Penyesalan Seorang Sahabat

Penyesalan Seorang Sahabat
Membujuk Devia


__ADS_3

Hari ini, Tepat satu minggu perjuangan keras Rivaldo untuk mendapatkan hati sahabatnya kembali. Namun, Sepertinya itu sangatlah sulit. Mengingat, Apa yang dilakukan oleh laki-laki itu sudah sangat keterlaluan. Wajar saja, jika Devia belum bisa memaafkannya.


Malah Gadis itu semakin terlihat dekat dengan Michael. itu membuat Rivaldo terbakar api cemburu. Namun, Siapa yang peduli, karena Devia sama sekali tidak pernah memperdulikan hal itu.


Jangankan memperdulikan, melihat wajah Rivaldo dan keberadaannya pun sudah tidak diinginkan oleh gadis itu. Sungguh, luka yang ditorehkan oleh laki-laki itu sangatlah dalam. hingga membuat Devia enggan untuk memaafkannya hingga saat ini.


Namun begitu, Rivaldo masih berusaha keras untuk mendapatkan hati dan kepercayaan dari keluarga gadis itu. Karena, ada pepatah mengatakan. dekati dulu keluarganya, baru kau akan mendapatkan gadis yang kau incar.


****


Seperti pagi ini, laki-laki itu sudah sibuk berada di dapur bersih yang ada di rumah itu. hal itu tentu saja membuat para pelayan yang melihatnya, merasa sangat terkejut. Karena selama mereka bekerja dengan keluarga Abbas, tidak pernah sekalipun melihat Rivaldo menggunakan wilayah itu. jangankan menggunakan, mengunjungi dapur saja tidak pernah.


Hal itulah yang membuat para pelayan itu merasa sangat terkejut. dan dengan segera, mereka semua menghampiri laki-laki bertubuh tegap itu.


" Tuan, Tuan membutuhkan apa?" tanya salah seorang pelayan, yang datang menghampirinya dengan langkah tergopoh-gopoh.


" biarkan aku menyelesaikan semua ini. lebih baik, kalian kerjakan yang lain." ucap Rivaldo tanpa melihat lawan bicaranya.


"tapi Tuan,--" perayaan itu hendak mengatakan sesuatu. Namun, ucapannya segera berhenti. saat, melihat tatapan tajam yang ditujukan pada mereka.

__ADS_1


Mereka semua akhirnya memutuskan untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang lain. dan sisanya, memilih masak di dapur kotor. dapur yang khusus ditujukan untuk para pelayan itu jika sewaktu-waktu ingin membuat makanan.


Tujuannya sama sekali tidak bermaksud untuk membeda-bedakan penghuni rumah itu. hanya saja, Mei tak pernah mendengar jika salah satu dari pelayan itu merasa sungkan jika harus memakai dapur bersih untuk sekedar membuat mie instan.


Untuk itulah, Meita dan suaminya membuat dapur kotor yang terletak di samping kamar para pelayan itu. agar memudahkan mereka untuk memenuhi kebutuhannya.


" Tina, di mana Rivaldo?" tanya Meita saat mereka berada di ruang makan.


Gegas, pelayan yang dipanggil itu, segera menghampiri pasangan suami istri yang telah duduk manis di tempatnya itu.


" Tuan Rivaldo sedang masak di dapur nyonya." ucap pelayan itu.


Seketika itu pula, Meita dan Rendy yang mendengarnya, Saling pandang. karena mereka sama sekali tidak mempercayai, Putra semata wayang mereka, memasuki dapur untuk memasak.


" sayang, Kamu buat apa?" tanya Meita Seraya berjalan menghampiri laki-laki itu.


" ini bun, Rivaldo ingin membuat makanan kesukaan Devia." ucapnya Seraya mengulas senyum tipis.


Mendengar hal itu, kompak Meita dan Rendy, seketika Saling pandang Seraya menahan senyum." Oh, Ceritanya mau bujuk Devia ya," goda Meita.

__ADS_1


Rivaldo tak lagi menjawab. laki-laki itu, hanya tersenyum kecil. Seraya kembali fokus untuk membuat makanan kesukaan Devia.


Setelah sekitar hampir 30 menit, akhirnya laki-laki itu telah menyelesaikan aktivitas masaknya. dan dengan hati yang riang gembira, menuangkannya di kotak bekal yang memang sudah dipersiapkan laki-laki itu.


" Wah sepertinya sungguh-sungguh sekali karena kita ingin meminta maaf. Buktinya, sampai membelikan kotak makan dengan gambar dan warna kesukaan gadis incarannya." ucap Rendy Seraya melirik ke arah kotak makan berwarna pink itu.


Meita yang mendengar itu, segera berjalan menghampiri putranya. Kemudian, menepuk bahu laki-laki itu." perjuangkan. jika memang, dia adalah milikmu. Tapi, Jangan pernah memaksakan kehendak." ucap Meita tersenyum tipis.


Rivaldo yang mendengar itu, menganggukkan kepala. dan dengan segera langsung berpamitan kepada kedua orang tuanya.


" kamu nggak makan dulu?" tanya Meita saat melihat putranya itu langsung melangkah keluar rumah tanpa menuju meja makan.


" nanti aja di sekolah."


Rivaldo segera melajukan kuda besinya untuk menuju ke kota Devia. Walaupun, cukup jauh memang. tapi Rivaldo sudah bertekad akan meminta maaf dengan sungguh-sungguh.


***


Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di kediaman keluarga Andriano, terlihat seorang gadis tengah berlari menuruni anak tangga. Karena ternyata, dirinya sudah kesiangan. dan tidak ada orang yang membangunkannya.

__ADS_1


" Ibu sama Bapak ke mana Bi?" tanya Devia Seraya menyambar gelas yang berisi susu hangat itu.


"Tuan sama nyonya, lagi ada di rumah sakit. Karena sebentar lagi kan, Adik Nona, akan segera lahir." ucap asisten rumah tangga itu.


__ADS_2