Penyesalan Seorang Sahabat

Penyesalan Seorang Sahabat
Mulai Goyah Dengan Pendirian Awal


__ADS_3

Beberapa hari setelahnya, Devia sama sekali tidak menunjukkan ekspresi sedihnya. Gadis itu malah sangat berbahagia. Karena sebentar lagi, mereka semua akan menyambut anggota keluarga baru. tentu saja hal itu akan membuat Devia menjadi ceria kembali.


Gadis itu, sudah tidak memperdulikan lagi mantan sahabatnya yang kini semakin angkuh dan sinis saat menatapnya. yang dipikirkan oleh Devia saat ini, mutila Rasa Bahagia yang selalu menyelimuti hatinya.


*****


Pagi ini Devia berangkat ke sekolah menggunakan ojek langganan yang memang sengaja di pesankan oleh sang ayah beberapa hari yang lalu.


Walaupun mereka tidak ada yang mengetahui permasalahan yang tengah dihadapi oleh Devia dan juga Rivaldo. karena memang, gadis cantik itu tidak pernah mengatakan hal apapun pada orang tuanya Begitu juga dengan bibi dan Pamannya.


Lagi pula, menurut Devia, masalah yang dihadapi terlalu sepele untuk diketahui oleh keluarganya. Biarlah itu menjadi urusan Devia dan juga Rivaldo. Keluarganya jangan sampai mengetahui hal ini.


Karena sudah dapat dipastikan, Kedua keluarga itu pasti akan langsung bermusuhan dan ribut besar. dan Devia tidak ingin hal itu terjadi. Karena bagaimanapun, gadis cantik itu masih menganggap kedua orang tua Rivaldo, seperti orang tuanya sendiri. tak akan pernah berubah sampai kapanpun.


Walaupun Mungkin perasaan Devia tidak akan pernah sama seperti dulu terhadap laki-laki itu. tapi yang jelas, Devia tidak ingin memusuhi kedua orang tua Rivaldo.


Biarlah Devia mengibarkan bendera perang terhadap Rivaldo. Namun, Gadis itu masih akan tetap menyayangi kedua orang tua mantan sahabatnya itu.


" Paman, bibi, Devia berangkat dulu ya," ucap gadis itu Soraya meraih dan mencium punggung tangan kedua manusia paruh baya itu.


" iya hati-hati ya, Kalau ada masalah sama Rivaldo, tolong diselesaikan segera. jangan berlarut-larut seperti ini." pesan Velove terhadap Devia.


Mendengar penuturan dari sang Bibi, Devi hanya mengangguk. dan setelahnya, gadis cantik itu segera menghampiri tukang ojek yang sudah stand by di depan rumah bibinya itu.


" Devia,!" tiba-tiba saja, terdengar seseorang memanggil namanya dari arah belakang. hal itu tentu saja membuat gadis itu, seketika menoleh dan mendapati Ibu dari mantan sahabatnya Tengah berdiri di ambang pintu.


" Iya Tante, ada apa?" tanya Gadis itu Seraya menghampiri wanita paruh baya yang masih tetap cantik di usianya yang menginjak 40 tahun itu.


" kamu sama Rivaldo ada masalah?" tanya Meita Seraya mengusap kepala Gadis itu dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Devia yang mendengar itu, seketika menduga menatap wanita paruh baya dengan Tatapan yang sulit diartikan." tidak tante, kami baik-baik aja kok." ucap Devia tersenyum semanis mungkin. agar wanita paruh baya yang ada di hadapannya mempercayai ucapan yang keluar dari mulutnya.


" tapi kenapa kalian jarang bersama?" tanya Meita yang masih merasakan keraguan yang menyelimuti hatinya.


" Oh itu mungkin karena kami sama-sama sibuk saja tante, lagi pula kan Kak Rivaldo ada ekskul di sekolahnya Pasti sangat sibuk sekali." ucap Gadis itu Seraya menggembungkan pipi tersenyum lebar.


Meita yang mendengar itu, menatap lekat ke arah dua mata gadis itu. ada setitik luka di mata gadis itu. Namun, Meita tidak tahu luka Apa itu.


" kamu berangkat sama siapa?" tanya wanita paruh baya itu Seraya melongokkan kepala melihat ke sekitar.


