Penjara Luka

Penjara Luka
Part thirty eight


__ADS_3

"Untuk apa, Rien?" Dalam benak Rosyani langsung terlintas hal yang tidak-tidak. Karena saudara kandung laki-lakinya itu adalah pengacara yang lebih banyak menangani kasus perceraian ketimbang kasus yang lain.


"Rien, jangan mengambil keputusan disaat hatimu sendiri sedang gamang. Bagaimanapun masa lalu Raditya, tetap pertimbangkan semuanya matang-matang. Perempuan yang sedang hamil, tidak boleh meminta talak suaminya. Satu hal yang harus kamu ingat, Rien, seburuk-buruknya masa lalu Raditya, saat menjadi suamimu, dia sudah menunjukkan tanggungjawab, kesetiaan dan kesabaran yang luar biasa. Jalan dosa yang ditempuh Raditya mungkin sangat terjal, tetapi pantaskah kita ikut menghakimi dia?"


Rosyani menggenggam erat jemari Riena yang terus menundukkan wajahnya. Meski dia sendiri sangat kecewa dengan Raditya, tetapi Rosyani berusaha untuk tetap berpikir tenang. Berkaca pada kisah masa lalu sang suami yang juga seorang Don Juan, dia pun mencoba merendahkan hati untuk memahami kondisi Raditya saat ini.


"Apa yang menimpamu mungkin terjadi karena Radit. Karena kalian memang suami istri, Rien. Ujian datang untuk menempa kalian berdua. Bukan dikhususkan hanya untuk salah satu dari kamu atau Radit. Hadapi bersama dulu. Jika memang nantinya kamu tidak bisa bertahan, setidaknya kamu sudah pernah mencoba memberi kesempatan. Ketika hatimu memang sudah tenang dan tetap mengatakan tidak sanggup, maka tinggalkan."


Perlahan Riena mengangkat wajahnya. Dengan tatapan sendu, dia membalas tatapan mata Rosyani yang begitu penuh kasih. Dalam hati Riena mengucap syukur. Betapa beruntungnya dia dilahirkan oleh seorang perempuan seperti Rosyani.


"Rien malu, Ma. Malu kenapa Rien tidak setegar dan sebaik mama," ucap Riena dengan suara lirih.


"Kamu bisa, Rien. Bahkan kamu lebih hebat dari mama. Kalau mama berada di posisimu, belum tentu mama sanggup. Rien ... sampai Rien sebesar ini, mama belum pernah meminta apa-apa sama Rien. Sekarang, apa boleh mama memohon sesuatu sama Rien?" Rosyani begitu hati-hati saat menanyakan hal tersebut.


"Apa, Ma? Memang apa yang bisa Rien lakukan dalam keadaan seperti ini?" Riena balik bertanya.

__ADS_1


"Mama hanya minta kamu berpegang sama Iman dan menyandarkan diri sepenuhnya pada Allah. Kembalikan semua pada nilai-nilai yang ada pada ajaran keyakinan kita. Benar salah dalam penilaian manusia itu sangat bergantung pada siapa yang sedang menilai kita. Tapi benar salah dalam tuntunan iman kita itu mutlak tidak terbantahkan. Bacalah Al'quran, Rein. Cari petunjuk dan ketenangan hati di sana."


Riena menganggukkan kepala sembari mengulas senyuman tipis. Dia lalu memeluk Rosyani dengan erat. Memang benar apa yang dikatakan kebanyakan orang, sedewasa apa pun seorang anak, dekapan ibu adalah tempat ternyaman sekaligus terhangat. Dan sebaliknya, setua apa pun usia si anak, bagi seorang ibu dia tetaplah seorang anak yang selalu ingin dilindungi dan dimanjakan.


Di tempat yang berbeda, Reyhan yang mendapatkan laporan tentang kondisi Ramona, segera meluncur ke rumah mantan kekasihnya tersebut. Tidak seperti yang diterangkan Ramona, dia sama sekali tidak pernah menikahi perempuan tersebut. Dia mengambil alih hak asuh Reva karena dia merasa prihatin dengan kondisi bayi kecil yang terlantar karena kondisi kejiwaan Ramona saat itu sungguh sangat kacau. Reyhan tidak sampai hati karena Reva selalu dijejali cerita dan foto-foto Raditya setiap kali dia mempertemukan Reva dengan Ramona.


