
Setelah Melvin dan juga Sephia mendaftarkan kepindahan anaknya ke sekolahan yang baru yang ada di kota K, mereka segera memutuskan untuk kembali ke rumah Velove. Karena rencananya, hari ini juga Devia akan pindah kembali ke kota asalnya.
Di sepanjang perjalanan menuju ke kediaman sang bibi, pikiran Devia seakan-akan melayang. memikirkan banyak hal yang berputar-putar dan memenuhi isi kepalanya.
Tentang Michael yang terang-terangan meminta izin ingin mendapatkan hatinya, juga pikiran tentang ucapan bibinya beberapa hari yang lalu.
" Jangan pernah tinggalkan bibi. Bibi sudah merasa senang dengan adanya kamu di sini. jangan buat Bibi bersedih lagi." begitulah ucapan dari wanita paruh baya itu.
Mungkin saja, Velove sudah merasakan Firasat jika keponakannya itu akan pergi meninggalkan dirinya. Walaupun, Devia hanya kembali ke kotanya. namun tetap saja, jarak kota K dan kota P, itu sangatlah jauh. membutuhkan waktu hampir 5 jam untuk sampai ke tempat yang dituju.
" Devia, Kenapa kamu bersedih nak, Apa kamu masih memikirkan laki-laki itu?" tanya Sephia yang melirik ke arah anak gadisnya yang masih saja terdiam dengan ekspresi wajah murung.
" laki-laki siapa Bu,?" tanya Devia dengan ekspresi wajah bingung. karena memang, yang masuk ke dalam kehidupannya ada dua orang laki-laki. walaupun salah satunya, menorehkan luka yang cukup dalam di relung hatinya.
" Michael lah. sayang, emang kamu pikir siapa, Rivaldo?" tanya Sephia Seraya melirik ke arah sang putri.
__ADS_1
Mendengar nama seseorang yang sangat ia benci disebut, Devia dengan segera menggelengkan kepala. sebagai pertanda, bahwa gadis cantik itu tidak memikirkan apa yang diucapkan oleh sang ibu.
" Devia, Bapak harap kamu jangan pernah memikirkan tentang laki-laki itu. dan bapak melarang, untuk kamu berhubungan dengan laki-laki itu dalam bentuk apapun. termasuk dengan keluarganya" ucap Melvin dengan nada yang sangat serius dan juga dingin.
Sontak saja, Devia yang mendengar ucapan dari sang ayah, hanya dapat memasang wajah datar dan juga menganggukkan kepala. Karena, jika ayahnya sudah bersikap seperti ini, maka itu tandanya, Apa yang dilakukan Rivaldo sudah sangat keterlaluan.
Sebab Melvin adalah sosok Ayah yang sangat humoris kepada keluarga kecilnya. dan jika laki-laki itu sudah bernada seperti itu, itu tandanya tidak ada lagi bantahan dari anggota keluarga yang lain.
Devia yang mendengarnya, hanya menganggukkan kepala. dan setelah itu, suasana kembali begitu hening. Hingga mobil yang mereka tumpangi telah sampai di kediaman sang bibi.
" Apa kalian akan benar-benar membawa Devia pulang hari ini?" tanya Velove dengan raut wajah sedih.
Wanita paruh baya itu tahu, Apa yang menyebabkan kakaknya itu sedih. karena memang, hari-hari Velove hanya dijalani hanya berdua saja dengan sang suami. dan saat ada Devia, Velove begitu senang.
Namun sekarang, semua harus kembali berpisah. karena suatu hal yang tidak terduga. dan sesaat sebelum mereka kembali ke dalam mobil, Devia tak sengaja melihat ke arah rumah Rivaldo yang sedikit terbuka. dan di sana, menampilkan wanita paruh baya Tengah menatapnya dengan tatapan sendu.
__ADS_1
Siapa lagi jika bukan Meita. wanita paruh baya itu sama sekali belum mengetahui tentang apa yang sebenarnya terjadi. hingga membuat, Devia memutuskan untuk kembali ke kota asalnya.
Padahal setahu dirinya, Devia sangat antusias saat orang tuanya mengirimnya ke kota ini. Namun, Mengapa sekarang malah seperti ini.
" Ayo masuk!" ucap Melvin Seraya menarik tangan Devia untuk masuk ke dalam mobil. saat laki-laki paruh baya itu mengetahui Meita akan keluar dari dalam rumahnya.
tentu saja hal itu membuat Meita, kembali mengurungkan niatnya. dan melangkah masuk ke dalam rumah.
*****
" Devia, nanti setelah makan, Ibu mau bicara kepadamu." ucap Sephia saat mereka sama-sama masuk ke dalam rumah.
Mendengar ucapan dari ibunya, Gadis itu hanya menganggukkan kepala. dan melanjutkan melangkah menuju ke kamar pribadinya. yang sudah hampir beberapa tahun ini tidak ditempati. karena Devia tinggal di rumah sang bibi.
" Ada apa Bu,?" tanya Gadis itu saat mereka Tengah duduk di tepi ranjang. Sephia yang mendengarnya, mengulas senyum tipis Seraya tangannya mengusap kepala Gadis itu dengan perasaan sayang.
__ADS_1
" jangan pernah membenci seseorang secara berlebihan sayang. kau tahu kan, tentang rasa benci yang kamu rasakan sekarang, itu salah satu akibat dari rasa sayangmu yang berlebihan." ucap ibunya menasehati.
Devia yang mendengar nasehat ibunya, hanya menganggukkan kepala dan tersenyum tipis. Setelahnya, Sephia dari dalam kamar anaknya Soraya mangga dan nafas panjang.