Penyesalan Seorang Sahabat

Penyesalan Seorang Sahabat
Mengenang Masa Silam


__ADS_3

Setelah selesai makan, Rivaldo mengantarkan Devia hingga di depan pintu. sepanjang perjalanan, mereka berdua tak henti-hentinya tertawa dan bercanda. karena memang, mereka berdua sudah hampir tiga tahun tidak bertemu.


Sementara Michael, laki-laki berusia 14 tahun itu, memutuskan untuk kembali ke kelasnya. Karena ia merasa, Devia sudah menemukan orang yang akan melindunginya dari keberagaman sifat siswa-siswi di sini.


Devia yang memang tidak menyadari jika Michael menaruh rasa cemburu, hanya bisa bersikap biasa saja. karena memang, gadis berusia 9 tahun itu, memang belum waktunya untuk mengenal yang namanya percintaan.


Sementara Rivaldo, laki-laki itu hanya tersenyum saat Devia berkata dengan gaya lucunya. dan terkadang, saling mengkritik satu sama lain. khas candaan anak kecil.


Sebagian siswa yang ada di koridor sekolah itu, memandang Rivaldo dan juga Devia dengan pandangan yang beragam. ada yang memandang dengan tatapan gemas, ada yang memandang dengan tatapan meremehkan, ada juga yang memandangnya dengan tatapan menghina.


Karena memang, setiap manusia memiliki sifat yang beraneka ragam. Itulah sifat asli manusia. sangat mengerikan jika sudah merasa tidak suka dengan orang lain.


" gembul, nanti kita mampir ke rumahku ya? kan udah lama kamu nggak mampir?" tanya Rivaldo Seraya menepuk bahu Devia. gadis itu hanya menganggukkan kepala Seraya tersenyum tipis.


" Nah sekarang, kamu sudah sampai di sini. kalau begitu, aku masuk ke kelasku dulu ya?" ucap Rivaldo Seraya menuel pipi Gembul gadis itu.


Devia yang mendengarnya, hanya menganggukkan kepala. Kemudian, dengan perlahan-lahan melangkahkan kakinya menuju ke arah bangku tempatnya duduk.


Gadis menggemaskan itu segera membuka buku pelajarannya. karena memang, sebentar lagi pelajaran pertama akan dimulai. tak lama berselang, terdengar bunyi bel dari arah Aula sekolah.


Teeeetttt,.... Teeet,....


tak berselang lama, semua siswa pun berhamburan masuk ke dalam kelas. karena memang, guru mata pelajaran sudah berdiri di ambang pintu kelas 3 itu.


" Selamat pagi anak-anak, di sini katanya ada murid baru ya?" tanya guru itu yang bernama Ineke kepada seluruh siswa/ siswi yang ada di sana.

__ADS_1


" Iya Bu," ucap mereka semua serempak. Bu Ineke yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala pertanda mengerti.


" Oke kalau begitu, sekarang perkenalkan nama kamu" titah Bu Ineke pada Devia. Sebenarnya, Gadis itu merasa malu-malu untuk maju ke depan kelas. terlebih lagi dengan kondisi fisiknya yang tidak sempurna seperti itu.


Bu inake yang melihat itu, hanya mengerutkan kening karena merasa heran dengan tingkah gadis yang menjadi siswa baru di sekolah ini." Ayo, tunggu apa lagi, perkenalkan namamu." ucap Bu Ineke mendesak Devia.


Akhirnya dengan perlahan-lahan, gadis itu berjalan menuju ke arah depan dan menghadap ke arah teman-temannya. terlihat jelas sekali wajah mereka sangat terkejut. Namun, hal itu segera dihalau oleh Bu Ineke sebagai guru di sana.


Wanita paruh baya itu memberikan kode pada anak-anak itu untuk tetap diam dan menghargai. Untungnya, mereka semua memahami kode yang diberikan oleh guru mereka.


" halo teman-teman, Namaku Devia Maharani. aku berasal dari sekolah di kota K. Aku di sini tinggal bersama bibi dan juga pamanku." ucap Devia dengan nada takut-takut.


Bu ineke yang melihat itu, berjalan perlahan dan menghampiri Devia. dan dengan segera, merangkul gadis kecil itu untuk memberikan kekuatan.


