
Pagi ini, di kediaman bibi Velove, terlihat seperti biasanya, Devia berangkat sekolah dengan menyunggingkan senyuman manis. tentu saja hal itu membuat Velove dan Agra yang melihat itu, ikut tersenyum tipis.
Karena kedua manusia paruh baya itu, mengira jika keponakan mereka sudah baik-baik saja dan tidak ada masalah apapun.
Yap Velove dan Agra, pernah mengira jika keponakannya itu tengah ada masalah. karena ekspresi Devia, tidak seceria biasanya. Namun, sekarang ini mereka berdua sudah bisa bernafas dengan lega. saat melihat Devia menunjukkan wajah yang sangat ceria pagi hari ini.
" sayang, kamu berangkat sama siapa hari ini?" tanya wanita paruh baya itu kepada keponakannya. mencoba untuk memastikan semuanya apakah baik-baik saja tidak.
" Devia baik bibi, Memangnya kenapa?" tanya Gadis itu Seraya menatap ke arah sang Bibi dengan raut wajah kehiranan. Walaupun, di dalam hati, gadis itu sudah menduga bahwa ini akan terjadi.
Velove yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala Seraya tersenyum tipis. kemudian tangannya mengusap kepala Gadis itu dengan sangat lembut.
" Ya sudah kalau begitu, lebih baik kamu berangkat saja. hari ini kan, kamu bilang ada ulangan kan?" tanya wanita paruh baya itu kepada sang keponakan.
Devia yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala Seraya tersenyum tipis." Ya sudah kalau begitu, Devia pamit dulu." ucapnya Seraya menyalami sang bibi.
Setelahnya, Gadis itu segera melangkahkan kakinya untuk segera pergi meninggalkan rumah kediaman orang tua kedua bagi Devia itu.
" ini taksinya ke mana?" tanya Gadis itu Seraya menatap ke sekeliling kanan dan kiri. Karena memang, hari ini terlihat sangat sepi.
" mau bareng aku nggak?" tiba-tiba saja, terdengar suara dari arah belakang. tentu saja hal itu membuat Devia, seketika menoleh ke arah sumber suara.
" Kak Michael, kok ada di sini?" tanya Devia dengan ekspresi wajah polosnya.
Michael yang mendengar itu, seketika tertawa terbahak-bahak." hahaha kamu lucu banget sih Devia, Ya jelaslah aku lewat sini, kan rumahku memang di sana" ucapnya Seraya menunjuk ke arah komplek perumahan yang ada di seberang jalan sana.
Devia yang mendengar itu, seketika hanya nyengir kuda. Seraya tangannya, menepuk keningnya secara perlahan. Karena merasa, pertanyaan yang keluar dari mulutnya itu, adalah pertanyaan konyol.
__ADS_1
"hehehe, Lupa Kak." ucap Devia Saraya tersenyum kikuk. Sementara Michael yang melihat itu, hanya menggelengkan kepala Seraya tersenyum tipis.
" ya sudah, Sekarang ikut aku yuk." ucap Michael Seraya menyerahkan satu helm berwarna pink kepada Devia.
Tentu saja, hal itu membuat Devia yang melihatnya, sejenak tertegun. Kemudian, kedua matanya menatap Michael dan juga helm yang ada di tangannya secara bergantian.
" nggak usah aneh-aneh, ini memang aku siapkan khusus buat kamu." ucap Michael Yang sepertinya tahu apa yang dimaksud oleh Devia melalui tatapan gadis itu.
Devia yang mendengar itu, seketika menganggukkan kepala. dan dengan segera, memasang helm dan langsung menaiki ke atas motor laki-laki itu.
*****
di sepanjang perjalanan, Michael tak henti-hentinya melirik Devia dari arah spion yang ada di motornya itu Seraya tersenyum tipis." akhirnya, aku bisa semakin akrab dengan gadis pujaanku." gumam laki-laki itu Seraya masih menikmati kecantikan alami yang diciptakan oleh Tuhan yang ada di belakangnya itu.
