Penyesalan Seorang Sahabat

Penyesalan Seorang Sahabat
Kembali Ke Realita


__ADS_3

Hari ini, Devia memutuskan ingin kembali melanjutkan sekolah di sekolahnya yang lama. yang berada tidak jauh dari rumahnya. Sehingga Gadis itu memutuskan untuk berjalan kaki saja. toh jarak antara rumah dan sekolah, tidak begitu jauh hanya sekitar 1 km saja.


" sayang, hari ini kamu sudah bisa sekolah lagi. Ayah sudah mendaftarkanmu ke sekolah yang biasa saja ya, dan kamu langsung masuk ke X-α" ucap Sephia saat mereka Tengah duduk di kursi meja makan.


Devia yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala Seraya tersenyum tipis. Memang, sepertinya ini lebih baik daripada dirinya harus bersekolah di tempat yang menurutnya tidak cocok. dan harus bergaul dengan orang-orang sekaya mereka.


"huh, memang lebih baik sepertinya, Aku bersekolah di sini saja. karena di sana, aku merasa, semenjak aku datang ke sana, semua mata sudah memandangku dengan tatapan sebelah mata." gumam Devia Seraya mencoba untuk menghela nafas panjang.


Tampaknya Gadis itu masih merasa berat dan bimbang karena meninggalkan Rivaldo."hais, aku mikirin apa sih, Nggak jelas banget." ucapnya Seraya menyambar tas yang berada di kursi.


Kemudian menghampiri ibunya yang Tengah duduk di ruang tamu Seraya menjahit sebuah kain yang tampak mewah." eh Bu, lagi ngapain" tanya Devia Seraya menghampiri sang ibu.


" Eh sayang, ini Ibu lagi jahit sapu tangan khusus untuk kamu." ucap wanita paruh baya itu Seraya menatap putrinya dengan senyuman kecil di bibirnya.

__ADS_1


" Kamu mau berangkat?" tanya wanita paruh baya itu. Seraya meletakkan sapu tangannya yang memang sudah jadi itu.


Devia yang mendengarnya, hanya menganggukkan kepala. Kemudian, meraih tangan sang ibu dan mengecupnya." kalau begitu Devia pamit dulu. Dadah" ucapnya Seraya Melambaikan tangan ke arah sang ibu.


" hati-hati ya, Oh ya apa kamu jalan kaki?" tanya Sephia. Devia yang mendengarnya, hanya menganggukkan kepala. dan dengan segera, gadis itu keluar dari rumahnya.


Di sepanjang perjalanan, Devia sesekali memejamkan mata sembari menghirup udara yang begitu segar. berbeda dengan kota yang dulu dirinya tempati. Karena di sini, kendaraan-kendaraan tidak begitu lalu lalang. Sehingga membuat udara di kota itu sedikit lebih sejuk dari kota yang lain.


" back to realita!" gumamnya Seraya perlahan-lahan membuka mata dan melepaskan kepalan tangannya. Seakan akan, Gadis itu telah melepaskan beban yang menghukum pikiran dan hatinya.


*******


" Devia!" kepala gadis itu seketika memutar. saat mendengar namanya dipanggil dari arah belakang.

__ADS_1


" Maudy!" seru Devia Seraya berjalan menghampiri gadis yang baru saja Memanggil nama Devia itu.


" kok kamu balik lagi ke sini, Bukankah kamu bilang mau mendampingi teman kecilmu?" tanya Maudy setengah menyindir dan melirik ke arah Devia.


Seketika itu pula, Devia yang mendengarnya, mencebikan bibir Seraya memutar bola mata malas. saat mendengar ledekan dari temannya itu.


" Sudahlah, tidak usah dibahas. Anggap saja, aku tidak memiliki teman yang bernama Rivaldo." ucap Devia Seraya menarik tangan Maudy.


Sementara Maudy yang mendengar itu, sesaat mengernyitkan kening karena merasa heran dengan kata-kata yang dilontarkan oleh temannya itu. Namun demikian, gadis itu tetap mengikuti langkah kaki Devia. hingga akhirnya, mereka sampai di depan kelas yang akan menjadi tempat Devia menuntut ilmu.


" Woi Devia balik woi!" teriak salah seorang laki-laki yang memang Sedari Dulu mengagumi sosok Devia itu.


Dengan gerakan cepat, laki-laki itu menghampiri Devia dan segera menariknya untuk duduk di bangku kosong yang ada di sana." kok kamu bisa ada di sini, Bukannya kamu akan mengejar teman kecilmu itu?" hanya laki-laki itu dengan nada yang sama dengan Maudy. yaitu mengejeknya habis-habisan.

__ADS_1


" udahlah nggak penting Romi." ucap Devia mendengus kesal. kemudian bangkit dan menuju ke tempat duduk yang sudah Dipilihkan oleh sang ayah.


Laki-laki yang memiliki tahi lalat di pipinya itu, seketika menyunggingkan senyuman tipis." akhirnya kau kembali" gumamnya dengan nada yang sangat Lirih.


__ADS_2