
Di sebuah kedai bakso terkenal di kota P itu, terlihat Michael dan Devia Tengah menikmati makanan yang begitu menggiurkan. apalagi jika bukan bakso dan juga teh manis.
Memang, makanan yang satu itu merupakan makanan legendaris dan juga makanan yang dinikmati oleh semua kalangan. tidak heran kedai bakso itu, tampak sekali dipadati oleh pengunjung.
" Makasih ya Kak Michael, Kebetulan aku juga masih lapar hehehe." ucap Devia Seraya menyunggingkan senyuman tipis.
Sementara Michael yang melihat itu, hanya menganggukkan kepala Seraya tersenyum tipis. tak lama berselang, dua orang pelayan datang menghampiri mereka dengan membawa nampan di tangan masing-masing.
" Mari Silakan dinikmati mas, mbak," ucap pelayan itu Seraya menyodorkan Dan meletakkan makanan itu dihadapan kedua anak muda itu.
Dengan segera, Michael dan juga Devia menganggukkan kepala dan mengambil mangkok yang berisi bakso itu. dan juga, mengambil es teh manis yang ada di samping mereka.
Akhirnya mereka berdua menikmati makanan yang terlihat begitu sangat menggugah selera. Bahkan, tak terasa, Devia dan juga Michael memakan dan menghabiskan semua menu makanan dan minuman yang ada di hadapan mereka itu dengan lahapnya.
" setelah ini, kita mau ke mana lagi?" tanya laki-laki itu Seraya menatap ke arah Devia dengan masih menyunggingkan senyuman tipis.
" langsung pulang aja deh Kak, lagi pula ini udah mau sore. takut dicariin sama Bibi nanti kalau pulang kemalaman." ucap Devia Seraya mengusap bibirnya dengan tisu.
Michael yang mendengar penuturan dari Devia, segera menganggukkan kepala. dan setelahnya, segera menuju kemeja kasir untuk membayar semua makanan dan minuman yang telah mereka makan.
Setelahnya, Devia dan Michael tampak sekali keluar dari dalam kedai bakso itu. Seraya sesekali bercanda tawa bersama-sama. Tanpa mereka sadari, ternyata ada sepasang mata yang menatap pergerakan mereka dengan Tatapan yang sangat tajam.
Namun orang itu memutuskan untuk tidak langsung menghampiri Devia melainkan, dirinya akan membuntuti mereka berdua dari belakang. siapa lagi jika bukan Rivaldo.
Sedari tadi, laki-laki itu sudah mengetahui letak dan tempat di mana sahabatnya itu berada. hal itu ia peroleh, saat tak sengaja membuka ponselnya. dan mendapati, pesan yang dikirimkan oleh Devia padanya.
Sementara Michael dan juga Devia, Segera menaiki motor milik laki-laki itu. dan tak berselang lama, Michael segera menjalankan motor itu. meninggalkan tempat kedai bakso itu.
__ADS_1
" kamu udah pernah makan di situ?" tanya Michael mencoba untuk memecahkan keheningan dan mencoba untuk mencairkan suasana.
Devia yang mendengar itu, segera menggelengkan kepala." belum sih Kak, aku belum pernah datang ke tempat seperti itu. Soalnya, mama sama papa sepertinya melarang keras untuk aku datang ke sana." ucap Devia dengan tersenyum tipis.
Michael yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala. dan dengan segera, laki-laki itu menambahkan laju motornya agar lebih kencang.
Namun, beberapa saat kemudian. lebih tepatnya, saat motor Michael melaju di tempat yang sedikit sepi, dari arah belakang, tampak motor Rivaldo menyalip dan langsung menghentikan laju motor milik Michael.
Hal itu tentu saja membuat Michael yang membawa motor, seketika menghentikan laju kendaraannya, dengan mengerem mendadak.
" Kenapa kak, ada apa?" tanya gadis itu Seraya menampilkan ekspresi wajah kebingungan. Seraya sesekali, menetap ke arah depan.
