Penjara Luka

Penjara Luka
Part fivty three


__ADS_3

Perut Raditya tiba-tiba kembali bergejolak. Rasa ingin muntah tidak tertahankan kembali menghampiri. Buru-buru Raditya berlari mendekati wastafel yang berada tidak jauh dari mushola. Perutnya masih kosong belum berisi makanan apa pun, sehingga hanya cairan tanpa sisa-sisa makanan yang keluar dari mulut pria tampan berkulit putih itu.


Riena yang baru keluar mushola segera menghampiri Raditya. Tangannya reflek memijat tengkuk leher sang suami. Kekhawatiran jelas terlihat diwajahnya.


"Ini bukan masuk angin biasa. Lambungmu pasti kambuh, Ay. Bawa obatnya tidak?" tanya Riena dengan tangan kanan yang terus bergerak memijat.


Raditya menggeleng pelan. Lalu membasuh mulut dan wajahnya supaya segar kembali. Setelah merasakan tangan Riena sudah tidak lagi menyentuh lehernya, Raditya pun berbalik badan sehingga bisa berhadapan dengan sang istri kesayangan. "Sudah dua kali diperiksa dokter, Bee. Obat juga sudah diminum sampai habis. Bahkan kemarin juga dikasih obat dengan dosis tinggi. Tapi gak ada efek. Masih begini terus."


"Ke rumah sakit saja, Ay. General check up. Mau aku antar?"


Raditya terkesiap. Sama sekali tidak menyangka Riena menawarkan demikian. Mungkin bagi orang lain hal itu lumrah dan wajar dilakukan seorang istri untuk suaminya. Namun, tentu tidak bagi Raditya. Sudah lama perhatian-perhatian sederhana ini dia rindukan.


"Kita sarapan dulu, setelah itu kita general check up." Tanpa sadar Riena menarik pergelangan tangan Raditya. Mengajak suaminya itu menuju ruang makan.


Rosyani, Retno, Rinto dan Rama yang sedang bersantai di ruangan keluarga, hanya bisa saling bertukar pandang menyaksikan Riena dan Raditya yang melewati mereka dengan bergandengan tangan tanpa mengindahkan semua yang ada di sana.


"Mbak, ini saat yang tepat. Ayo!" ajak Retno dengan suara berbisik.


Rosyani pun mengangguk. Lalu dia memberikan kode pada besannya itu untuk berdiri. Belum sampai kedua perempuan itu melangkahkan kaki. Suami mereka kompak bertanya, "mau kemana?"


"Ada sedikit urusan," jawab Retno sembari mengedipkan mata ke arah Rosyani.


"Kamu kenapa, Ma? Kelilipan?" tanya Rama.

__ADS_1


"Kalau sudah begini, pasti kalian punya rencana. Jangan macam-macam. Biarkan Riena dan Raditya menyelesaikan masalah mereka sendiri," ucap Rinto yang tentu saja paham betul gelagat sang istri dan besannya.


"Menyelesaikan masalah mereka sendiri? Papa enak ngomong begitu. Mereka anak-anak kita. Ada kalanya doa saja tidak cukup membuat keadaan menjadi membaik. Kita harus sedikit turun tangan. Ingat, Pa, apapun yang terjadi, mama tidak mau ada perceraian di antara mereka. Setiap bayi terlahir suci, tapi ketika ia tumbuh dewasa, ia akan berjalan menuju jalan dosa dan kebaikannya sendiri. Bagi mama, seorang pendosa yang mengakui, menyesali dan memperbaiki kesalahannya, jauh lebih baik dari seseorang yang tidak menyadari bahwa sendirinya juga pernah melakukan dosa yang sama," Rosyani menimpali ucapan Rinto dengan panjang lebar. Keberaniannya kali ini muncul, mengingat sikap suaminya yang terlalu menekan Raditya harus sempurna.


Rinto hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengar perkataan Rosyani. Dia tidak lagi menghalangi langkah istrinya itu. Begitu pun dengan Rama. Bisa dibilang, kedua pria tersebut sudah enggan menentang dan berdebat kalau tekad ibu-ibu sudah bulat.


Di meja makan, Riena dan Radit duduk berdampingan. Sementara Riena sibuk mengambilkan nasi dan lauk di atas meja, Raditya malah sibuk menahan rasa mual dan pusing karena aroma taburan bawang goreng di atas kuah sop iga yang masih mengepulkan uap panasnya.


"Cukup segini atau mau ditambah, Ay?" tanya Riena sembari meletakkan sepiring nasi lengkap dengan lauk perkedel dan supnya.


