Penyesalan Seorang Sahabat

Penyesalan Seorang Sahabat
Mulai Berubah


__ADS_3

Beberapa waktu berlalu dengan cukup cepat hingga membuat Rivaldo tampaknya telah sedikit terlena dengan kawan lamanya itu. Hal itu tentu saja membuat Devia, sedikit merasa kesepian. karena memang, yang Devia punya saat ini adalah Rivaldo seorang. sebagai orang yang selalu menjaga dan melindunginya.


Hari ini seperti biasa, setelah bangun tidur, Devia segera beranjak dari tempat tidurnya untuk menuju ke kamar mandi yang memang berada di dalam kamar pribadinya itu. dan dengan segera, gadis cantik itu membersihkan diri.


Setelah hampir 30 menit, Devia akhirnya keluar dari dalam kamar mandi. dengan tubuh yang sudah lebih segar. dan setelahnya, gadis cantik itu segera memoles wajah cantiknya dengan make up yang sangat tipis.


Drrrttt drrrttt.


Saat Devia Tengah asik memoles wajahnya, terdengar ponselnya yang bergetar pertanda ada panggilan masuk.


dengan segera, gadis cantik itu segera mengangkatnya yang yang ternyata memang dari Rivaldo.


" Halo Kak Rivaldo, jadi jemput aku nggak sih," ucap Gadis itu setengah merajuk. Karena, biasanya jika Gadis itu Tengah merajuk, dengan cepat Rivaldo pasti akan langsung membujuknya.


" nggak usah manja, lebih baik sekarang kamu segera keluar dari dalam rumah. aku sudah ada di sana!" ucapnya dengan sedikit Ketus.


Tentu saja hal itu membuat Devia yang mendengarnya, sejenak terdiam. Mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh laki-laki yang ada di seberang sana.


" Kakak kenapa, kenapa berbicara seperti itu?" tanya Devia Seraya menautkan alisnya karena merasa sangat kebingungan.


" nggak usah banyak nanya! lebih baik, sekarang kamu segera keluar saja dari dalam rumah itu!" ucap Rivaldo dengan nada yang sedikit membentak.


Tut,.. Tut,.. Tut,..


Belum sempat Devia membuka suara untuk melayangkan protesnya, dengan cepat, Rivaldo sudah mengakhiri panggilan. tentu saja hal itu membuat Devia, semakin merasa kebingungan.


Namun demikian, gadis itu tetap keluar dari dalam kamar. dan dengan segera, berpamitan kepada paman dan bibinya yang kebetulan sedang duduk santai di ruang keluarga Seraya menonton televisi.


" Paman, bibi, Devia berangkat dulu ya." ucapnya Seraya meraih tangan mereka berdua untuk berpamitan.

__ADS_1


" Ya sudah kalau begitu, kalian hati-hati." ucap Velove pada keponakannya itu. karena wanita paruh baya itu tahu, jika Devia akan berangkat bersama Rivaldo.


Devia yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala dengan ekspresi wajah yang sangat lesu. tentu saja hal itu membuat Agra yang melihat keponakannya yang berbeda, segera berdiri dan berjalan menghampiri gadis yang menjadi keponakannya itu.


" Devia kamu kenapa?" tanya laki-laki paruh baya itu Seraya menghampiri sang keponakan.


Devia yang mendengar itu, segera menggelengkan kepala. Seraya menautkan alis karena merasa kebingungan dengan pertanyaannya dilontarkan oleh sang paman.


" tidak ada apa-apa paman, emangnya kenapa?" tanya Gadis itu dengan ekspresi wajah kebingungan. Agra yang mendengar itu, hanya menggelengkan kepala serai yang mengusap kepala keponakannya itu.


***


Devia segera menghampiri Rivaldo Iya masih setia di atas motornya. namun kali ini, sepertinya berbeda dengan hari-hari sebelumnya. karena ekspresi wajah laki-laki itu, sangatlah datar dan tanpa ekspresi.


Seperti dua orang yang berbeda. berulang kali, Devia tampak mengamati Rivaldo dari dekat. hanya ingin memastikan jika yang ada di hadapannya ini adalah teman kecilnya.