Degh
Seketika itu pula, jantung Devia seakan ingin lepas dari tempatnya. saat Gadis itu melihat Siapa yang tengah berdiri di depan mereka. Dengan segera, laki-laki itu yang tak lain adalah Rivaldo, segera turun dan menghampiri Devia dan juga Michael yang masih saja terbeng di tempatnya.
Sementara Michael yang merasa tidak terima, segera meneriaki laki-laki itu." Hei Bung, jangan membawa orang sembarangan ya, dia itu pulang bersama dengan saya." ucap Michael dengan sedikit berteriak.
Tentu saja hal itu membuat Rivaldo yang hendak menaiki motornya, seketika menghentikan langkahnya. dan dengan segera, laki-laki itu turun dari motor. begitupun dengan Devia.
Gadis Itu tampak mematung di tempatnya dengan ekspresi wajah sangat kebingungan dan juga Bimbang. entah siapa yang akan ia Bela. karena memang, keduanya tidak bersalah.
" kau tadi Bicara apa? Hah hah!" ucap Rivaldo dengan nada meninggi. sementara Michael yang mendengar pertanyaan dari adik tingkatannya dengan nada yang terdengar kurang sopan, hanya tersenyum kecil Seraya menggelengkan kepalanya.
" apa begini bicaramu terhadap orang yang lebih tua?" tanya Michael dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
" tidak usah banyak bicara kau Michael, kau yang merebut Devia dariku, sekarang kau pulang yang merasa seperti korban?" tanya Rivaldo dengan nada sinisnya.
__ADS_1
Mendengar penuturan dari laki-laki yang ada di hadapannya itu, seketika membuat Michael tertawa terbahak-bahak." hahaha, apa tadi kau bilang? aku merebut Devia darimu? Hei cobalah sadar, Devia itu siapa kamu?" tanya laki-laki itu dengan nada sinis.
Seketika itu pula, Rivaldo yang mendengar ucapan dari Michael segera menatap ke arah Devia dengan tatapan meminta penjelasan.
Sementara Devia masih saja terdiam di tempatnya. gadis itu tampak kebingungan untuk menentukan sikap kepada dua laki-laki yang ada di hadapannya itu.
" gembul, sekarang kamu pilih, aku atau Michael?" tanya laki-laki itu Seraya menatap lekat ke arah sahabatnya itu.
Devia yang mendengar itu, semakin merasa sangat kebingungan. dan setelah berdiam diri cukup lama, akhirnya Devia membuka suara.
" maaf Kak Michael, aku ikut kak Rivaldo." ucapnya Seraya tersenyum tipis. dan dengan segera berjalan menuju ke arah motor Rivaldo.
Michael yang mendengar itu, hanya dapat tersenyum kecut dan juga menghela nafas panjang." Baiklah kalau begitu, hati-hati ya kau" ucapnya Seraya mengusap kepala gadis itu.
Seketika itu pula, tangan Michael yang bertengger di kepala Devia segera ditepis oleh Rivaldo. dan dengan segera, Rivaldo menarik tangan Devia untuk Segera menaiki motornya.
****
di sepanjang perjalanan, Rivaldo tak mengeluarkan sepatah kata pun. hal itu tentu saja membuat Devia merasa merinding dibuatnya.
"emm, Apakah dia marah, karena aku jalan dengan Kak Michael?" tanya Gadis itu dengan ekspresi wajah kebingungan.
" Kak Rivaldo marah?" tanya Devia pada akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. Namun, sepertinya tidak ada respon dari laki-laki yang ada di hadapannya itu.
Devia yang menyadari kesalahpahaman itu, hanya dapat menghela nafas panjang." Ya udahlah biarin aja. suka-suka dia," gumam Devia pada akhirnya.
Sementara Rivaldo menatap tajam entah ke arah ke mana. yang jelas, laki-laki Tampan itu tampak sekali memendam rasa geramnya
__ADS_1