Penjara Luka

Penjara Luka
Part fourty one


__ADS_3

Raditya mengambil ponsel milik Rama, lalu dia beringsut perlahan mengubah posisi badannya menjadi setengah duduk dan bersandar di sandaran ranjang. Awalnya, satu tangan Raditya masih sibuk memijat pelipis kepalanya sendiri. Namun, beberapa detik kemudian, pria tersebut menegakkan duduknya. Tangannya gesit menghapus semua foto yang dilihatnya. Matanya mulai memerah, pertanda kemarahan sudah merasuki jiwanya.


Rasa mual dan pusing yang tadinya dominan terasa, mendadak menghilang. Raditya turun dari ranjang, mengambil ponsel di dalam laci nakas dengan gerakan kasar. Dia langsung mengaktifkan ponsel tersebut dan menghubungi seseorang. Tidak ada luka dan kemarahan yang bisa melebihi murkanya saat ini. Manakala dia melihat jelas bagaimana seorang pria menindih tubuh istrinya dalam keadaan tidak berbusana.


Mendengar cerita singkat dari Riena saja Raditya sudah menyesakkan dada dan menampar jiwa. Apalagi sekarang dia malah melihat secara langsung bukti kekejihan itu. Meski hanya sekadar potret, tetapi sanggup membuat Raditya lebih dalam merasakan penyesalan mendalam karena ketidaksanggupannya menjaga sang istri dengan baik.


"Aku tidak mau tau, bagaimanapun caranya, segera take down semua foto yang terupload di media sosial!" perintah Raditya pada orang yang dihubungi dengan ketegasan yang diliputi amarah. Raditya langsung memutuskan sambungan telepon sesaat setelah dia mendengar kesanggupan dari lawan bicaranya.


Setelah itu, dia terlihat kembali menghubungi seseorang. "Siapkan pers conference di lobby kantor kita. Undang semua media untuk datang satu jam dari sekarang!" perintah Raditya. Lagi-lagi dia langsung memutuskan sambungan telepon.


"Mama dan papa berangkat dulu ke Malang. Radit akan segera menyusul ke sana setelah masalah ini beres," pinta Raditya sembari melangkah ke arah kamar mandi.


"Tapi, Dit ...." Retno tampak gamang. Meski sebelumnya dia dan sang suami sudah berencana pergi ke malang, tetapi meninggalkan Raditya dalam kondisi seperti sekarang sendirian, dia pun juga tidak tega.


"Riena lebih membutuhkan dukungan mama dan papa. Radit bisa mengatasi keadaan di sini sendirian. Percayakan saja semua pada Radit."

__ADS_1


Retno menggangguk pelan. Terlintas rasa bangga pada Raditya. Di luar kisah masa lalunya yang kelabu, kesungguhan yang ditunjukkan Raditya untuk memperbaiki diri sudah sangat maksimal.


"Kita turuti saja apa kata Radit, Ma. Papa yakin dia sudah tau apa yang harus dilakukan." Rama merangkul pundak sang istri. Memahami benar dilema seorang ibu manakala anaknya menghadapi cobaan besar.


Sementara Radit melalui orang kepercayaannya bergerak cepat untuk menghadapi masalah yang sedang dihadapi. Tidak demikian dengan Reyhan. Pria itu justru sedang tidak bisa bergerak bebas. Dalam sekejap reputasi baik yang dibangunnya runtuh. Saham perusahaannya mendadak anjlok pada titik terendah karena sebagian besar investor langsung mengumumkan pembatalan kerjasama. Pria tersebut terlihat begitu kacau. Dia sama sekali tidak menduga ada orang yang berani bermain-main dengan dirinya. Sungguh nyali yang cukup besar. Bukan hanya menantang dirinya---sosok yang belum dia ketahui itu, jelas juga sedang mengibarkan bendera perang pada Raditya. Siapa pun yang menyebarkan foto dengan caption yang menegaskan perbuatan keji dirinya kepada Riena, tentu tidak akan dibiarkan begitu saja.


"Bagaimana? Apa kalian sudah tau siapa pelakunya?" tanya Reyhan melalui sambungan telepon selular.


