Penyesalan Seorang Sahabat

Penyesalan Seorang Sahabat
Keputusan Devia


__ADS_3

Beberapa hari setelah kejadian itu, Devia memutuskan untuk kembali ke kotanya. Kembali bersekolah di sekolahan yang lama. Walaupun, Gadis itu merasa berat meninggalkan paman dan bibinya yang pasti akan sedih saat dirinya tidak ada.


Tapi, apa mau dikata, hatinya terlalu sakit untuk mengingat semua kejadian dan perlakuan yang dilakukan oleh Rivaldo terhadapnya.


" sayang, Apa benar kau ingin kembali bersekolah di kotamu lagi?" tanya Velove yang tiba-tiba sudah berada di samping gadis itu.


Tentu saja kehadiran sang bibi, membuat Devia terkejut. dan dengan segera, menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Kemudian, Gadis itu menganggukkan kepala. Pertanda, bahwa benar dirinya akan kembali ke kota asalnya


" nanti, kalau sudah di sana, jangan lupa sering-sering mampir ke sini ya, pasti bibi akan merasa kangen dengan keponakan kesayangan bibi ini." ucap wanita paruh baya itu Seraya memeluk Devia dengan sangat erat.


Devia yang mendengarnya, menganggukkan kepala." pasti itu bi, Devia pasti akan selalu mengingat bibi dan sering-sering datang ke sini." ucapnya mengulas senyum tipis.


Walaupun, di dalam hatinya, Gadis itu sudah bertekad dan sudah mengambil keputusan, tidak akan pernah datang ke kota yang menorehkan luka cukup dalam di hatinya itu.


Tin tin


Tiba-tiba saja, terdengar suara klakson mobil dari arah depan. dan dengan segera, Velove dan Devia bangkit dari duduknya. berjalan menghampiri sumber suara itu.

__ADS_1


senyum Devia seketika mengembang. Saat, mendapati kedua orang tuanya sudah berada di depan mobil mereka.


" bapak, ibu," serunya Seraya berjalan menghampiri kedua orang tuanya Seraya merentangkan kedua tangannya.


Mereka bertiga akhirnya berpelukan seperti Teletubbies." Bapak kangen banget loh, akhirnya kamu bisa kembali ke rumah kita." ucap Melvin Soraya tersenyum tipis.


Devia yang mendengarnya, juga ikut tersenyum. dan setelahnya, mengurai pelukan. Kemudian, menatap kedua orang tuanya secara bergantian.


" sudah Devia, Ibu tahu apa yang kamu rasakan. dan ibu juga tahu, apa yang menimpamu akhir-akhir ini." ucap Sephia yang sepertinya mengerti tentang tatapan putrinya itu.


Karena menurutnya, permasalahan ini cukup ditangani oleh mereka berdua saja. dan biarkan Devia dan juga Rivaldo, yang menyelesaikan semuanya.


Sementara para orang tua, tidak perlu ikut campur. Karena memang, ini adalah masalah mereka berdua. Walaupun, Devia tahu, itu pasti tidak akan pernah mungkin terjadi. Karena bagaimanapun, orang tua Pasti akan ku campur jika anaknya mendapatkan sesuatu hal yang buruk.


" Sudahlah Devia, Ibu sama Bapak tahu kok semuanya. Sekarang, lebih baik kita segera pulang saja. dan besok, kamu akan langsung masuk ke sekolah swasta. bareng sama Nita teman kecil kamu." ucap Sephia Seraya mengusap kepala putrinya itu.


Mendengar hal itu, Devia segera menganggukkan kepala dan mengikuti langkah kedua orang tuanya untuk segera masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


" hati-hati ya kalian, jangan lupa sering-sering mampir ke sini!" teriak Velove. saat, Devia sudah masuk ke dalam mobil.


Devia yang mendengarnya, menganggukkan kepala Seraya Melambaikan tangan. Setelahnya, mobil itu segera melaju dengan kecepatan sedang.


" bapak nggak menyangka, ternyata Rivaldo bisa sekejam itu padamu. kalau tahu begini, tidak akan pernah bapak izinkan kamu pindah ke sini." ucap Melvin dengan nada penuh kekecewaan.


Tak ada sahutan dari Devia. Gadis itu hanya terdiam Seraya menundukkan kepala. Karena sejujurnya, dirinya pun juga sama seperti kedua orang tuanya. sangat-sangat kecewa. Lama, mereka terdiam, hingga, tak terasa, mobil yang mereka tumpangi Akhirnya sampai di depan bangunan yang bertuliskan" Britney school" itu.


Devia dibawa oleh kedua orang tuanya untuk menuju ke ruangan kepala sekolah. dan di sepanjang perjalanan itu, semua mata tak henti-hentinya menatap Devia dengan Tatapan yang berbeda-beda.


" Jangan pernah pandang anakku seperti itu! karena dia juga manusia seperti kalian!" ucapnya penuh dengan kilatan amarah. dan setelahnya, Melvin beserta anak dan istrinya, kembali berjalan untuk menuju ke ruang Kepala Sekolah. yang memang berada di paling ujung bangunan di lantai tiga itu.


Tepat saat Melvin ingin menuju ke ruang Kepala Sekolah, saat itu juga laki-laki paruh baya itu bertemu dengan seseorang. Seseorang, yang dulu berjanji ingin menjaga putrinya. Namun, itu hanyalah omong kosong belaka.


" dasar kau pembohong! pengecut! suatu saat, jika kau menyesali perbuatanmu itu, Percayalah. saat itu juga, tidak akan pernah ada kata maaf untukmu!" ucap Melvin Seraya menekan pundak laki-laki itu sedikit kuat.


Setelahnya, melangkahkan kakinya untuk menuju ruangan kepala sekolah.

__ADS_1


__ADS_2