
Beberapa tahun kemudian,....
Kini Devia telah berusia 15 tahun dan telah duduk di bangku kelas 3 sekolah menengah Pertama. Devia juga masih bersekolah di Yayasan Britney school itu. bersama dengan Rivaldo dan juga Yeslin.
Mereka bertiga semakin mengakrabkan diri satu sama lain. eh ralat. Hanya Yeslin dan juga Devia yang mengabrabkan diri. sementara Rivaldo, laki-laki itu hanya mengharapkan diri dengan Devia saja.
Bahkan laki-laki itu akan bersikap sangat protektif saat melihat Devia didekati oleh laki-laki lain. karena memang, Rivaldo lambat laun telah memiliki perasaan kepada sahabat kecilnya itu.
Namun laki-laki itu tidak berani untuk menyatakan perasaannya pada sahabat kecilnya itu. karena memang, prinsipnya lebih baik kehilangan cinta daripada kehilangan sahabat.
Tanpa diketahui oleh siapapun, Yeslin sepertinya menaruh perasaan yang lebih pada laki-laki yang bernama Rivaldo Abbas itu.
Terbukti dengan berkali-kali Yeslin melirik dan mencuri-curi pandang ke arah laki-laki Tampan itu. namun sayangnya, Rivaldo tidak pernah menanggapi perhatian dan juga semua hal yang ditunjukkan oleh Yeslin padanya.
Laki-laki itu hanya sibuk memperhatikan Devia seorang. tanpa mau menatap ke arah wanita lain. Seperti halnya di kantin ini.
Rivaldo tak henti-hentinya memperhatikan apa yang dimakan oleh Devia. laki-laki itu seakan tak peduli dengan semua mata yang memandang ke arahnya.
" eh kak Rivaldo, mau ini nggak?" tanya Yeslin Soraya menyodorkan bekal sarapannya.
Rivaldo yang melihat itu, hanya menggelengkan kepala. dan dengan segera, kembali menatap dan memperhatikan Devia yang Tengah sibuk menyantap makanannya itu.
Rivaldo mengusap rambut Devia dengan sangat gemas. hingga, membuat rambut itu sedikit berantakan.
" eh kak Rivaldo, rambut aku jadi berantakan ini." ucap Devia sedikit merajuk. Setelahnya mencebikkan bibir karena merasa kesal dengan tingkah laki-laki yang ada di sampingnya itu.
" nggak usah di monyong-monyongin. Nanti kalau aku khilaf, aku Pacarin gimana?" tanya Rivaldo Soraya mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
Seketika itu pula, mata Devia melotot menatap tajam ke arah laki-laki itu." jangan macam-macam ya Kak, aku nggak mau persahabatan kita berantakan hanya karena cinta." ucap Devia dengan wajah merah padam karena menahan emosi.
" Hehehe nggak kok Devia sayang. aku itu hanya bercanda. nggak usah serius-serius." ucap Rivaldo dengan memaksakan tersenyum.
Karena laki-laki itu kembali Patah Hati dengan jawaban yang dilontarkan oleh Devia. "Seandainya kamu memiliki perasaan yang sama, aku akan sangat merasa bahagia." gumam Rivaldo dalam hati.
Sementara itu Devia juga terdiam Seraya tangannya sibuk memasukkan makanan ke dalam mulut." Kak Rivaldo, Apa aku salah Jika aku memiliki perasaan padamu?" tanya Devia dalam hati.
Yap baik Devia maupun Rivaldo, sepertinya memiliki perasaan yang sama terhadap diri masing-masing. Namun Kendati demikian, mereka berdua sama-sama tidak berniat untuk mengungkapkan satu sama lain.
Apalagi, mereka masih sama-sama menjadi pelajar. dan telah mendapatkan beberapa wejangan dari orang tua masing-masing. agar memprioritaskan pendidikan mereka terlebih dahulu. Daripada perasaan masing-masing.
" Ayo dimakan. nggak baik melamun di depan makanan." ujar Yeslin memecah keheningan. Setelah beberapa saat mereka bertiga terdiam dan terhanyut dalam lamunan masing-masing.
Devia yang mendengar itu, segera menganggukkan kepala dan segera menghabiskan bekal yang dibuatkan oleh sang Bibi.
