
Beberapa hari setelah kejadian itu, Devia Malah semakin menghindar. dan itu membuat Rivaldo, merasa sangat tersiksa. Selain tersiksa karena rasa bersalahnya, ada rasa Hampa dan kosong di relung hati paling dalam. dan laki-laki itu, baru menyadari, jika kehadiran Devia sangat berarti baginya.
Semenjak kejadian itu pun, laki-laki Tampan itu menjadi sedikit uring-uringan. Hal itu membuat kedua orang tuanya, menjadi sedikit kasihan.
" ayah, Bunda sangat merasa kasihan dengan keadaan Rivaldo. apa kita mencoba meminta maaf kepada Devia saja?" tanya Meita Seraya menatap Putra dan suaminya secara bergantian.
Rendy yang mendengar penuturan dari istrinya itu, sesaat menghela nafas panjang." sepertinya, ini akan sulit Bun. Apalagi, kedua orang tua Devia sudah sangat membenci anak kita." ucapnya dengan ikut memandang ke arah Rivaldo yang tengah termenung di tepi kolam.
Kini, giliran Meita yang menghela nafas panjang. Karena, apa yang dikatakan oleh suaminya itu ada benarnya. Ini semua, adalah kesalahan fatal yang dilakukan oleh putranya. Jadi, wajar jika keluarga Devia tidak mau memaafkan atau bahkan membuka pintu rumahnya.
" memang, penyesalan itu berada di belakang. kalau di depan namanya pendaftaran." ucap Rendy mencoba untuk mencairkan suasana. dan sepertinya, usahanya berhasil. Karena, terlihat istrinya itu tersenyum tipis.
Kemudian, wanita paruh baya itu bangkit dari duduknya kemudian, berjalan menghampiri putranya yang masih termenung di tempat yang sama.
" Apa kamu sudah menyesal?" tanya seseorang dengan suara berat dari arah belakang. Seketika itu pula, Rivaldo segera menoleh ke arah sumber suara. dan mendapati, kedua orang tuanya Tengah berdiri Seraya bersedekap dada.
" sangat, andai waktu dapat berputar, Rivaldo tidak akan pernah melakukan hal bodoh semacam itu." ucapnya penuh dengan penyesalan.
" memang kau bodoh Rivaldo!" ucap Rendy menggeram kesal.
"Pah," tegur Meita.
__ADS_1
Walaupun, wanita paruh baya itu sangat kecewa terhadap putranya, namun Meita sama sekali tidak rela jika putranya itu ada yang menghina. Walaupun itu, adalah suaminya sendiri. yang tak lain dan tidak bukan, adalah ayah dari anaknya.
Begitulah sosok ibu, perasaan yang begitu sensitif. Apalagi, jika melihat anak yang dilahirkannya dengan susah payah, mengalami hal kesulitan seperti saat ini. terlalu lemah memang. namun, itulah kenyataannya.
Rendy yang melihat dan mendengar teguran dari istrinya itu, hanya dapat menghela nafas panjang. Setelahnya, melangkahkan kakinya untuk pergi ke dalam rumah.
Jujur saja, laki-laki paruh baya itu merasa sangat marah dan kecewa terhadap Putra semata wayangnya itu. Mengapa, putranya itu bisa melakukan hal seperti itu. Membuat Rendy, merasa gagal dalam menjadi seorang ayah.
" Pasti ayah kecewa banget ya Bun?" tanya Rivaldo Seraya membuang muka.
Meita yang mendengar ucapan dari putranya itu, hanya dapat menghela nafas panjang. Kemudian, kembali menatap manik hitam putranya.
" apa kau, benar-benar menyesal, dan berjanji tidak akan pernah melakukan hal itu lagi?" tanya Meita Soraya menyentuh pundak Rivaldo.
Pemandangan itu, jelas membuat Meita merasa sangat terkejut. Karena seumur hidup wanita itu, tak pernah melihat putranya menangis. Walaupun babak belur sekalipun. Namun, Lihatlah sekarang. putranya menangis Seraya memohon kepadanya.
Hati Ibu mana yang tidak bergetar saat menyaksikan hal itu. Ya, begitulah laki-laki. dirinya tidak akan pernah merasa sakit jika dilukai fisiknya. Namun, akan sangat merasa Terpukul, jika dilukai perasaannya.
" Baiklah kalau begitu, Bunda akan coba untuk menghubungi Devia dan mengajaknya bertemu. Tapi, kau juga tidak boleh terlalu berharap. Karena, wanita jika sedang marah, atau bahkan kecewa, akan susah untuk meluluhkannya." ucap Meita Seraya mengusap pundak laki-laki itu.
Rivaldo yang mendengar itu, menganggukan kepala." Terima kasih Bun, semoga saja, hatinya segera dilembutkan." ucapnya tersenyum kecil.
__ADS_1
Meita yang mendengar itu, menganggukkan kepala. Kemudian, dengan segera melangkahkan kakinya untuk menyusul sang suami yang telah terlebih dahulu berada di dalam rumah.
" aku akan berjuang untuk mendapatkanmu!" ucap Rivaldo Soraya mengepalkan tangannya. Sepertinya, dekat laki-laki itu, akan sangat kuat untuk mendapatkan hati sahabatnya kembali.
Namun, Apakah itu akan berhasil?, kita tunggu saja nanti. Hehehe.
****
Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di keluarga Devia, terlihat Gadis itu Tengah menutup dan membuka sebuah kado berukuran kecil yang berada di tangannya.
" dari siapa itu sayang?" tiba-tiba saja, Sephia datang menghampiri putrinya itu. hingga membuat gadis itu, hampir saja menjerit. karena merasa terkejut.
" astaga! Ibu ngagetin aja!" serunya Seraya mengerucutkan bibir. Hal itu membuat Shepia terkekeh pelan.
" lagian, Kamu dipanggil Kenapa nggak denger?" omel Sephia.
Kemudian, pasang netranya fokus menatap ke arah kotak yang berukuran sedang yang tengah dipegang oleh putrinya itu.
" dari siapa? Michael ya," tebak wanita paruh baya itu. dan dijawab angkutan kecil oleh Devia.
" sepertinya, laki-laki itu sangat berusaha keras untuk mendapatkanmu." ucapnya Seraya mengusap kepala Devia.
__ADS_1
Memang, Sephia sangat melihat keseriusan di mata Michael. Namun, entah apa yang terjadi hingga membuat Devia masih enggan untuk membuka hatinya. Padahal, wanita paruh baya itu melihat dengan jelas perjuangan keras yang ditunjukkan oleh Michael pada putrinya. dan itu membuat, Sephia merasa sangat terharu. Karena, jarang-jarang ada laki-laki yang se gigih itu untuk memperjuangkan sesuatu.