Penyesalan Seorang Sahabat

Penyesalan Seorang Sahabat
Jadi Rebutan


__ADS_3

Bel pulang sekolah, sudah berdering beberapa menit yang lalu. semua siswa, seketika keluar dari dalam kelas masing-masing untuk menuju ke rumah mereka. Mengistirahatkan otak yang seharian dipaksa untuk berpikir.


" akhirnya pulang juga, ngebul nih otak." ucap Romi yang berjalan di antara Maudy dan juga Devia.


" Halah, segitunya kamu. besok tuh baru wow, ada pelajaran yang berat-berat." ucap Maudy Soraya melirik sinis ke arah Romi.


Seketika itu pula, laki-laki itu berfikir menggunakan otaknya yang sedikit lemot akibat pelajaran hari ini sangatlah susah.


"eh, bener juga Apa kata kamu. Besok mah lebih susah. Waduh mam-pus!" ujarnya Seraya menepuk keningnya sendiri.


Trntu saja hal itu membuat Devia dan Maudy yang mendengarnya, seketika Saling pandang. dan tak berselang lama, mereka berdua tertawa terbahak-bahak.


Namun, tawa itu tak berlangsung lama. karena di saat itu pula, mata Devia menatap ke arah pagar sekolahnya. dan mendapati, orang-orang yang dia kenal berada di luar pagar.


" mau apa mereka?" tanya gadis cantik itu pada dirinya sendiri.


Maudy yang mendengar perkataan dari Devia, segera menatap gadis itu." Kamu kenapa Devia?" tanya Maudy Seraya matanya ikut menatap ke arah luar pagar.


" oh tidak apa-apa. Sekarang, Aku pulang dulu ya bye bye." ucapnya Seraya Melambaikan tangan ke arah Romi dan juga Maudy.


Devia menolak saat Romi mengatakan ingin mengantarnya. lagi pula, Gadis itu tidak ingin merepotkan orang-orang yang ada di sekitarnya. lagi pula, arah rumah mereka berbeda.

__ADS_1


***


" berhenti!" seru salah seorang gadis yang memang berada di luar pagar. saat melihat Devia keluar dari area sekolahnya.


" mau apa kalian? aku sudah tidak ada urusan lagi dengan kalian. Jadi, Jangan pernah ganggu aku." tegas Devia.


"Cih." Melani yang mendengar itu, berdecih tidak suka. " nggak usah sok polos kamu. kamu senang kan, diperebutkan oleh dua laki-laki? dasar murahan!" ucapnya dengan Tatapan yang sangat tajam.


Plak


Seketika itu pula, satu tamparan keras, mendarat mulus di pipi Melani. hingga membuatnya, terpental kuat ke arah samping.


" Kak Melani, bibir Kakak berdarah!" ucap Celine Soraya menunjuk ke arah wajah Kakak tingkatannya itu.


" kamu berani sama aku?!" tanya Melani Seraya melayangkan tatapan tajam ke arah Devia.


Sementara Devia, Gadis itu juga ikut melayangkan tatapan tajamnya. seakan, tidak pernah Gentar dalam menghadapi dua wanita yang ada di hadapannya itu.


" untuk apa aku takut hmm?!" ucapnya Seraya menggeram kesal. Kemudian, melangkahkan kakinya untuk mendekati Melani yang sedikit menciut itu.


" jangan pernah bangunkan kucing sedang tidur. Jika kamu tidak ingin kena cakarannya!" ujarnya Seraya mencengkeram kuat rahang Melani. hingga membuat gadis itu, seketika meringis karena merasa sakit.

__ADS_1


Kemudian, segera melangkahkan kaki untuk keluar dari lingkungan sekolah itu. Jangan dipikir Devia akan merasa takut dengan mereka-mereka yang menindasnya. mungkin dulu ya, tapi sekarang, tidak akan pernah lagi.


Mungkin saja, Devia harus merasa bersyukur dan mengucapkan terima kasih terhadap Rivaldo. karena berkat olahannya kemarin, Gadis itu menjadi semakin berani terhadap orang-orang yang menyakitinya.


*****


Sepanjang perjalanan, Gadis itu tidak fokus dalam melangkah. Hingga tak menyadari, keberadaan dua laki-laki yang berada di sisi kiri dan kanannya. Devia, sudah seperti seorang Ratu yang dikawal oleh dua prajurit.


" ngelamunin apa sih?" ucap seseorang hingga membuat Devia tersentak kaget. dan dengan segera, menoleh ke arah sumber suara.


Gadis itu merasa sangat terkejut. karena mendapati, Michael yang berada di samping kiri dirinya." Kakak ngapain ada di sini, katanya kemarin ada urusan?" tanya Devia dengan penuh perhatian.


Hingga membuat seseorang berada di samping kanan Devia, mengeram kesal karena merasa cemburu dengan interaksi yang dilakukan oleh dua anak manusia berbeda jenis itu. Siapa lagi orangnya jika bukan Rivaldo.


"ekhem!"


Sebuah suara dari arah kanan, membuat Devia seketika menoleh. dan sekali lagi, Gadis itu merasa terkejut. Karena kini, dirinya diapit oleh dua orang laki-laki.


"huft" Devia segera menghela nafas panjang. dan dengan segera, langsung menaiki motor milik Michael." jalan Kak!" ujarnya tanpa berniat sedikitpun untuk menoleh ke arah samping kanannya.


Michael yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala. Kemudian, dibalik helm full face nya, tersenyum kecil. Karena merasa menang dari Rivaldo.

__ADS_1


"arrggh! sialan!" ujar laki-laki itu Soraya memukul pohon yang berada di samping kiri jalan tempatnya berdiri itu.


__ADS_2