
Di luar dugaan Raditya, Riena malah mengulas senyuman hangat pada sosok perempuan yang menyapa sekaligus menyambut mereka dengan kata-kata yang tidak semestinya diucapkan untuk menunjukkan sebuah empati.
"Tidak, Bu. Buat apa saya pergi jauh-jauh ke luar negeri? Masalahnya ada di sini. Sejauh apa pun saya berlari, hati saya tetap melekat di sini. Kalau memang ada cara yang bisa dilakukan untuk lari dari kenyataan, tentulah ketika hati ini sudah tidak sebadan dan sepemikiran dengan saya. Kemarin-kemarin saya pernah mencoba pergi jauh dan menghindar dari sesuatu yang seharusnya saya hadapi dengan berani. Nyatanya masalah itu tidak juga terselesaikan. Lari hanya menambah durasi masalah menjadi semakin lama dan dalam bertahan di hati kita." Riena mengatakannya sembari menunjuk dadanya sendiri.
Raditya mengucap syukur dalam diam. Tidak hentinya ucapan terimakasih ia tujukan pada Sang Maha Pencipta lewat bacaan takbir dalam hati. Sedasyat apa pun badai yang telah menerpa keluarganya, limpahan kebahagiaan rupanya sudah menunggu di depan mata. Ujian yang terasa berat, sejatinya sudah ditakar sesuai kemampuan hambanya. Tidak kurang atau pun berlebihan seperti yang tertuang dalam surat Al Baqarah ayat 286. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Seseorang mendapatkan pahala dari kebaikan yang diusahakan. Dan sebaliknya, seseorang juga akan mendapatkan balasan dari setiap kejahatan yang dilakukan.
Riena dan Raditya hanya semalam tinggal di rumah pasangan yang merawat sawah mereka. Di hari berikutnya, Riena benar-benar menagih janji pada Raditya untuk memberikan daftar nama perempuan yang pernah berhubungan dengan suaminya itu. Hati Riena maupun Raditya, jelas tidak baik-baik saja saat harus mencari informasi tentang mantan. Meski demikian, keduanya sama-sama berkomitmen untuk menuntaskan semua agar bisa segera memulai hidup baru tanpa bayangan masa lalu.
"Bee, kamu yakin bakalan ikut? Kamu harus banyak istirahat. Nanti kalau kecapekan, kasihan kamu dan janinmu," ucap Raditya. Di samping ingin mencari celah untuk tidak berlama-lama dan banyak basa-basi saat meminta maaf, dia juga mengkhawatirkan kondisi fisik dan psikis Riena.
"Aku cuman sedang hamil, Ay. Bukan pesakitan yang harus banyak berbaring di atas ranjang. Sudah jangan banyak alasan. Bilang saja nggak mau diganggu kalau lagi ngobrol sama mantanmu," jawab Riena, tentu dengan nada dan raut wajah ketus yang tidak dibuat-buat.
Raditya seketika dibuat tidak bisa berkutik lagi. Niat baik sekali pun akan tetap dipandang ada tujuan tidak baik kalau perempuan sudah menarik kesimpulan sendiri. Acara meminta maaf pun dimulai hari itu juga. Satu per satu alamat didatangi, sambutan hangat selalu diterima Raditya dan Riena. Dari hari pertama hingga sekarang hari ke tujuh, belum satu pun dari sepuluh orang yang didatangi Raditya yang menyambut kedatangan mereka dengan tidak ramah. Tentu saja karena memang di antara nama-nama itu, hubungan Raditya hanya sekedar dekat dan berkencan biasa tanpa dibumbui cinta satu malam di atas ranjang.
"Ay, untuk Rena, kita ke makamnya saja, yuk!" saran Riena sembari membaringkan badan di atas kasur empuk miliknya. Setelah seharian bepergian ke beberapa tempat, lelah juga badannya.
"Makam Rena Ada di Bali, Bee. Apa kita harus kesana? Aku rasa tidak perlu. Kita, terutama kamu, sudah membayar mahal kesalahanku. Kita bisa doakan Rena dari sini."
__ADS_1
Riena terdiam. Bali---pulau yang merupakan salah satu bukti kemurahan Tuhan di bumi pertiwi. Kekayaan budaya dan keindahan alamnya sungguh mempesona. Namun, sejak peristiwa kelam yang menimpanya, Bali tidak lagi semenarik itu bagi Riena. Bahkan dia sudah memutuskan untuk tidak akan lagi menginjakkan kaki ke pulau tersebut.
"Atau mau ketemu Reno saja? Sebenarnya aku tidak ingin menawarkan hal ini. Jelas banget dia suka sama kamu." Raditya ikut membaringkan badan di samping Riena.
