. Namun, usaha keduanya sia-sia belaka. Mata Riena tetap terpejam begitu rapat.


"Rien, mama memang tidak bisa mengambil lukamu. Jangankan semua, sedikit pun luka yang kamu rasakan akan tetap utuh kamu rasakan sendiri. Setidaknya, libatkan mama, Rien. Kamu boleh meluapkan marah, kesal atau pun kebencianmu dengan leluasa. Menahan luka sedalam ini sendirian hanya bersama Raditya, kalian tidak akan sanggup." Rosyani terus menggosok telapak kaki Riena yang berada di atas pangkuannya.


Sementara Retno, tidak henti mengusap kening Riena dengan lembut. Tatapannya kosong lurus ke depan. Entah kata-kata apa yang pantas ia ucapkan pada Rosyani. Malu rasanya hal seburuk itu bisa terjadi dikala Riena berstatus istri dari anaknya. Bukan malu lantaran merasa kehormatan dan harga diri keluarga tercoreng, lebih pada merasa gagal menjadikan Raditya pria yang bisa menjaga keselamatan dan juga marwah istrinya dengan baik.


Meski mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan yang lebih tinggi dibanding biasanya, Raditya sesekali masih memecah fokus pada jalanan di depannya dengan melirik Riena dari spion tengah mobilnya. Untung saja, jalanan tidak terlalu macet mengingat jam kerja baru saja berlangsung.


Tidak sampai menghabiskan waktu tiga puluh menit, mobil yang dikemudikan Raditya berhenti tepat di depan pintu masuk UGD. Security yang berjaga dengan cekatan membuka pintu sembari bertanya akan kebutuhan brankar dorong untuk membawa pasien. Raditya, Retno dan Rosyani pun kompak menjawab iya.

__ADS_1


Sesaat kemudian, dua orang perawat laki-laki datang membawa tempat tidur pasien beroda yang dimaksud untuk membawa Riena ke ruangan periksa. Setelah Retno dan Rosyani mendampingi Riena, Raditya segera mengemudikan mobilnya kembali untuk mencari parkir.


Begitu sudah mendapatkan tempat yang kosong, Raditya langsung menghentikan mobilnya di sana. Kemudian, dengan berlari dia kembali menuju tempat di mana dia menurunkan Riena beserta Retno dan Rosyani tadi.


Raditya memperlambat langkah kakinya. Tepat berada di seberang ruangan Riena berada, tampak Retno dan Rosyani duduk berdampingan di atas bangku besi panjang. Kedua perempuan tersebut menampakkan kesedihan bercampur dengan kekhawatiran yang amat kentara.


"Apa saya harus menghubungi papanya Riena, dhek? Tapi saya takut Mas Rasyid malah kaget dan akan berpengaruh pada kondisi kesehatannya. Seperti yang Dhek Retno ketahui, baru dua bulan yang lalu Mas Rasyid menjalani operasi pemasangan ring jantung. Saya takut menyampaikan kabar seberat ini." Tatapan mata Rosyani tampak sayu.


Retno mengambil napas begitu berat. Paham benar dilema yang berkecamuk dalam diri besannya. Menempatkan diri di posisi yang sama, dia pun akan merasakan kebingungan, kekhawatiran dan kesedihan serupa.


"Maafkan Radit, ya, Mbak. Andai saja Radit bisa menjaga Riena dengan baik. Andai Radit tidak membiarkan Riena pergi sendirian, An---,"


"Sudah, Dhek. Tidak perlu berandai-andai lagi. Menyesal pun percuma. Semua tidak akan menghapus apa yang sudah terlanjur terjadi. Riena tidak butuh kata andai atau penyesalan untuk kembali pulih. Riena butuh kekuatan, keikhlasan dan doa kita. Saya tidak mau menyalahkan Radit atau siapa pun. Tidak akan ada satu hal pun yang berlaku di atas muka bumi ini kecuali atas izin Allah."