****


Hari ini sepertinya memang menjadi hari yang penuh kejutan bagi sebagian orang. Demikian juga yang sedang dialami oleh Ratih. Saat dia pulang dari rumah sakit tempat dinasnya yang baru, perempuan itu langsung disambut dengan kehadiran Rino.


"Loh, No, kamu nggak ke luar kota sama Mas Reno? Bukannya kalian ada survey proyek di Surabaya?" Ratih menjadi bertanya-tanya karena suaminya mengatakan pergi bersama Rino saat berpamitan.


"Aku ada urusan mendadak di sini, jadi terpaksa Reno pergi duluan. Oh, ya, Tih, aku ingin mengambil berkas di ruang kerja Reno."


Setelah melihat Ratih menganggukkan kepalanya, Rino segera bergerak menuju ruangan yang dimaksud. Selain menghindari pertanyaan Ratih lebih jauh, dia juga sedang dikejar oleh sesuatu. Tidak banyak yang tahu apa yang sebenarnya dikerjakan Rino di luar pekerjaan bersama Reno. Terlihat lebih kalem dan tidak seambisius saudara kembarnya, memberikan keuntungan tersendiri bagi Rino.

__ADS_1


Memasuki ruang kerja Reno, dia langsung membuka brankas bersama. Bukan uang atau perhiasan berharga yang ada di dalam sana, tetapi sesuatu yang sanggup menghancurkan nama baik seseorang. Hanya dia dan Reno yang tahu pasword dari brankas tersebut.


"Maaf, Ren! Kali ini aku harus mengkhianatimu. Sudah saatnya aku terlepas dari bayang-bayangmu. Tidak selamanya kamu yang terus berkuasa. Aku akan membantu Riena lepas dari Raditya dengan caraku. Aku sadar diri, tidak ada di antara kita yang pantas mendapatkan dia. Setidaknya, aku akan memperbaiki kesalahan yang memang aku sengaja," gumamnya pada diri sendiri.


Sementara itu, Reno sendiri setelah makan malam memilih untuk berpamitan pada keluarga Riena. Pria tersebut sungguh pintar membuat dirinya mendapatkan nilai baik di depan semua orang. Apa yang Reno lakukan, mengesankan jika dia memang tulus dan tidak sedang memanfaatkan keadaan.


Di tempat lain, tepatnya di kediaman Raditya. Pria tersebut tampak menumpahkan semua isi perutnya di wastafel. Mual dan pusing tidak tertahankan tiba-tiba melanda setelah dia menunaikan sholat isya. Tubuhnya terasa lemas, bahkan saat Retno menyodorkan air putih hangat untuknya, Raditya sudah tidak kuasa menerima gelas itu.


"Kita panggil dokter saja. Ini pasti karena kamu stres. Makanya asam lambung naik. Bilang sama penyakitmu, datangnya nanti-nanti saja. Masih banyak urusan yang harus kamu selesaikan. Fisik dan mentalmu harus kuat," ucap Rama sembari memijat pundak Raditya. Meski kesal, tentu dia tidak akan membiarkan putra satu-satunya itu mengahadapi semua sendirian.


"Nggak usah, Pa. Radit minum obat seperti biasa saja terus tidur sebentar pasti enakan," tolak Raditya sembari berusaha menegakkan badannya.


"Ya sudah, sana. Kalau sudah enakan, ada yang harus kita bicarakan. Asal kamu tau, orangtua Riena sudah tau semua masa lalumu. Lusa, Pak Rinto minta papa datang ke Malang."


Kepala Raditya semakin terasa berat. Dengan gontai dia keluar dari kamar mandi yang mendadak terasa sempit dan pengap. Retno dan Rama kompak memapah anaknya itu hingga sampai mendekati ranjang.

__ADS_1


"Terimakasih, Ma, Pa. Tolong tinggalkan Radit sendirian," pintanya dengan suara yang sangat tidak bertenaga.


"Jangan cengeng, Dit. Ada Riena yang menunggumu datang membawa kebenaran dan penjelasan. Jangan terlalu lama membiarkan Riena menduga-duga sendiri."


__ADS_2