Penyesalan Seorang Sahabat

Penyesalan Seorang Sahabat
Pengganggu


__ADS_3

Tak lama berselang, beberapa orang masuk ke dalam kelasnya. dengan melipat kedua tangannya di depan dada. dan tentu saja, memasang wajah yang begitu mengerikan.


Devia yang melihat itu, merasa sedikit terkejut dengan pemandangan yang ada di hadapannya. bukan karena kedua gadis jahat yang sering ia temui. Melainkan, seorang gadis yang pernah menjadi teman baiknya di masa lalu.


Siapa lagi jika bukan Yeslin. Yap. Gadis itu kini bersekongkol dengan Melani dan juga Celine yang terus saja mengganggunya.


Devia tidak pernah menyangka jika seseorang akan berubah secepat ini dan sedrastis ini. Padahal, Dulu mereka berdua begitu akrab. dan Devia pernah menaruh harapan besar pada gadis itu. untuk menjadi tempatnya berkeluh kesah dan membagi semua rasa.


Namun, semua prasangkanya ternyata salah. karena Yeslin sekarang sudah menjadi bagian dari mereka yang membenci Devia.


" enak nih ya, yang direbutkan oleh kedua laki-laki tampan. sudah merasa jagoan kali ya," ucap Celine Soraya menekankan kalimat-kalimatnya. Seraya menatap sinis ke arah Devia.


" ya bangga lah, kan menjadi" giliran" diantara kedua laki-laki tampan dan juga famous di sekolahan ini," ucap Melani Seraya menatap sinis ke arah Devia.


Brak


Seketika itu pula, Devia segera menggebrak meja dengan begitu kerasnya. hingga membuat semua yang ada di sana, seketika merasa sangat terkejut.


" kamu ini apa-apaan?! Hah!" bentak Celine dengan nada yang cukup tinggi. karena gadis itu sudah merasa muak dengan sikap sok manja yang ditunjukkan oleh Devia.


" kakak yang apa-apaan. jaga ya mulut kalian! Jangan pernah menuduhku sembarangan! atau kalian akan menyesal dengan perkataan kalian!" ucap Devia tak kalah garangnya.


Sejenak, ketiga gadis itu Saling pandang. karena jujur, mereka semua baru saja melihat sisi lain dari seorang Devia Maharani. yang mana, gadis itu tak pernah berbuat kasar seperti ini.


Ternyata, gadis lemah seperti Devia mempunyai emosional yang cukup kuat juga ya, pikir mereka bertiga secara bersamaan.


" sekarang, lebih baik kalian semua pergi dari sini. Bukankah ini bukan ranahnya kalian? lalu untuk apa kalian ke sini?!" tanya Devia dengan nada yang sangat dingin.


" Ah terserah kami dong, ini kan bukan sekolahan kamu, ngapain kamu ngusir-ngusir kami?!" ucap Celine tidak mau kalah.

__ADS_1


Malas karena tidak mau berdebat, Devia akhirnya memutuskan untuk keluar dari dalam kelas. karena memang, pelajarannya juga belum dimulai. karena ini hari pertama kenaikan kelas.


Devia memutuskan untuk berjalan-jalan menyusuri koridor sekolahan seorang diri. Karena kini, Gadis itu benar-benar sendiri lagi. tak ada sahabat ataupun teman. karena memang, di sekolahan ini dirinya merasa asing.


" Ah sudahlah, Lebih baik aku Pergi saja ke perpustakaan. di sana sepertinya lebih aman untuk menenangkan diri." ucap Devia dengan berjalan secara perlahan-lahan.


*****


Tak lama berselang, akhirnya gadis cantik itu, telah sampai di depan perpustakaan itu dan dengan segera, Gadis itu memasuki ruang Baca yang ada di dalam perpustakaan itu.


Dirinya sama sekali tidak memperdulikan tatapan dari sebagian orang yang menatapnya dengan tatapan sinis dan juga sedikit merasa risih. Devia sama sekali tidak menggubrisnya. yang terpenting baginya, saat ini dirinya tidak mengganggu orang lain, Maka jangan ada yang pernah mengganggunya.


