
Tak lama berselang, mobil yang ditumpangi oleh Devia dan juga Rivaldo, kini telah sampai di depan sebuah rumah yang sangat megah dan juga mewah. Sejenak, Devia merasa sangat terkagum-kagum melihat pemandangan yang ada di hadapannya itu.
" astaga!" pekik Devia Seraya menepuk keningnya sendiri dengan sedikit kuat. hal itu tentu saja membuat Rivaldo yang melihatnya merasa heran dengan tingkah laku sahabat kecilnya itu.
" kamu kenapa?" tanya Meita Seraya menghampiri gadis yang menjadi sahabat anaknya itu. terlihat sekali kekhawatiran yang tercetak jelas di wajah wanita paruh baya itu.
Karena memang Meita sangat menyayangi Devia seperti anak kandungnya sendiri. karena memang, Devia sudah sangat lama berteman dengan Rivaldo Putra sulungnya itu.
" Hehehe nggak Tante, aku hanya perlu menyadari sesuatu." ucap Devia Seraya menoleh ke arah Meita dengan senyuman manisnya.
" memangnya, kamu teringat akan hal apa?" tanya wanita paruh baya itu Seraya mengusap rambut milik Devia.
" aku lupa kalau rumah kita itu sudah berdekatan. Kenapa aku tidak minta pulang saja tadi bareng sopir papa kenapa harus menyuruhnya pulang sendiri." ucapnya masih dengan wajah merah karena sedikit malu.
Meita yang mendengar itu, seketika terkekeh pelan." Oh kirain tante ada apa? kamu ini ada-ada aja." ucapnya Seraya menggelengkan kepalanya pelan.
Sementara Rivaldo yang berada di belakang kedua wanita yang sangat berharga dalam hidupnya itu, hanya dapat menggelengkan kepala.
Dengan perlahan, laki-laki yang telah menginjak bangku SMA itu, segera menghampiri dan menggandeng tangan Devia dengan sangat lembut.
" kamu lucu banget sih. Aku kira tadi kamu udah nyadar kalau kita memang akan pergi ke rumahku yang dulu yang memang bersebelahan dengan rumah bibi Velove kan?" tanya Rivaldo di akhir kalimatnya.
" Iya maaf, aku kan lupa." ucap Devia dengan ekspresi wajah cemberutnya. tak lama berselang, Meita Kembali keluar dari dalam rumah Seraya menarik tangan Devia untuk masuk ke dalam rumah.
" ayo jangan ngobrol aja di sini. masuk Tante udah masakin makanan kerusakan kamu." ucapnya Seraya menarik tangan Devia. Sementara Rivaldo, tertinggal di belakang.
Melihat reaksi dari ibunya, seketika membuat Rivaldo memasang ekspresi wajah cemberutnya." mah, yang anak mama itu aku loh." ucap Rivaldo dengan nada menyindir.
__ADS_1
" Iya Terus, memang kenapa? seluruh dunia tahu kali kalau kamu itu memang anak mama. masa anak tetangga?" ucap wanita paruh baya itu Seraya menarik tangan Devia untuk masuk ke dalam rumah.
Rivaldo yang mendengar itu, semakin merasa geram. dengan sedikit kasar, laki-laki itu menghentak-hentakkan kakinya tak seperti seorang gadis yang tengah merajuk.
Devia yang melihat itu, tentu saja tertawa terbahak-bahak. karena memang, tingkah laku Rivaldo sangat menggemaskan.
"hahaha Kak Rivaldo seperti anak kecil. ingat kak udah SMA lo ya," ucap Devia Seraya menjulurkan lidah meledek sahabat kecilnya itu.
" awas aja kamu ya, dasar perebut!" teriak Rivaldo sedikit keras saat Devia dan juga Meita sudah sedikit menjauh dari sana. dan tiba-tiba saja,...
Pluk
satu buah sepatu milik Meita seketika melayang dan mengenai pundak laki-laki itu. dan seketika itu pula, tawa Devia terdengar begitu keras Mbak sebuah mercon yang sangat membahana.
" hahaha rasain wleee," ucap Devia Seraya menjulurkan lidahnya kembali. hal itu semakin membuat Rivaldo sewot.