"Reno sudah tidak ada di sini, Ay. Ratih bilang, Reno sedang mengusahakan perceraian mereka secara agama."
"Dia berangkat sendiri ke Vatikan?"
Riena hanya menjawab dengan sebuah cebikan bibir yang menandakan dia tidak tahu menahu akan hal yang ditanyakan Raditya.
"Kamu bisa bicara seperti itu karena bukan kamu yang merasakan cinta Ratih pada Reno, Bee. Hal yang sama mungkin sedang orang lain bicarakan di belakangmu. Tentang kamu yang memilih kembali bersama suami yang sudah membuat hidupmu hancur, merasakan depresi dan juga kehilangan kehormatan. Suami yang tidak menjagamu dengan baik, tetap kamu pertahankan. Bagi Orang lain, bisa saja itu bodoh."
Riena terdiam sembari menatap lekat pada Raditya. Helaan napasnya tampak sedikit berat dan dalam. Semakin lama, tatapannya semakin sendu dan sayu. Bening matanya berkabut genangan bening yang siap menetes membasahi pipi kapan pun ia berkedip.
"Terimakasih sudah membuatku jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama. Jalan kita masih panjang. Redanya sebuah badai tidak menjamin bahwa ke depan tidak akan ada badai lagi yang menerpa. Tapi berjanjilah, kita akan tetap bersama saling menguatkan dan mengingatkan. Tetaplah jadi leherku, biar kepalaku bisa bergerak terarah pada kebenaran."
Riena perlahan menggeser badannya mendekati Raditya. Dengan kesadaran penuh, ia menempelkan kepalanya di dada sang suami. Bulir bening akhirnya jatuh tidak terkendali. Tidak hanya membasahi pipi putih mulus Riena, tetapi juga baju bagian dada Raditya.
__ADS_1
"Bagiku kamu bukan hanya sekedar istri. Lebih dari itu, kamu adalah penolongku. Aku tau betapa tidak mudahnya menjadi kamu beberapa bulan terakhir ini. Sulitnya kamu berjuang keluar dari traumamu sungguh membuatku tidak berdaya. Ingin kuambil sedikit saja lukamu, tapi tentu saja tidak bisa. Ketidakberdayaanku membuatku sempat merasakan betapa aku memang tidak pantas menjadi pendampingmu. Tetapi rasa cinta yang begitu besar, menyadarkanku bagaimana cara memantaskan diri untukmu."
Riena semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Raditya. Tangannya melingkari pinggul Raditya dengan posesif. Sementara kaki perempuan cantik tersebut menggunakan bagian paha Raditya sebagai guling. Kehangatan terasa tidak hanya sekedar karena adanya sentuhan fisik semata. Tetapi juga karena kata dan tatapan Raditya pada perempuan yang tengah mengandung buah pernikahan mereka itu begitu sarat akan rasa cinta yang mendalam.
"Aku belum sepenuhnya pulih. Aku hanya sedang berusaha kembali pada Jalan kehidupanku yang benar. Sekarang, kehidupan yang kita jalani bukan hanya sekedar tentang kita. Tapi ada kehidupan lain di sini." Riena menuntun tangan Raditya untuk mengusap perutnya.
"Sehat-sehat, ya, Bu. Biar Bapak yang mual-mual. Nanti pas lahiran, biar Bapak juga yang rasain sakit." Raditya berbicara mewakili suara janin di dalam kandungan Riena.
"Aku nggak mau mengaminkan. Karena Aku juga pengen ngerasain mual dan sakit. Karena ini akan menjadi kehamilan pertama dan terakhirku."
Raditya memaksakan senyumnya ketika mendengar ucapan Riena. Jauh di dasar lubuk hatinya dia ingin memiliki banyak anak. Bercermin pada dirinya dan juga Riena sendiri yang merupakan anak tunggal, dia acap kali berandai-andai mempunyai beberapa anak tentu akan membuat rumahnya selalu ramai. Namun, dia memilih untuk diam tidak menanggapi karena tidak ingin merusak suasana.
Tidak ada lagi kata yang terucap dari bibir Raditya atau pun Riena. Perlahan keduanya memejamkan mata masing-masing. Mengacuhkan raga yang mendamba sentuhan---saling bertukar kehangatan hanya dalam dekapan pengantar tidur.
Badai dalam kehidupan tidak akan pernah benar-benar berakhir selama raga masih bernyawa. Satu babak cerita usai, maka akan ada babak cerita baru dimulai. Hingga Tuhan mengatakan, "pulanglah dalam keabadian". Maka berakhir pula sebuah perjalanan pendek tentang sedih dan bahagia yang tak kekal.
________________End________________
__ADS_1