
" Apa maksud kamu Yeslin?" katanya Devia yang memang tidak mengerti dengan maksud gadis-gadis yang ada di hadapinya itu.
" jika seseorang laki-laki, mulai menjauhimu, itu berarti apa?" tanya Celine Seraya menatap sinis ke arah Devia.
Sejenak, Devia mematung di tempatnya. Gadis itu seakan mencerna apa yang tersirat di dalam ucapan kakak kelasnya itu. Lalu, kepala Devia menggeleng pelan saat baru saja mengerti apa yang dimaksud oleh orang-orang yang ada di hadapannya itu.
" tidak mungkin, Kak Rivaldo tidak akan pernah tega melakukan hal itu." ucap Devia berusaha untuk mengelak tentang kenyataan yang ia hadapi itu.
" Terserah Kalau tidak percaya, yang jelas, Rivaldo sudah tidak ingin berteman denganmu lagi." ucap Yeslin Seraya melangkah pergi dari sana. diikuti oleh, Celine dan juga Melani.
" Apa benar yang mereka katakan itu?" tanya gadis Itu pada dirinya sendiri. merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Yeslin dan teman-temannya.
Padahal, jelas-jelas Devia sudah mengalami hal yang tidak mengingatkan dari seorang Rivaldo Abbas. Namun demikian, Gadis itu masih berusaha berpikir positif.
*****
Bel pulang sekolah, sudah berdering hampir 15 menit yang lalu. namun demikian, Devia masih enggan untuk beranjak dari duduknya.
Dengan perlahan-lahan, gadis cantik itu beranjak dari duduknya. dan dengan segera, melangkahkan kakinya untuk keluar dari kelas.
Tepat di saat Devia melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam lift yang menuju ke dasar bangunan, tak sengaja Gadis itu mendengar percakapan dari seseorang yang menurutnya sangat familiar di Indra pendengarannya.
Dengan perlahan-lahan, Devia berjalan mendekati arah kerumunan beberapa siswa kakak kelasnya yang tengah bercengkrama di depan kelas mereka.
" Valdo, hubunganmu dengan Devia gimana?" tanya seorang laki-laki dengan menatap ke arah Rivaldo yang tengah memainkan ponselnya.
" membosankan!" satu kata itu yang berhasil keluar dari dalam mulut laki-laki Tampan itu.
Degh
__ADS_1
Devia yang mendengar itu, seketika langkahnya terhenti. dan jantungnya, seakan terhimpit batu besar saat Rivaldo mengatakan hal itu. tak terasa, air mata Gadis itu seketika meleleh saat mendengar penuturan dari laki-laki yang sangat ia kagumi itu.
" jahat kamu Kak hiks hiks hiks." ucap Gadis itu dengan bibir terisak dan tubuh terguncang hebat. Lama Devia menangis, hingga akhirnya gadis itu memutuskan untuk pergi dari sana.
Namun, baru dua langkah gadis itu Mengayunkan kakinya menjauh dari sana, terdengar suara Rivaldo dan teman-temannya seperti Tengah mengejek Devia.
Tentu saja, Hal itu membuat langkah gadis itu seketika terhenti. dan dengan perlahan, Gadis itu mulai melangkah untuk mendekati tembok yang menjadi penyekat mereka.
" Emang lu selama ini, nggak ada rasa gitu sama dia?" tanya salah seorang siswa kepada Rivaldo.
" Enggak kayaknya, sepertinya kemarin, aku hanya khilaf saja. Apalagi setelah melihat kenyataan bahwa ternyata, gadis yang bernama Devia Maharani itu, adalah sosok gadis gampangan." ucapnya Seraya tersenyum mengejek.
Sakit? jelas saja itu sangat menyakitkan. Apalagi kata-kata itu, keluar dari mulut laki-laki yang ia anggap seperti Dewa. Entah bagaimana rasa sakit yang dirasakan oleh gadis itu, yang jelas, saat ini Devia Tengah mematung di tempatnya.
Tubuhnya bergetar dengan sangat hebat. seakan-akan, tulang-tulangnya tidak berfungsi sama sekali untuk menyangga tubuhnya itu. hingga akhirnya,...