" sudah tidak usah takut. semua akan baik-baik saja di sini. karena kita semua sama di mata sang pencipta." ucap Bu Ineke Seraya tersenyum tipis.


" Halo aku boleh kenalan?" tanya gadis kecil dengan rambut keritingnya itu. Devia yang mendengar itu, seketika menoleh dan sejenak terdiam. Karena gadis kecil itu masih memastikan, apakah dirinya yang diajak bicara atau bukan.


" Kamu bicara sama aku?" tanya Devia sekali lagi untuk memastikan. gadis kecil yang ada di sampingnya itu, hanya menjawabnya dengan menanggukan kepala.


" boleh Namaku Devia Maharani. kalau kamu namanya siapa?" tanya Devia Seraya mengulurkan tangannya.


" aku Yeslin Margaretha." ucapnya dengan membalas uluran tangan gadis itu. Kemudian, mereka berdua berbincang-bincang seperti sudah lama berkenalan.


Seperti halnya dengan Michael Jonathan, Devia juga sudah merasa akrab dengan Yeslin ini. Hal itu membuat Yeslin sangat merasa senang. karena gadis itu, mendapatkan teman baru. yang sepertinya, sangat mengasyikkan.

__ADS_1


" nanti kamu pulang bareng aku ya?" tanya Yeslin menawarkan tumpangan pada Devia. sementara Devia yang mendengar itu, terdiam cukup lama. karena memang, Gadis itu sudah mempunyai janji dengan Rivaldo untuk pulang bersama.


" Maaf ya Yeslin, aku sudah ada janji sama temen Oh sama sahabat kecil aku namanya Rivaldo. nanti deh aku kenalin sama dia, dia orangnya asik." ucap Devia Seraya terkekeh pelan.


Yeslin yang mendengarnya, hanya menganggukkan kepala. Kemudian, kedua Gadis itu kembali melanjutkan menulis materi yang diberikan oleh guru.


****


bel pulang telah berbunyi lima menit yang lalu. Namun Devia dan Yeslin tampaknya masih berada di dalam kelas. karena kedua gadis itu memutuskan untuk mengerjakan pekerjaan sekolah alias PR di sekolah ini. agar nantinya, mereka berdua bisa main saat berada di rumah.


" Devia ayo pulang!" tiba-tiba saja, seseorang berteriak di ambang pintu kelas 3C. dan dengan segera, Gadis itu menoleh ke arah sumber suara.


" Rivaldo sini!" teriak Devia dengan Melambaikan tangan. dan dengan segera, laki-laki itu menghampiri sahabat kecilnya itu.


" ini sahabat aku yang aku ceritakan. namanya Rivaldo Abbas." ucap Devia Seraya menatap ke arah laki-laki itu.


Yeslin yang mendengarnya, hanya menganggukkan kepala. Kemudian, mereka bertiga segera berjalan menyusuri koridor sekolah dengan sesekali bercanda tawa. Mengenang masa lalu Devia dan juga Rivaldo yang begitu mengasyikkan.


" Wah ternyata masa lalu kalian sangat mengasyikkan ya. aku jadi iri deh" ucap gadis kecil itu Seraya tersenyum tipis.


" Ya udah kalau gitu. kita ulang aja permainan yang dulu. lagi pula kita kan juga masih anak-anak." ucap Devia dengan antusias.


Yeslin yang mendengar itu, juga ikut mengganggu antusias. dan akhirnya, mereka bertiga bercerita tentang banyak hal. ralat Bukan Mereka bertiga melainkan hanya Devia dan juga Yeslin. karena Rivaldo hanya terdiam saja.


Sepertinya sifat kulkas 1000 pintu milik Rivaldo sudah mulai tumbuh subur. karena laki-laki itu hanya terdiam saja. dan sesekali menyahut saat Devia mengajaknya bicara.

__ADS_1


" dada Yeslin, aku pulang dulu." ucap Devia Saraya Melambaikan tangan kepada teman barunya itu. dan dengan segera masuk ke dalam mobil.


Begitupun dengan Rivaldo. laki-laki itu juga ikut masuk ke dalam mobil milik Devia. Sementara mobil dan sopir Rivaldo, diperintahkan untuk kembali rumahnya.


__ADS_2