
Satu tahun kemudian,...
Kini, Devia telah menginjak usia 16 tahun. dan juga Gadis itu telah menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Menengah Pertama alias SMP. dan itu artinya, lampu hijau dari kedua orang tuanya untuk berpacaran sudah ia dapat dan ia genggam.
Semenjak perbincangannya dengan Rivaldo beberapa bulan yang lalu, Entah mengapa membuat hati Devia menjadi sedikit berbunga-bunga.
Angan-angannya tentang Rivaldo yang akan menyatakan cinta pun, melambung tinggi di pikirannya. hal itu tentu saja membuat Devia, merasa sangat begitu senang.
Akhirnya di usianya yang menginjak usia remaja ini akan diwarnai dengan rasa baru dan itu berarti, akan ada tujuan hidup baru. itulah yang membuat Devia merasa begitu senang.
" ah aku nggak sabar, sebentar lagi,.." Devia tidak lagi melanjutkan ucapannya. melainkan Gadis itu ingin segera menemui Rivaldo untuk berangkat ke sekolah.
Karena memang hari ini, Devia akan memasuki bangku SMA. dan juga akan mendapatkan teman baru. ya walaupun lingkungannya masih tetap sama dengan lingkungan yang terdahulu. hanya gedung sekolah yang membedakan.
" wah keponakan Bibi sekarang udah besar ya, nggak terasa sekarang udah masuk SMA. Padahal, Bibi merasa baru kemarin kamu memutuskan untuk tinggal di sini. Eh, sekarang udah SMA aja, terus setelah SMA lulus, kuliah, terus ninggalin bibi." ucapnya dengan nada Sendu.
Devia yang melihat dan mendengar itu, segera memeluk tubuh wanita paruh baya yang telah Ia anggap, seperti ibunya sendiri itu.
" Bibi ngomong apa sih, kan kota kita hanya berjarak beberapa kilo aja kan, nggak sampai beda pulau? Lagi pula, perjalanannya hanya beberapa jam aja kan?" ucap Devia dengan nada tidak suka.
Memang, Devia membenci suasana yang mengharu biru seperti ini. karena menurutnya, dirinya tidak akan pernah kemana-mana. dan sampai kapanpun, akan tetap berada di sisi orang-orang yang mengasihinya.
Jadi, tidaklah perlu memasang wajah sedih seperti itu. karena Devia berjanji pada dirinya sendiri akan terus membahagiakan kedua orang tuanya beserta orang-orang yang begitu tulus menyayanginya.
" udah ah kalau gitu, Devia pamit dulu ya, dadah Bibi Velove yang paling cantik, emuach," Devia Melambaikan tangan Seraya mencium pipi wanita paruh baya itu.
__ADS_1
Sementara Velove yang melihat itu, tersenyum Seraya mengusap air matanya. yang entah mengapa, jatuh dengan sendirinya." dasar! udah SMA juga kelakuan masih seperti anak kecil" ucapnya dengan tersenyum simpul.
Kemudian wanita paruh baya itu pun, juga ikut melangkahkan kaki menuju ruang tamu di mana Devia dan juga Rivaldo berada di sana.
" Kalian berangkat aja dulu, nggak usah nungguin paman. karena mungkin, Paman akan pulang nanti siang. karena katanya, mau nanam pisang lagi" ucap Velove yang baru saja muncul di balik pintu tengah.
" iya Bi, kalau gitu kita berangkat dulu ya." ucap Devia Seraya menyambar tangan wanita paruh baya itu. Setelahnya, berlalu dari sana. sementara Rivaldo, laki-laki Tampan itu masih betah berdiri di samping Velove.
" Ada apa Rivaldo? ada yang bisa dibantu?" tanya wanita paruh baya itu sedikit merasa kehilangan dengan tingkah laki-laki muda yang ada di hadapannya itu.