Akhirnya Devia naik ke atas motor Rivaldo. dan dengan segera, laki-laki itu melajukan kendaraannya meninggalkan kediaman keluarga Devia.


di sepanjang perjalanan, gadis Itu tampak sekali merasa tidak nyaman. Saat Rivaldo hanya terdiam saja. dan tak seperti biasanya yang selalu banyak bicara. tentu saja, hal itu sangat berbeda dengan Rivaldo yang biasanya.


" Kak Rivaldo Kenapa sih, Kok diem aja dari tadi? lagi PMS ya Kak hehehe" ucap Devia menggoda sahabat kecilnya itu.


" nggak usah bacot!" sentak Rivaldo dengan nada sedikit meninggi. hal itu tentu saja membuat Devia yang sudah dari tadi heboh, mendadak membisu.


Dirinya sama sekali tidak ingat jika pernah membuat sahabatnya itu berubah seperti ini. Rivaldo seperti bukan sahabatnya. melainkan seperti orang lain.


Namun anehnya, Gadis itu masih saja berpikir positif. dan selalu menganggap, jika Rivaldo hanya sedang nge-prank dirinya. tak lama berselang, motor yang dikendarai oleh laki-laki itu, kini telah sampai di depan Britney school.


" ngapain Masih ada di atas motor? cepetan turun!" ucap Rivaldo Soraya sedikit mendorong kasar ke arah gadis itu.

__ADS_1


tentu saja hal itu membuat Devia yang baru saja mengalami hal tak terduga itu, seketika terhenyak dari lamunannya. dan dengan segera, Gadis itu turun dari atas motor.


" Kak Rivaldo kenapa ya, Kok aneh gini?" tanya Gadis itu Seraya berjalan menyusuri koridor sekolahnya. Tanpa Gadis itu sadari, ada beberapa pasang mata yang mana tap ke arah Devia dengan tetapan yang berbeda-beda.


" Tunggu saja gadis kecil, Kau pasti akan hancur." ucap salah seorang diantara mereka dengan mengetatkan rahang mereka.


****


Setibanya Devia di dalam kelas, Gadis itu segera duduk di bangku paling belakang. karena memang, gadis itu tidak mempunyai teman selama di sini. temannya hanya Rivaldo.


" Eh kenapa ya dengan Kak Rivaldo, kok jadi aneh gini?" tanya gadis itu di dalam hatinya.


Tak berselang lama, bel tanda masuk sekolah pun berbunyi. dan tak berselang Lama pula, semua siswa berhamburan masuk ke dalam kelas. Mereka tampak tidak memperdulikan Devia yang duduk sendiri di pojokan kelas.


***


tak terasa, jam istirahat pun berbunyi. dan dengan segera, semua siswa dan siswi berhamburan keluar dari dalam kelas. Begitupun dengan Devia, gadis cantik itu juga ikut keluar dari dalam kelas.


" Hai cantik, Mau ke mana?" tanya seseorang dari arah belakang. dan dengan segera, Devia pun menoleh. dan mendapati, salah seorang teman lama Rivaldo yang datang menghampiri dirinya.


" eh Iya Kak maaf ada apa?" tanya Gadis itu sedikit ketakutan. Karena memang, selama ini dirinya jarang untuk berdekatan dengan lawan jenisnya. kecuali keluarga dan juga Rivaldo tentunya.


grepp


Tanpa diduga-duga, laki-laki itu segera memeluk Devia dengan sangat erat. tentu saja hal itu membuat gadis cantik itu, menjadi terdiam sesaat. dan setelahnya, Devia mendorong tubuh kekar laki-laki itu.


" Apa maksudmu ini?!" tanya Devia dengan melayangkan tatapan tajam ke arah laki-laki itu. Sementara itu, laki-laki yang bernama Raiden itu hanya tersenyum tipis.


" nggak usah sok nolak, kamu pasti senang kan mendapatkan semua ini?" tanya laki-laki itu sedikit menghina.

__ADS_1


__ADS_2