"Jangan katakan maaf lagi, Dit. Maaf tidak menyembuhkan luka batin Riena. Ini tanggung jawab kita bersama. Biar Allah yang ulurkan tangan untuk membantu kita melewati cobaan ini. Berhenti menyalahkan diri sendiri. Sedalam apa pun penyesalan, yang sudah terlanjur hilang pada diri Riena tidak akan kembali. Biar waktu yang memulihkan." Rosyani beranjak berdiri dengan cepat begitu menyadari seorang perawat keluar dari ruangan pemeriksaan Riena.


Retno melakukan hal yang sama. Menyadari alasan kenapa Rosyani dan Retno mengabaikannya, Raditya pun turut berdiri dan mendekati si perawat.


"Bagaimana kondisi istri saya, Sus? Apa dia sudah siuman?" tanya Raditya, jelas menunjukkan ketidaksabaran.

__ADS_1


"Alhamdulillah sudah, Pak. Tapi beliau berpesan tidak ingin ditemui siapa-siapa. Kami juga masih menunggu hasil pemeriksaan darah."


Kalimat sederhana yang diucapkan oleh suster barusan, membuat Rosyani, Retno dan Raditya saling bertukar pandang.


"Ma, temui Riena. Riena butuh mama. Biar Radit di luar. Sendiri hanya akan membuat Riena semakin merasa orang lain hanya menerimanya karena kasihan. Radit yakin, tidak ada seorang anak yang tidak bisa merasakan kasih sayang tulus dari ibunya. Dalam kondisi apa pun, kasih mama pasti sanggup menguatkan." Suara Raditya bergetar saat mengatakannya pada Rosyani.


Dengan sedikit perdebatan, akhirnya perawat mengijinkan Rosyani masuk ke dalam ruangan. Di sana, perempuan tersebut mendapati Riena sedang menatap kosong ke arah dinding sisi kanannya.


"Allah tidak memberikan kesedihan diluar kesanggupan hambaNya. Pertolongan Allah akan datang tepat pada waktunya. Allah sedang meminjam pundakmu untuk menunjukkan Dialah Sang Maha Penentu. Kita semua sedang ditegur, Rien. Betapa kita mampu dan memiliki segalanya, tidak secuil pun harta dan kemampuan kita yang kuasa membalikkan takdirNya semau kita." Suara dan sentuhan lembut Rosyani yang jatuh tepat di lengan Riena, membuat istri Raditya itu menoleh.


"Ma." Riena meraih tangan mamanya dan membawa tangan itu dalam genggamannya. Tidak ada lagi kata-kata yang terucap dari bibir keduanya.


Sementara itu, pada waktu yang sama, di tempat yang berbeda, Rino yang sedang berdua saja bersama Reno kembali bersitegang.


"Anggap aku percaya kalau malam itu bukan kamu yang menikmati tubuh Riena. Lalu siapa?" tanya Reno dengan suara kesal yang tertahan karena takut ada orang lain, terutama Ratih turut mendengar pembicaraan mereka.


"Aku tidak tau siapa dia, Ren. Sungguh ... Aku hanya bisa mengenali wajahnya, tidak dengan nama atau pun di mana dia bekerja. Sampai detik ini aku juga masih mencari siapa dia sebenarnya."


Reno berjalan mendekati jendela kaca ruang kerjanya yang menunjukkan sisi luar dan berhadapan langsung dengan taman samping rumah Riena. Tembok pembatas di antara lahan keduanya yang hanya tiga meter memungkinkan masing-masing bisa melihat sebagian sisi dari rumah tetangganya.

__ADS_1


"Aku yakin dia orangnya. Selain aku, hanya dia yang menginginkan kehancuran Radit lebih dari apa pun. Aku harus memastikan, kali ini dia tidak kembali muncul dan merusak rencanaku lagi," ucap Reno disertai seringai licik.


"Dia siapa, Ren?"


__ADS_2