Rivaldo yang mendengarnya, menggelengkan kepala. dengan segera meraih tangan wanita paruh baya itu kemudian mengecupnya." Doakan Rivaldo ya Bi, Semoga bisa meluluhkan sifat egois keponakan bibi." ucapnya dengan tersenyum jahil.
Seketika itu pula, Velove yang mendengarnya terkekeh pelan Seraya menggelengkan kepala." dasar bocah gemblung, ada-ada aja tingkahnya." ucapnya disertai helaan nafas.
" Kak Rivaldo cepat!" teriak Devia dari ambang pintu. Dengan kepala yang melongok ke dalam rumah.
Devia yang mendengar itu, tentu hanya terkekeh pelan. kemudian dengan segera, mengatupkan kedua tangannya. Sebagai permohonan maaf.
" Hehehe maaf, keceplosan. habisnya Kakak lama sih. Aku kan udah nggak sabar mau masuk ke sekolah yang baru dan juga kelas yang baru." ucap Devia Seraya nyengir kuda.
" mau ketemu sama Michael sih, makanya nggak sabaran." ucap Rivaldo dengan nada sangat pelan. Bertujuan, agar Devia tidak mendengar ucapannya itu.
Namun, ternyata prasangkanya itu tidak benar. karena ternyata, Devia mendengar semua itu. dan dengan segera, gadis cantik itu melayangkan tatapan tajam kepada Rivaldo. hingga membuatnya seketika salah tingkah.
" enak aja, nggak usah nuduh sembarangan! Nanti kalau aku beneran sama Kak Michael, nanti nangis!" cibirnya dengan wajah kesal.
__ADS_1
Rivaldo yang mendengar itu, hanya dapat terdiam. Karena, apa yang dikatakan oleh Devia itu ada benarnya. jangan sampai, ucapannya itu menjadi kenyataan. Bisa bisa dirinya nangis darah jika hal itu terjadi.
Akhirnya Devia dan Rivaldo segera berangkat menuju ke sekolah Britney school dengan mengendarai kendaraan roda dua.
Alasannya, tentu karena menggunakan kendaraan roda dua, lebih cepat sampainya daripada menggunakan kendaraan roda empat.
Karena kendaraan roda dua tidak perlu menunggu antrian. bisa menyelinap masuk ke sela-sela kendaraan yang ada di jalan raya.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya Devia dan Rivaldo sampai juga di depan sekolahan itu. Di mana, sekarang ini Yayasan Britney school sudah lebih luas dari yang sebelumnya. dan tentunya, lebih mewah dari sebelumnya.
" mau aku antar, atau masuk sendiri?" tanya Rivaldo pada gadis cantik itu.
"emm, masu--" belum sempat Gadis itu menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu, dari belakang sudah ada seseorang yang memanggil namanya.
"Devia!!" teriak orang itu yang membuat Devia seketika kesusahan untuk menelan salivanya. Karena mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.
" hihihi Hai Kak Michael" Sapa gadis itu dengan senyuman yang sangat dipaksakan. bukan karena tidak ingin melihat laki-laki itu. melainkan karena Devia takut dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Rivaldo padanya.
" Selamat ya, kamu udah lulus SMP dan sekarang udah masuk di sekolah SMA. udah nggak Bocil lagi nih ya," ucapnya Seraya mengusap kepala Devia dengan pelan.
Hal itu tentu saja membuat gadis itu, merasa sedikit terkejut. dan dengan refleks, Gadis itu menepis pelan tangan Michael." maaf Kak, aku mau masuk ke kelasku dulu. Dada" dengan segera, gadis itu segera melangkahkan kakinya untuk segera meninggalkan kedua laki-laki itu.
Karena Devia merasa, akan ada permusuhan-permusuhan yang akan terjadi diantara kedua laki-laki itu. Untuk itulah, Devia memutuskan untuk segera melarikan diri dari situasi itu.
***
__ADS_1
"Astagah !! mengerikan sekali" gumam gadis itu pada dirinya sendiri. Setelah sampai di dalam kelasnya. Setelahnya, Devia segera duduk di tempat duduk yang telah pilihkan