***


Akhirnya, Gadis itu memilih tempat duduk yang berhadapan langsung dengan jendela kaca yang membentang di seluruh ruangan itu. Yap ruangan baca ini, terlihat sangat mewah dengan desain kaca di beberapa Sisi.


" Hai cantik, Aku kira kamu ada di mana, aku cariin tahu nggak" ucap laki-laki itu dengan segera duduk di hadapan Devia.


" Kak Michael ngapain cari aku?" tanya Devia dengan raut wajah kebingungan.


Sementara Michael yang mendengar itu, hanya membalasnya dengan senyuman manis." nggak papa kangen aja sama kamu" ucapnya tersenyum simpul.


" dasar gombal" ucapnya mendengus kesal. dan dengan segera, kembali membaca buku yang ada di tangannya itu.


sementara itu, Michael, sejak dari tadi, laki-laki itu tak henti-hentinya memandangi Devia yang memang semakin mempesona seiring dengan bertambahnya usia gadis itu.


Bentuk wajahnya yang oval, kulit putih Seputih porselen, juga mata yang membulat indah. Sangat amat memikat hati dan juga penglihatan laki-laki itu. Hingga tak sadar, kedua sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman manis. setiap kali melihat mahakarya Tuhan dari dekat.


" ngapain sih liatin aku kayak gitu?" ucap Devia yang mulai merasa risih dengan tingkah laku Michael.

__ADS_1


" nggak papa, kamu cantik aja kalau lagi serius gitu." ucapnya dengan masih menyunggingkan senyum.


"huh dasar! Kenapa hidupku selalu dipenuhi dengan pengganggu." ucapnya dalam hati. Namun demikian, Devia tidak berani langsung mengatakan hal itu pada laki-laki yang ada di hadapannya itu.


Bisa-bisa, dirinya akan langsung mendapatkan masalah dari siswa-siswa yang memang mengidolakan Michael. daripada menambah masalah dan juga musuh, lebih baik Devia mendiamkan diri.


Tanpa disadari, Lagi Dan Lagi ada banyak sekali pasang mata yang memandang mereka dengan tatapan berbeda-beda seperti dulu.


Siapa lagi pelakunya jika bukan orang-orang yang dulu menatap Devia dengan Tatapan yang sama.


***


Devia dan Michael berjalan beriringan untuk memasuki kelas gadis itu. karena memang, hari ini, Michael tidak ada jadwal untuk pergi ke kampus.


Laki-laki itu sengaja pergi ke kampus hanya untuk melihat kegiatan dan wajah cantik dari Devia. sungguh sifat asli dari laki-laki. Namun, sayangnya, laki-laki itu masih belum berani untuk menyatakan perasaannya pada gadis yang menjadi incaranya itu.


* ya Sekarang sudah sampai, masuk dan belajar yang benar ya," ucapnya Seraya mengusap kepala Devia dengan gerakan sayang.


Gadis itu hanya menganggukkan kepala. Kemudian dengan segera, duduk di bangku kesayangannya. dan tak lama berselang, seseorang masuk dengan ekspresi wajah yang sangat menyeramkan.


Siapa lagi jika bukan Rivaldo. laki-laki itu masuk dengan ekspresi wajahnya sangat menyeramkan. Seperti seseorang yang tengah menguliti musuhnya secara hidup-hidup.


Tentu saja hal itu membuat Devia merasa sangat ketakutan. Gadis itu tanpa terdiam di tempatnya. sementara Rivaldo, laki-laki itu melayangkan tatapan tajam dan mengintimidasi terhadap sahabatnya itu.


" ada hubungan apa kalian?" tanya Rivaldo dengan ekspresi wajah datar dan juga nada sedikit menyeramkan dan juga dingin.


" aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Kak Michael," ucapnya dengan suara lirih dan juga menduga menatap laki-laki itu.


Jujur Saja, Devia merasa sangat ketakutan melihat ekspresi sahabatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2