Raditya benar-benar merasa serba salah. Menolak---pasti akan membuat Riena tersinggung. Menerima---apa yang terlihat di depannya bahkan seperti tulang yang sedang dikerubuti segerombolan rayap.


"Ay, kamu kenapa? Aku bau, ya?" Riena mengendus baju dan bagian ketiaknya sendiri. Mengira Raditya menutup hidung dan mulut karena dirinya.


"Dit ... mama mau ngomong sama kamu." Rosyani sengaja menepuk punggung menantunya dengan kuat.


Sensasi kaget dan sakit membuat sesuatu yang tertahan di mulut Raditya menyembur tidak terkendali. Untung saja dia masih bisa mengarahkan mulutnya ke bawah. Hingga semburan itu hanya mengenai celana di bagian pahanya sendiri.


"Astaghfirullah, Radit! Jorok sekali! Kamu belajar sopan santun darimana?" Bukannya khawatir dengan kondisi Radit. Retno malah menjewer telinga putra tunggalnya itu.


"Jangan dimarahi, Ma. Mas Radit sepertinya benar-benar tidak enak badan," bela Riena sembari menatap wajah suaminya yang tengah bersemu merah karena malu. Untuk yang kedua kalinya dia berbuat konyol sepagi ini.


"Oh, kamu nggak enak badan? Wah pas sekali mama masak sop buntut. Sini makan yang banyak. Habis itu minta dikerokin sama Riena. Pasti enakan." Lagi-lagi Rosyani memang sengaja memancing perkara. Kecurigaan akan hamil simpatik pada Raditya semakin menguat manakala dia mengangkat piring berisi makanan yang sudah disiapkan Riena dan mendekatkannya pada Raditya yang ingin berdiri karena sudah risih dan jijik dengan muntahannya sendiri.

__ADS_1


"Baunya nggak enak, Ma." Raditya mendorong piring tersebut lalu berlari menuju lantai atas.


Rosyani pura-pura bersedih atas perkataan Raditya barusan. Dia jelas sedang memainkan peran dadakannya. Skenario awal seharusnya tidak begini. Tetapi beginilah ibu-ibu, begitu pandai berimprovisasi. Sedikit saja ada celah, harus dimanfaatkan untuk tujuannya sendiri.


"Maafkan sikap Radit yang tidak sopan, ya, Mbak." Retno mewakili Raditya langsung meminta maaf pada Rosyani. Dia mengira kesedihan besannya sekarang, nyata adanya.


"Masak susah-susah, malah dibilang baunya nggak enak. Kalau nggak suka, ya mbok diem aja." Rosyani memberikan kode pada Retno dengan menyenggol lengan perempuan itu dengan sikunya.


Retno pun seketika tersadar. Keberadaan Riena yang tampaknya juga serba salah, membuat Retno harus berpikir cepat agar rencana mereka kali ini berhasil. Jelas Riena dilema, harus menyusul sang suami yang dikiranya sedang tidak sehat ataukah meredam emosi mama nya yang sudah pasti tersinggung dengan kelakuan suaminya barusan.


"Kalau memang benar Radit sakit. Kita ke dokter sekarang juga. Tidak ada tapi-tapi. Ini dokter kenalan mama. Kita berangkat sekarang juga." Rosyani lalu berteriak memanggil salah satu asisten rumah tangganya dan meminta perempuan paruh baya itu untuk memanggil Raditya agar segera turun.


Tidak lama, Raditya pun turun dengan celana yang sudah berganti. Sementara Retno memanggil Rama dan Rinto untuk ikut serta juga. Bersama-sama mereka menaiki satu mobil menuju tempat praktek dokter yang dimaksud Rosyani.


Di sana, hampir semua mengernyitkan kening penuh tanya kecuali Retno dan Rosyani sendiri tentunya. Karena kedua perempuan itu jelas sudah paham permainan mereka kali ini.


"Ma, ini dokter apa, sih? Kok nggak ada papan nama dan gelar profesinya?" tanya Riena.


"Sudah kita turun saja!" ajak Rosyani.


Semua orang turun dan mengikuti langkah Rosyani. Untuk sesaat, mereka seakan melupakan masalah yang belum usai. Terutama Riena, sejenak dia tanggalkan trauma karena kekhawatiran akan kondisi Raditya. Bukan tanpa alasan, diam-diam, dia merasakan nyaman ketika berada di dekat suaminya.


"Silahkan masuk, Bu Ros. Jadi siapa duluan yang mau diperiksa?" tanya dokter pria seusia Rinto. Langsung menyambut ramah tetapi tanpa basa basi.

__ADS_1


__ADS_2