
Kini, Rivaldo dan juga Devia Tengah berada di dalam mobil yang sengaja dibawa oleh laki-laki itu. Karena memang, pada awalnya Rivaldo akan mengajak Devia untuk berjalan-jalan di sekitaran kota ini.
Sekaligus mereka berdua ingin mengenang masa lalu yang pernah mereka rasakan dahulu.
" kita mau ke mana Kak?" tanya Devia saat mobil sudah melaju meninggalkan wilayah sekolah Britney school itu. Rivaldo yang mendengar itu, hanya tersenyum sesaat.
Tak lama berselang, Rivaldo seketika menghentikan laju kendaraannya. hal itu tentu saja membuat Devia yang melihat itu, seketika tertegun karena merasa terheran.
" kenapa kita berhenti di sini Kak?" tanya Devia Seraya menatap ke arah sekitaran. Rivaldo yang mendengar itu, hanya tersenyum sesaat.
Setelahnya, laki-laki itu segera keluar dari dalam mobil untuk menuju ke tempat rumah sakit yang ada di sana. Sementara Devia yang masih berada di dalam mobil, memperhatikan tingkah laku sahabatnya itu dengan ekspresi bertanya-tanya.
" untuk apa kak Rivaldo masuk ke dalam rumah sakit itu,?" tanya gadis cantik itu Seraya tetap memperhatikan punggung Rivaldo yang perlahan menghilang di balik pintu masuk rumah sakit itu.
" Oh apa mungkin tante Meita sedang sakit ya?" gadis itu tetap bertanya-tanya seorang diri dalam hatinya.
Tak lama berselang, Rivaldo terlihat berjalan menuju ke arah mobil dengan menenteng sebuah plastik berwarna putih di tangannya. Setelahnya, laki-laki itu segera membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.
" kakak, untuk apa beli semua itu? Siapa yang sakit?" tanya Devia dengan wajah polosnya. Rivaldo yang mendengar itu, tak menjawab pertanyaan dari sahabatnya yang super duper kepo.
Namun, laki-laki itu segera mengolesi bekas luka yang ada di kening dan juga lengan Devia dengan alkohol dan kasa steril. tentu saja hal itu membuat Devia yang menerima perhatian kecil dari Rivaldo, merasa sangat bahagia.
" Terima kasih ya kak, Kakak memang sahabat aku yang paling baik." ucap Devia dengan menyunggingkan senyuman tipis.
" nggak usah lebay, aku cuman nggak mau sahabatku merasakan kesakitan yang sangat amat karena akibat dari bullying yang dia terima." ucap Rivaldo Soraya melirik ke arah sahabat kecilnya itu.
Hal itu sukses membuat Devia, akhirnya memasang wajah cemberut namun juga tersenyum secara bersamaan. karena gadis itu merasa begitu sangat bahagia.
__ADS_1
Rivaldo masihlah Rivaldo yang dulu tidak ada yang berubah dari laki-laki yang telah menjadi sahabatnya selama 6 tahun itu bahkan bisa lebih.
" Makasih ya Kak, karena ternyata, kakak tidak pernah berubah sama sekali. dan tetaplah menjadi Rivaldo yang baik hati. " ucap Devia Seraya tersenyum namun juga dengan deraian air mata.
Rivaldo yang melihat itu, segera mengusap air mata yang membasahi pipi Gembul sahabatnya itu." Aku tidak mau tangisan atau Ada air mata kesedihan yang membasahi pipi gembulmu ini." ucapnya Soraya mengusap air mata yang keluar dari mata indah milik sahabatnya itu.
Devia yang mendengar itu, seketika segera memeluk tubuh Rivaldo dengan begitu erat." berjanjilah padaku Kak, jangan pernah Berubah." ucap Devia masih dengan memeluk tubuh sahabatnya itu.
Tiba-tiba saja, Gadis itu teringat akan sesuatu. Kemudian, melepaskan pelukannya dan menatap ke arah Rivaldo dengan tatapan menyelidik.
" kenapa? Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Rivaldo yang merasa kebingungan dengan sikap sahabatnya itu.