Seseorang yang dihubunginya terdengar memberikan informasi yang sedikit panjang. Raut wajah Reyhan semakin memerah. Pria tersebut meraup wajahnya dengan kasar disertai helaan napas berat. Satu tangannya mengepal sempurna. Dengan penuh luapan emosi, Reyhan melayangkan kepalan tangannya pada meja kerja berbahan kaca di depannya. Tetesan darah segar mengalir di sela-sela jemarinya.


Lagi-lagi Reyhan menghubungi seseorang. Kali ini dia meminta pengawalan dalam perjalanannya menuju suatu tempat. Dia tidak menyebutkan secara jelas di mana tempat itu berada. Hanya saja, sayup-sayup tertangkap indera pendengaran nama Ramona disebut. Pria tersebut keluar dari ruangan tanpa memedulikan kondisi tangannya. Perih dan darah mengucur akibat luka di kepalan tangannya sama sekali tidak mencegah niatnya untuk mencari celah untuk menyelamatkan diri.


"Di mana dia?" tanya Reyhan pada orang kepercayaan yang menunggu salah satu rumah milik keluarganya tersebut.


" Ada di Kamar belakang, Pak," jawab pria berperawakan tinggi besar itu.

__ADS_1


Reyhan langsung menuju kamar yang ditunjuk oleh si penunggu rumah tadi dengan tidak sabar. "Sekarang ceritakan padaku, siapa Rino?"


Sosok perempuan yang sedang duduk di bangku kayu jati dengan kondisi tangan dan kaki terikat itu seketika menengadahkan wajahnya. Sosok yang tidak lain tidak bukan adalah Ramona---melemparkan senyuman sinis seakan menertawakan apa yang menimpa Reyhan saat ini.


"Bukankah kamu bisa mencari tahu sendiri? Kenapa harus bertanya sampai harus membawaku ke sini?" Kali ini Ramona menunjukkan keberaniannya. Sekian lama dia menunggu, akhirnya saat ini tiba juga. Selangkah lagi, dia akan mendapatkan kehidupan normalnya kembali. Terlepas dari Reyhan dan juga dari sosok yang selama ini banyak memberikan tekanan batin pada dirinya.


Sementara itu, di waktu yang sama, Raditya sudah sampai di pintu belakang gedung perkantoran di mana kantornya berada. Dia sengaja memilih masuk melelalui pintu belakang karena media sudah berjejal menunggunya di lobby. Meski dia sendiri yang mengundang, tentu dia tidak ingin kedatangannya langsung diserbu dengan berbagai pertanyaan.


"Kita langsung atau bagaimana, Pak?" tanya sang asisten.


"Yup ... setelah press conference selesai, saya akan langsung ke kantor polisi. Urus semua pekerjaan sampai beberapa hari ke depan. Perhatikan apa yang saya sampaikan nanti. Dan jika besok-besok ada klien yang bertanya, jawablah sesuai dengan yang saya ucapkan. Tidak lebih, juga tidak kurang." Raditya mengatakannya sembari terus berjalan ke arah lobby.


Sementara itu, Riena yang sedang berjalan ke dapur bersama Rosyani, tiba-tiba menghentikan langkahnya begitu melewati ruang tengah yang biasanya memang digunakan Rinto untuk bersantai menyaksikan acara berita di televisi. Tidak sengaja mata dan telinga Riena menangkap informasi yang langsung menarik perhatiannya.


"Duh, papamu ini memang kebiasaan. Kenapa selalu saja membiarkan TV menyala begini. Buang-buang energi saja." Rosyani buru-buru bergerak mengambil remot kontrol, berniat ingin menekan tombol off. Namun, Riena lebih cepat mengambil benda tersebut.

__ADS_1


"Ayo, Rien. Katanya pengen bikin sambal tomat sama sayur singkong. Ayuk!" ajak Rosyani berusaha mengalihkan perhatian Riena dari layar televisi yang sedang menyajikan situasi terkini dari lobby kantor Raditya yang sesaat lagi akan memulai press conference-nya.


Mengabaikan kata-kata Rosyani, Riena malah menaikkan volume televisinya. "Itu Mas Raditya. Ada apa? Kenapa Mas Raditya sampai harus menerima media ke kantornya?" tanyanya dalam hati.


__ADS_2