Sementara Devia yang berada di jok belakang, diam-diam mengusap air matanya yang mengalir. Karena sejujurnya, gadis itu merasa begitu merindukan sosok yang bernama Rivaldo.
Entahlah, Mengapa sahabatnya itu bisa berubah secepat itu terhadap dirinya. Namun Devia percaya, Rivaldo akan kembali seperti dulu lagi.
" lebih baik, nanti aku akan tanyakan langsung pada Kak Rivaldo." ucap Devia akhirnya mengambil keputusan.
Tak berapa lama, motor yang ditumpangi oleh Michael, Akhirnya sampai juga di halaman Britney school. dan dengan segera, laki-laki itu turun dari kuda besi yang sedari tadi ia tunggangi.
" Aku antar ya," ucap Michael Soraya membuka helm dari kepala gadis itu. Devia yang mendengar itu, seketika menggelengkan kepala. Karena memang gadis itu, masih mengharapkan jika yang akan menjadi tambatan hatinya nanti adalah Rivaldo teman kecilnya itu.
" nggak usah kak makasih" ucap Devia Seraya tersenyum tipis. dan dengan segera, Gadis itu melangkahkan kakinya menjauh dari tempat Michael berada.
****
__ADS_1
" dasar gadis freak!" ucap salah seorang siswa yang merupakan penggemar berat dari Michael dan juga Rivaldo. kali ini, Gadis itu secara terang-terangan mengatai Devia di hadapannya.
karena memang, ini adalah kesempatan yang sangat langka. karena Devia, berjalan seorang diri tanpa didampingi oleh siapapun. hal itu mungkin lebih mudah bagi penggemar Rivaldo dan juga Michael, untuk mengatai yang tidak tidak.
Mendengar ucapan dari gadis itu, seketika membuat Devia menatap ke arah gadis yang baru saja mengolok-oloknya itu.
Beberapa saat kemudian, Devia mengadu kesakitan saat ada seseorang yang menabraknya secara tiba-tiba. dengan segera, Devia menoleh ke arah belakang.
Seketika itu pula, Devia tertegun di tempatnya. karena ternyata yang menabraknya adalah Rivaldo bersama teman-temannya.
" Kak Rivaldo!" seru Devia Seraya berusaha mengejar laki-laki itu. dan dengan segera, menggapai tangan laki-laki itu.
" Kak Rivaldo Kenapa berubah seperti ini?!" tanya Devia Saraya menarik tangan laki-laki itu.
Namun dengan segera Rivaldo menepis tangan dari Devia." lepaskan Jangan sentuh gue!" ucapnya Seraya mendorong pelan tubuh gadis itu.
Hingga membuat Gadis itu terhuyung ke belakang. Dengan tatapan nanar, Devia memperhatikan Rivaldo yang semakin menjauh bersama dengan teman-temannya.
Tak terasa, air matanya seketika mengalir dengan sangat deras. mendapatkan perlakuan yang begitu kasar dari laki-laki yang ia gadang-gadang akan menjadi kekasihnya itu.
" Kak Rivaldo Kenapa berubah? hiks hiks hiks" ucapnya dengan isak tangis.
" mungkin saja Rivaldo sudah mulai sadar, jika yang ia lakukan selama ini adalah suatu kesalahan yang sangat besar." tiba-tiba saja, sebuah suara terdengar dari arah belakang.
Dengan perlahan-lahan, Devia membalikkan tubuh. dan mendapati, orang-orang yang sangat membencinya berada di belakang sana Seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
" Kak Celine, Kak Melani, Yeslin, apa yang kalian katakan?" tanya Gadis itu Seraya berderai air mata.
__ADS_1
Mereka bertiga kompak menyungkinkan senyum mengejek yang sangat kentara di antara wajah mereka bertiga.
" kamu pura-pura Bodoh Atau memang bodoh beneran sih?!" hardik Yeslin Seraya melangkahkan kaki menghampiri gadis itu.