****
Sepanjang koridor sekolah, Rivaldo dan juga Devia seringkali bersenda gurau tanpa memperhatikan dan menghiraukan keberadaan Yeslin.
" sepertinya memang benar Rivaldo lebih memilih Devia daripada aku." gumam Yeslin Saraya menghela nafas panjang.
Gadis cantik bermata sipit itu, memang sudah lama memendam perasaan terhadap laki-laki yang bernama lengkap Rivaldo Abbas itu. Bahkan, dirinya nekat untuk menolak beberapa laki-laki dari sebayanya hanya untuk menunggu terbukanya hati Rivaldo.
Namun sepertinya itu hanyalah akan menjadi pekerjaan yang sia-sia. karena Yeslin dapat melihat Pancaran mata kedua anak manusia itu yang seperti Tengah memendam perasaan satu sama lain.
"huh, Apakah aku harus mundur untuk hal ini?" tanya Yeslin dalam hati. Seraya sesekali, menatap interaksi antara Devia dan juga Rivaldo yang begitu Intens dan hangat.
__ADS_1
****
Devia dan Yeslin kini telah berada di dalam ruang kelas |X-A diantar oleh Rivaldo. hal itu semakin membuat teman-teman yang ada di dalam kelas itu, semakin merasa iri dengan sikap dan kehangatan laki-laki Tampan itu.
" udah ya gembul, sekarang kamu belajar yang rajin. Aku mau kembali ke sekolahku dulu. dadah gembul. Nanti aku jemput lagi. karena sepertinya, Mama ingin ketemu sama kamu." ucap Rivaldo serayangsap rambut sahabat kecilnya itu.
Devia yang mendengarnya, hanya menganggukkan kepala dan dengan segera duduk di bangkunya bersama dengan Yeslin. yang memang masih Setia menjadi teman sebangkunya dari dulu sampai sekarang.
Baru saja kedua gadis cantik itu duduk di kursinya, seorang datang menghampiri Devia dengan menyunggingkan senyuman manis.
Devia yang melihat Siapa yang datang, seketika tersenyum tipis dan segera beranjak dari duduknya." Kak Michael, apa kabar? Sekarang sudah mulai sombong ya, nggak pernah temuin aku lagi semenjak kuliah" ucap Devia dengan wajah cemberutnya.
Michael yang melihat itu, hanya terkekeh pelan. dan dengan segera, mengusap kepala Gadis itu dengan perasaan sayang.
" Maaf ya, aku akhir-akhir ini sibuk sekali. karena kan baru selesai semester. jadi aku sibuk mempersiapkan semuanya." ucap Michael tersenyum tipis.
Devia yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala dan tersenyum tipis. dan setelahnya, mereka berdua berbincang-bincang seperti apa yang dilakukan Devia pada Rivaldo itu.
Hingga, membuat seseorang yang memang berada di sana, merasa sangat geram dengan tingkah yang diperlihatkan oleh Devia. Sepertinya, gadis itu udah merasa sangat lelah dengan semua yang ada di hadapannya.
Mengapa semua laki-laki seakan terpesona dengan seorang Devia Maharani. padahal Gadis itu memiliki fisik yang kurang baik. namun Mengapa justru kekurangan Devia itu membuat orang-orang mendekatinya.
" ini tidak bisa dibiarkan." ucap gadis itu dalam hati. dan dengan segera, berjalan meninggalkan ruangan kelas tanpa sepengetahuan Devia dan Michael yang tengah sibuk dan asik berbincang-bincang.
****
Bel pulang pun berbunyi sekitar 3 menit yang lalu. namun nampaknya, Devia masih enggan untuk beranjak dari duduknya. entah apa yang membuatnya sangat nyaman duduk di tempat duduknya.
__ADS_1
" Ayo kita pulang, kita dijemput sama Mama aku." ucap Rivaldo Seraya menarik dengan Devia. Lagi Dan Lagi tanpa memperdulikan perasaan Yeslin.
Hari ini Devia akan berkunjung ke rumah Rivaldo Yang Dulu mereka tempati. Karena sekarang, kedua orang tua Rivaldo telah kembali pindah dan menempati rumah yang mereka sempat tinggalkan.