Namun, Percayalah itu hanyalah akting Semata. karena pada kenyataannya, laki-laki itu merasa sangat bahagia melihat keakraban kedua wanita itu.
Devia dan Rivaldo ini duduk di tengah-tengah Rendy Abbas dan juga Mita Saraswati. dan entah mengapa, pikiran Rivaldo seketika melayang entah ke mana.
Laki-laki itu membayangkan, jika saat ini mereka Tengah dihadapkan dengan lamaran dari arah keluarga besar Rivaldo. entah pikiran liar dari mana, hingga membuat, laki-laki itu berpikiran seperti itu.
Lekas, laki-laki Tampan itu menggelengkan kepalanya. berusaha untuk mengusir pikiran nyeleneh yang masuk ke dalam otaknya.
" ingat Valdo, dia itu adalah sahabatmu sendiri. jadi jangan pernah memiliki perasaan aneh-aneh pada temanmu sendiri." ucap Rivaldo dalam hati. Seraya mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
Laki-laki itu kembali memperhatikan saat Devia bercengkerama dengan kedua orang tuanya. sangat akrab dan seperti keluarga sendiri. melihat hal itu, Rivaldo menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman manis.
__ADS_1
" jadi Om sama Tante setelah aku memutuskan untuk tidak ke kota P ini, kalian memutuskan tinggal di ujung kota P ini?" tanya Devia dengan ekspresi wajah penasarannya.
" Iya sayang, kamu tahu kenapa, itu karena ada seorang laki-laki yang selalu merengek dan meminta untuk dipertemukan dengan sahabat kecilnya." ucap Meita Seraya melirik ke arah Rivaldo yang tengah terdiam.
Sontak saja hal itu membuat Devia yang mendengarnya, seketika menoleh dan menatap sahabat kecilnya itu dengan ekspresi wajah meminta penjelasan." Apa itu benar Kak?" tanya Devia dengan polosnya.
tentu saja pertanyaan itu tidak akan pernah dijawab oleh Rivaldo dengan jujur. karena itu sama saja dengan membuka semua kelemahannya. dan Rivaldo tidak mau hal itu terjadi.
" enggak lah Sembarangan aja." ucap Rivaldo Seraya melayangkan tatapannya ke orang lain. sementara Rendy dan juga Meita yang melihat itu, hanya menggelengkan kepala.
" dasar tukang Gengsi." keduanya kompak mencibir laki-laki muda yang ada di hadapannya itu yang tak lain adalah putra mereka sendiri.
Devia yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala." Oh berarti nggak ada ya yang merindukan aku?" tanyanya dengan ekspresi wajah polos.
Walaupun sebenarnya, Gadis itu mengetahui jika apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu adalah bullshit belaka.
Sepertinya Devia ingin mengetes seberapa besar perasaan Rivaldo padanya.
" enggak lah, kau ini kepedean sekali. Siapa juga yang kangen sama Gembul kayak kamu." ucap Rivaldo mendengus kesal.
" Oh kalau gitu aku boleh dong jalan sama laki-laki lain?" tanya Devia sedikit memancing.
" Ya bolehlah siapa yang ngelarang. lagi pula, Memangnya kamu mau jalan-jalan sama siapa?" tanya Rivaldo. karena memang, laki-laki muda itu sangat penasaran dengan tingkah sahabat kecilnya itu.
"emmm, sama Kak Michael. soalnya kemarin dia ngajakin aku untuk nonton bioskop." ucap Devia dengan tersenyum simpul.
" jangan!" tiba-tiba saja, Rivaldo berkata dengan nada cukup tegas dan juga sedikit membentak. hal itu tentu saja membuat Devia dan kedua orang tua Rivaldo yang ada di sana, sejenak terlonjak kaget.
__ADS_1
" kenapa jangan? aku kan memang mau jalan sama Kak Michael?" tanya Devia dengan ekspresi wajah bingungnya.
" pokoknya, sekali nggak boleh tetap nggak boleh." ucap Rivaldo dengan nada tegas tak terbantahkan. hal itu tentu saja membuat kedua orang tua Rivaldo tersenyum tipis.