Penyesalan Seorang Sahabat

Penyesalan Seorang Sahabat
Ending


__ADS_3

Setelah pertemuan Devia dan juga Rivaldo, hubungan mereka sudah semakin erat dan sudah mulai bercanda kembali. Namun, Kendati demikian, sepertinya Devia masih enggan untuk menerima laki-laki itu kembali.


Bukan karena masa lalu Gadis itu yang membuatnya enggan untuk menerima Rivaldo. Namun, Entah mengapa Devia merasa tidak berselera untuk menjalin hubungan dengan laki-laki itu. Padahal, dulu sangatlah bersemangat untuk mendapatkan laki-laki itu, namun, mungkin karena Seiring berjalannya waktu, membuat Devia sadar bahwa perasaan yang sebenarnya itu, bukanlah perasaan sayang melainkan hanya perasaan kagum Semata


" sampai kapan kau akan meratapi kepergian kekasihmu itu?" tiba-tiba saja, terdengar suara seorang wanita paruh baya yang berjalan menghampirinya.


" Maksudnya apa Bu, siapa yang meratapi kepergian dia?" tanya Devia tidak mengerti.


" lalu, jika tidak meratapi kepergian kekasihmu itu, Mengapa sampai sekarang masih belum menerima Rivaldo atau Romi?" tanya Sephia yang saat ini, duduk di sebelah gadis cantik itu.


Devia yang mendengar ucapan dari ibunya itu, seketika menghela nafas panjang." Devia sudah melupakan semuanya. Tapi, untuk kembali kepada Rivaldo ataupun Romi, Devia tidak bisa." ucapnya menundukkan kepala.


" kenapa, Kenapa tidak bisa? mereka berdua itu sangat baik padamu dan sepertinya, sangat mencintaimu." ucap Sephia Soraya mengusap kepala Putri sulungnya itu.


" baik bukan berarti Cinta Bu," ucapnya Soraya mengulas senyum tipis.


" Maksudnya bagaimana?" tanya Sephia yang masih tidak mengerti.


"Setelah kepergian dari Kak Michael, Devia baru menyadari jika perasaan yang tumbuh selama ini, itu ternyata bukan perasaan cinta. Melainkan, sebuah perasaan kagum Semata." ucapnya memandang ke arah langit-langit kamar.


Sephia yang mendengar penuturan dari putrinya itu, seketika paham dengan apa yang gadis itu rasakan dan Gadis itu maksud.


" Ya sudah kalau begitu, Semua terserah padamu. Karena kehidupan ini kamu yang jalani. Tapi, satu pesan ibu jangan pernah mengambil keputusan dalam hati yang panas atau pun kurang baik. karena hasilnya pun akan kurang baik juga." Sephia mengingatkan putrinya.

__ADS_1


Devia yang mendengar penuturan dari ibunya itu, hanya menganggukkan kepala Soraya tersenyum tipis.


" entahlah, Mengapa aku tidak memiliki rasa sama sekali dengan mereka berdua. Sepertinya, ada yang salah dengan hatiku." ucapnya seorang diri. setelah, ibunya keluar dari dalam kamar.


" apa ini karena hatiku telah terpaut oleh kamu Kak?" Devia mengambil sebuah bingkai foto yang ada di atas meja dan meraihnya.


Memang, setelah kepergian Michael beberapa tahun yang lalu, Devia seakan tidak memiliki selera untuk tertarik terhadap lawan jenis. Bahkan, Rivaldo dan Romi pun, selalu ia tolak dengan alasan yang tak jelas.


" sampai kapan kamu akan seperti ini?" tiba-tiba saja, Devia mendengar suara seseorang yang perlahan mendekat ke arah dirinya.


" Maudy, Sejak kapan kamu ada di sini? Kok aku nggak nyadar?" tanya Devia dengan raut wajah keheranan.


Maudy yang mendengar itu, tersenyum simpul. kemudian, duduk di samping sahabatnya itu dan memeluknya dengan erat.


" jangan meratapi sesuatu hal yang sudah tidak ada. Nanti, Kak Michael akan merasa sedih jika kau melakukan itu." ucap Maudy Seraya mengusap kepala Devia seperti seorang kakak terhadap adiknya. karena memang, mereka berdua terpaut usia 1 tahun. tapi masuk sekolah bersama-sama.


" lalu, kenapa sampai sekarang kamu belum menentukan siapa yang akan kamu pilih. Di antara Romi dan juga Rivaldo," tanya Maudy dengan raut wajah penasarannya.


Devia yang mendengar itu, seketika terkekeh pelan." bukan, Jika kamu berpikir aku tidak menerima salah satu diantara mereka karena masih terpuruk dengan masa lalu, itu tidak sama sekali. karena aku sudah mengikhlaskan semuanya." Devi yang menjelaskan dengan senyuman tipis.


" lalu?"


" aku memang tidak memiliki rasa pada mereka berdua. Jadi, tidak ada alasan untuk aku menerima salah satu diantara mereka." jelas Devia.

__ADS_1


Maudy yang mendengar itu, mengangguk-anggukkan kepala. Ternyata, pikirannya selama ini adalah salah. dia berpikir, jika Devia sulit move on. Sampai-sampai, tidak ingin menerima laki-laki lain di dalam hidupnya.


" Ya sudah kalau begitu, lebih baik kita jalan-jalan saja. daripada aku bosen." Maudy beranjak dari duduknya dan langsung menarik tangan Devia untuk segera keluar dari dalam kamar.


***


Kini, mereka berdua telah berada di sebuah kedai bakso tempat langganan Devia dan Michael. Sengaja, gadis itu memilih untuk makan di sana untuk mengenang masa-masa Indah itu. bukan untuk meratapi. melainkan, untuk sedikit menghirup udara bebas.


" Hai kalian!" tiba-tiba saja, terdengar suara seseorang dari arah belakang. dan itu membuat kedua Gadis itu seketika menoleh ke arah sumber suara.


" Hai, Yuk duduk sini!" ucap Devia Seraya menarik tangan kedua laki-laki itu. dan akhirnya, mereka sama-sama duduk di tempat Devia dan Maudy saat ini berada.


Sembari makan, mereka berempat memutuskan untuk berbincang-bincang. Mengenang masa-masa yang indah di antara mereka semua.


" Maaf ya, aku tidak bisa menerima salah satu diantara kalian." ujar Devia saat mereka telah selesai menyantap makanannya.


Romi dan Rivaldo yang mendengar itu, tersenyum simpul Seraya menatap Devia dengan Tatapan yang sangat dalam dan juga Tulus.


" tidak apa-apa Devia. Lagi pula, aku sudah menerima kenyataan itu." ucap Rivaldo.


Laki-laki Tampan itu, sudah tidak mengharapkan Devia kembali padanya. Mungkin takdir mereka memang hanya sebatas seorang sahabat. yang terpenting, Gadis itu sudah memaafkan dirinya. Mungkin, ini akan menjadi suatu pelajaran berharga bagi Rivaldo. jangan pernah, meremehkan seseorang hanya karena terhasut oleh orang yang mungkin tidak pernah tulus padanya.


Selesai berbincang-bincang di kedai bakso itu, mereka berempat memutuskan untuk berjalan-jalan di taman kota yang letaknya tidak jauh dari sana. Mereka semua tampak berbahagia dengan sesekali melempar candaan satu sama lain.

__ADS_1


Karena sejatinya, persahabatan itu lebih indah dari sebuah hubungan percintaan.


***** tamat.******


__ADS_2