Penyesalan Seorang Sahabat

Penyesalan Seorang Sahabat
Tak Perduli


__ADS_3

Jam istirahat sudah berlangsung sekitar 5 menit yang lalu. Namun, tampaknya Devia belum berminat untuk beranjak dari tempat duduknya. gadis cantik itu, masih berkutat dengan alat tulisnya yang terletak di atas meja.


Kruuk,.. Kruk,...


tiba-tiba saja, suara di dalam perutnya terdengar begitu nyaring. hingga membuat gadis itu, seketika meringis karena cacing yang ada di dalam perutnya sedang berdemo Ria.


"haish, kenapa aku jadi lapar seperti ini sih, padahal malas sekali untuk berjalan ke kantin. Tapi,.. Rasanya sangat lapar." gumamnya Seraya bangkit dari tempat duduknya.


Akhirnya, setelah mempertimbangkan cukup lama, Devia memutuskan untuk mengganjal perutnya dengan membeli makanan ringan saja. Karena sejujurnya, Gadis itu merasa sangat malas jika harus bertemu dengan orang yang bermuka dua. salah satu contohnya adalah mantan sahabatnya sendiri.


*****


Devia segera berjalan menyusuri koridor sekolahan untuk menuju ke kantin sekolah. yang memang berada di belakang bangunan sekolah itu. Dan, seperti dugaannya, dirinya akan menjadi pusat perhatian dari semua orang yang ada di sana.


Namun, sekali lagi, Devia merasa sangat tidak perduli dengan semua itu. yang ada dalam tujuannya saat ini, adalah meraih prestasi dengan cukup Gemilang. agar bisa membuka usaha seperti pamannya itu. dan yang lebih penting, dirinya tidak perlu bertemu dengan laki-laki yang bernama Rivaldo Abbas.


Devia tetap melangkahkan kakinya untuk menuju ke arah penjual martabak mini yang memang ada di sekolah itu.

__ADS_1


" Mau pesan apa?" tanya penjual itu Seraya menatap ke arah Devia dengan tatapannya sangat tidak suka. Devia yang melihat itu, seketika hanya menghela nafas panjang.


" martabak Mininya 2 dan juga es jeruknya 2." ujarnya dengan ekspresi wajah yang sangat datar. dan dengan segera, penjual martabak mini itu menuruti permintaan Devia.


Sementara Devia sendiri, menatap penjual itu dengan sorot mata kebingungan. Mengapa, dirinya harus tidak disukai oleh hampir semua orang yang ada di sekolahan ini. dan seketika itu pula, Devia merasa rindu dengan teman-temannya yang ada di kota K.


Setelah menunggu hampir 15 menit, akhirnya pesanan Devia sudah jadi. dan dengan segera, gadis itu membayar semua pesanannya. dan setelahnya, segera membawa ke dalam kelas. Karena rencananya, Devia akan menikmati makanan siangnya di dalam kelas saja.


" Devia!" Panggil seseorang yang mampu membuat jantung Devia serasa berhenti di tempatnya. dan dengan perlahan-lahan, Gadis itu menolehkan kepalanya ke arah sumber suara.


Degh


" mau apa dia? belum Puaskah selama ini menggangguku dan menyakitiku?" tanya gadis itu di dalam hatinya.


Devia masih bergeming di tempatnya. dengan tatapan, yang masih menatap Rivaldo dengan Tatapan yang sulit diartikan.


" Devia, sebenarnya, Aku ingin meminta maaf atas semua yang terjadi diantara kita. aku hanya berharap,...." Rivaldo tidak melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


Laki-laki itu menatap ke sekeliling. Seakan-akan, Tengah mencari sesuatu. dan setelah menemukan apa yang ia cari, Rivaldo segera menarik Devia hingga ke tengah-tengah kerumunan siswa itu.


" aku hanya berharap, kau segera pergi dari kehidupanku. karena aku, sama sekali sudah tidak peduli denganmu lagi." ucapnya Seraya menghempaskan tangan gadis itu.


Tentu saja, hal itu membuat Devia seketika membulatkan mata. dan dengan segera, mata indah gadis itu mengeluarkan cairan bening. yang seketika membasahi pipinya.


" bagus Rivaldo, Kau sungguh laki-laki hebat. bisa mempermalukan sahabatmu sendiri di hadapan umum." ucap salah seorang gadis yang datang menghampiri Rivaldo dan juga Devia yang masih mematung di tempatnya.


" Tentu saja itu akan aku lakukan. Karena, hatiku pun sudah merasa tidak nyaman bersama dengan gadis parasit ini." ucapnya penuh dengan penekanan.


Tentu saja hal itu membuat Reina yang mendengarnya, tersenyum dengan sangat puas. Kemudian, dengan segera melangkahkan kakinya untuk mendekati ke arah Devia.


" kau dengarkan gadis kampungan, Rivaldo itu sudah tidak ingin bertemu denganmu lagi. Jadi, untuk apa kau masih berada di sini?" tanya Gadis itu dengan nada yang sangat sinis.


Devia yang sedari tadi menemukan kembali, seketika mendongak menatap ke arah orang-orang yang ada di sana. yang kini, Tengah menatapnya dengan tatapan yang berbeda-beda.


" cukup! cukup kalian semua. Jangan pernah kalian menghinaku lagi. dan untuk kamu kak Rivaldo, aku kecewa dengan apa yang kamu ucapkan itu. sampai kapanpun, Aku tidak akan pernah memaafkanmu!" ucapnya Seraya melangkahkan kaki untuk meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


"heh, Sayangnya aku tidak peduli!" ucap Rivaldo penuh dengan nada tinggi. tentu saja, Hal itu membuat Devia yang mendengarnya, semakin merasa kesakitan.


__ADS_2