" Apa benar kamu sudah menjalin hubungan dengan Kak Celine,?" tanya Devia dengan ekspresi wajah mengintimidasi.
Mendengar ucapan dari sahabatnya itu, seketika membuat Rivaldo mengerutkan keningnya karena merasa kebingungan dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Devia.
Devia yang mendengar itu, seketika menundukkan kepala.. Sepertinya dirinya telah salah menanyakan hal itu pada sahabatnya." Maaf sepertinya aku salah bertanya padamu. " ucap Devia Seraya membuang pandangan ke arah lain.
Dengan segera Rivaldo menarik bahu sahabatnya itu hingga membuat, mereka kembali berhadapan." Apa maksud dari semua ini?" tanya Rivaldo dengan menatap tajam namun juga lekat terhadap sahabatnya itu.
Devia yang menyadari itu, seketika menggilingkan kepala. karena dia, tidak ingin menambah masalah antara dirinya dan juga kakak kelasnya itu.
" Devia, jangan pernah berani-beraninya kamu menyembunyikan sesuatu dariku. " ucap Rivaldo Seraya menatap tajam ke arah sahabatnya itu.
" aku takut Kak hiks hiks hiks." ucap Devia Seraya menangis sesungguhkan. Rivaldo yang melihat itu, segera menarik gadis itu dan masuk ke dalam pelukannya.
"sssstttt, Sudahlah semua akan baik-baik saja." ucap Rivaldo Seraya mengusap kepala Devia dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Cukup lama, gadis itu menangis di dalam pelukan sahabat terbaiknya itu. Kemudian, mereka sama-sama melerai pelukan.
" Astaga Aku lupa sesuatu!!!" ucap Devia yang seakan baru saja tersadar dari apa yang baru saja ia lakukan.
Melihat itu, Rivaldo kembali dilanda kebingungan yang cukup hebat. Mengapa, sahabat kecilnya itu memiliki sifat yang cukup aneh. tiba-tiba menangis dan tiba-tiba berteriak seperti ini? sungguh benar-benar aneh. pikir Rivaldo dalam hati.
" Kamu kenapa lagi sih Devia? " tanya Rivaldo Seraya mengusap wajahnya dengan sedikit kasar. karena memang, dirinya tidak mengerti tentang sifat yang dimiliki oleh wanita.
" Kenapa kita meninggalkan Yeslin seorang diri?" tanya Devia Seraya menatap ke arah Rivaldo. Seketika itu pula, perasaan Rivaldo merasa tidak enak." Kenapa tadi kakak langsung narik aku?" tanya Devia dengan ekspresi wajah cemberutnya.
" nah kan bener apa yang aku khawatirkan," ucap Rivaldo dalam hati. Kemudian laki-laki itu, menghela nafas panjang. Seraya kembali melajukan mobilnya untuk segera sampai ke rumah.
****
Tak lama berselang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Rivaldo telah sampai di depan rumah Devia. lebih tepatnya, di depan rumah bibi Velove yang kini, ditempati oleh Devia.
" Nah sekarang kan, sudah sampai. sekarang kamu masuk, terus kamu mandi nanti malam aku jemput Oke," ucap Rivaldo Seraya memperagakan jemarinya.
Devia yang mendengar itu, menganggukkan kepala. dan dengan segera, melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam rumah.
"eh, mama, papa, Kapan kalian ke sini? " tanya Devia saat telah membuka pintu itu. Sementara kedua orang tua Devia, bukannya menjawab, malah tersenyum simpul.
Mereka segera bangkit dari duduknya dan dengan segera menarik tangan Devia untuk segera duduk di tengah-tengah mereka.
" bagaimana, Sepertinya kamu betah ya tinggal di sini,?" tanya Sephia Amora menggoda anak semata wayangnya itu.
Seketika itu pula, Devia tersipu malu dan dengan segera, gadis cantik itu menundukkan kepala. Menyembunyikan wajahnya yang memerah padam bak kepiting rebus.
__ADS_1
" cie malu," ucap Melvin menggoda Putri kesayangannya itu.