" itu ada tukang ojek di depan." ucap Devia Seraya menunjuk ke arah tukang ojek yang masih berada di tempatnya.


" mah Rivaldo berangkat dulu ya," tiba-tiba saja, dari arah belakang terdengar suara seorang laki-laki yang sangat Devia kenal. tentu saja, hal itu membuat gadis cantik itu, segera melangkah menjauh dari rumah itu.


" Kenapa kalian nggak bareng aja ke sekolah?" tanya Meita Seraya menatap dua remaja itu secara bergantian.


" sibuk!"


Ucapan mereka, hampir saja bersamaan. hal itu tentu saja membuat alis Meita seketika terangkat ke atas karena merasa kebingungan.


" kalian nggak lagi menyembunyikan sesuatu kan?" tanya Meita Seraya menatap ke arah mereka secara bersamaan.


tentu saja hal itu membuat Devia yang mendengarnya, seketika menoleh dan mematung di tempatnya." tidak tante kita tidak ada masalah apa-apa kok." ucapnya Seraya menyunggingkan senyuman tipis.


Sementara Rivaldo yang melihat itu, hanya menatap Devia dengan tatapan penuh misteri dan tidak bisa ditebak oleh siapapun.


" Ya sudah kalau begitu, tante ke dalam dulu, mau temani Om Rendy siap-siap." ucap Meita Seraya melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah.


***

__ADS_1


Selepas kepergian dari wanita paruh baya itu, Devia menghela nafas panjang. dengan segera, Gadis itu melangkahkan kakinya untuk menghampiri tukang ojek yang masih berada di tempatnya.


" Jangan pernah berharap aku akan tertarik padamu!" ucap seseorang dari arah belakang. tentu saja, suara itu membuat Devia seketika terdiam.


Dengan segera, Gadis itu membalikkan tubuhnya. Kemudian, menatap Rivaldo dengan tatapan penuh kebencian. dan juga senyuman miring yang sangat menakutkan.


" tidak ada yang berharap untuk menjadi bagian dari kehidupanmu." ucapnya dengan nada yang sangat dingin dan juga angkuh.


Sejenak, Rivaldo menatap Gadis itu dengan Tatapan tak percaya. dia berpikir, Devia akan bersikap lembut kepadanya. seperti biasanya. Namun sepertinya, sekarang hal itu sangatlah mustahil.


Devia segera meninggalkan Rivaldo yang masih mematung di tempatnya. Gadis itu merasakan Hatinya sudah mulai goyah dengan pendirian awal.


" Ayo Pak jalan!" ucap gadis itu saat sudah duduk di jok penumpang. tukang ojek itu, hanya menganggukkan kepala. dan dengan segera, melajukan motornya meninggalkan kawasan rumah itu.


*****


" makasih Pak," ucap Devia Seraya menyerahkan helm kepada laki-laki paruh baya itu." nanti jam 01.00 jangan lupa dijemput ya," lanjutnya Seraya melangkahkan kaki untuk menjauh dari tukang ojek itu.


Sepanjang perjalanan, Devia seperti biasa menjadi pusat perhatian. karena kekurangan yang ia miliki. Namun demikian, Gadis itu tidak memperdulikan orang-orang yang ada di sekitarnya. Menurutnya, mereka semua itu tidak lebih dari seorang pecundang dan juga penjilat.


kalau saja Gadis itu tidak memiliki kekurangan fisik seperti ini, dapat dipastikan, jika Devia akan mendapatkan teman yang sangat banyak. Namun, juga bermuka dua.


Devia yang menyadari bayangan-bayangan yang memutari kepalanya, seketika menggelengkan kepala Seraya tersenyum dingin.


" tidak berguna!"


Devia kembali melangkahkan kakinya untuk menyusuri koridor sekolah. kali ini, Gadis itu memutuskan untuk menaiki tangga agar bisa sampai di kelasnya.


****

__ADS_1


Tak berselang lama, Devia kini telah duduk di sebuah Bangku Kosong yang ada di ruang kelas itu. Sejenak, Gadis itu merasa sedih karena tidak memiliki teman satupun.


Namun seketika, rasa sedihnya berubah menjadi Rasa Bahagia saat melihat Michael berjalan menghampirinya.


__ADS_2