Devia jatuh berlutut dengan air mata yang mengalir di wajah cantiknya. tentu saja hal itu membuat Rivaldo dan teman-temannya tercingkat karena merasa terkejut.
" Devia!" seru salah satu dari mereka. dan dengan panik, menatap ke arah Rivaldo seperti mengisyaratkan sesuatu yang gawat.
Namun, di luar dugaan. karena ternyata, Rivaldo tidak bergeming di tempatnya. Bahkan, saat ini tatapan dari dari Rivaldo, begitu dingin dan menakutkan. dan dengan perlahan-lahan, laki-laki Tampan itu berjalan mendekati Devia yang masih saja terduduk di lantai.
" Kamu jahat Kak hiks hiks." ucap gadis itu terisak Seraya menatap Rivaldo dengan perasaan hancur penuh luka di dalam hatinya.
Sementara Rivaldo yang melihat itu, malah tersenyum sini. kemudian, mencengkeram dagu Devia. hingga membuat gadis itu, sedikit meringis kesakitan.
"awh, kak lepasin, sakit!" ucapnya dengan tangan berusaha melepas cengkraman laki-laki itu.
Entah apa yang merasuki pikiran dari laki-laki tampan itu. hingga membuat Rivaldo yang mempunyai sikap dan sifat yang sangat lembut, berbanding terbalik dan bersikap kasar seperti itu pada Devia.
__ADS_1
" Kak Rivaldo jahat! kenapa bisa seperti ini kak? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Gadis itu Seraya menatap mata uang dari Rivaldo.
" nggak usah banyak bicara! mulai sekarang, aku tidak ingin menjadi sahabatmu lagi" ucap Rivaldo Soraya masih menetap dingin ke arah Devia.
" apa sebenarnya yang terjadi?" tanya gadis itu Seraya bangkit dari duduknya.
" tidak ada yang terjadi, tapi sepertinya, aku sudah mulai sadar. mungkin saja, dulu pandangan dan hatiku tertutup oleh kebodohanku. sehingga aku, berteman dengan gadis sepertimu." ucap Rivaldo dengan nada yang sangat mengejek dan menghina.
" Kak Rivaldo keterlaluan! Beginikah cara seorang laki-laki sejati memperlakukan seorang wanita?" tanya Devia dengan nada yang sangat tinggi.
Untungnya, kondisi sekolahan ini sudah sepi tidak ada orang atau pun siswa. jika tidak, pasti mereka semua akan berkerumun menyaksikan pertengkaran hebat di antara kedua mantan sahabat akrab itu.
" sayangnya, kamu bukan wanita idamanku. kamu itu tidak lebih dari seorang benalu." ucap Rivaldo masih dengan ekspresi wajah mengejek.
Devia yang mendengar itu, seketika mere-mas kedua tangannya yang berada di depan." Baiklah kalau begitu, sampai kapanpun juga, Aku tidak akan pernah memaafkanmu Tuan Rivaldo Abbas yang terhormat.!" ucap Devia menekankan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.
Tapi sungguh, Rivaldo merasa tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh gadis itu. dan dengan segera, laki-laki itu melangkahkan kaki dan menyambar tas yang ada di sebelah dinding depan kelas itu.
Kemudian bergegas meninggalkan Devia yang masih menangis tersedu-sedu di tempatnya. Sementara teman-teman Rivaldo yang melihat itu, merasa sedikit kasihan pada gadis itu.
" yang sabar ya Devia, Kalau begitu kami permisi dulu" ucap Ezra saat berpapasan dengan Devia. begitupun juga dengan Messi, laki-laki keriting bertubuh hitam manis itu, juga sangat merasa kasihan.
Mereka semua segera meninggalkan Devia seorang diri. sementara gadis itu, secara perlahan-lahan bangkit dan berjalan meninggalkan tempat itu. dengan dada yang masih bergemuruh. akibat ribut besar yang baru saja terjadi.
****
Sesampainya di parkiran, Gadis itu segera menyetop sebuah taksi yang kebetulan melaju di hadapannya. dan tanpa pikir panjang lagi, Devia Segera menaiki taksi itu.
" mampus lu!" ucap seseorang sesaat setelah Devia meninggalkan area sekolah itu.
__ADS_1