
Rivaldo berjalan dengan langkah gontai menghampiri dua anak manusia yang tengah menatap satu sama lain dengan tatapan mesra itu.
" Hai Devia," ucap laki-laki itu Seraya mengulas senyum tipis. Tentu saja, itu membuat Devia dan Michael yang tengah berbincang-bincang, seketika menoleh ke arah sumber suara. dan seketika itu pula, suasana menjadi hening. Karena baik Devia maupun Rivaldo, sama-sama terdiam dengan mata yang saling mengunci satu sama lain.
Tentu saja, itu membuat Michael yang menyadari itu, segera berdehem cukup kuat. hingga membuat Rivaldo dan Devia yang terdiam, seketika tersadar.
Michael yang melihat itu, merasa begitu miris. dan sejenak, laki-laki Tampan yang memiliki lesung pipit itu, merasa Apakah cinta kekasihnya itu tulus atau tidak. Karena Michael melihat sendiri, tatapan dari Devia Yang sepertinya, masih ada cinta di dalamnya.
Walaupun, itu mungkin hanya sedikit. Karena hati kecil Michael mengatakan, jika perasaan kekasihnya itu sudah menjadi miliknya.
" kalian bicara saja, aku mau ke toilet dulu." ucap Michael beranjak dari duduknya. Kemudian, dengan segera melangkahkan kakinya untuk menjauh dari dua anak manusia yang masih terdiam di tempatnya itu.
" Jangan Pergi." tiba-tiba saja, Devia berlari menghampiri dan langsung memeluk kekasihnya itu dari belakang. hingga membuat Michael, seketika terpaku di tempatnya. dan tak lama berselang, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman.
__ADS_1
Benar- dugaannya, ternyata kekasihnya itu telah menempatkan namanya di dalam hati. Kemudian, Michael membalikkan badan hingga membuat mereka seketika berhadap-hadapan.
" Apa benar kau mencintaiku?" Michael langsung saja menodong kekasihnya itu dengan pertanyaan.
Hingga membuat Gadis itu seketika terdiam. Namun, matanya menatap dalam ke arah mata Michael. hingga membuat laki-laki itu, seketika tersenyum tipis." kamu nggak usah jawab. aku sudah tahu dari matamu." ucapnya Seraya memeluk tubuh kekasihnya itu.
Devia yang mendengar ucapan kekasihnya itu, hanya menganggukkan kepala dengan sedikit malu-malu. Kemudian, menarik tubuh Michael untuk kembali duduk di tempat semula. Karena Devia yakin, alasan kekasihnya yang ingin ke kamar mandi, itu hanyalah alasan belaka.
" maaf Kak Rivaldo, aku sudah memiliki kekasih." ucapnya penuh dengan penekanan. hingga membuat laki-laki itu, seketika terdiam.
Diam-diam, laki-laki berlesung Pipit itu tersenyum tipis. karena pada akhirnya, dirinyalah yang memenangkan semua ini.
" Baiklah kalau begitu. Aku akan mencoba untuk mengikhlaskan ini semua." ucap Rivaldo dengan senyuman yang dipaksakan.
__ADS_1
Setelahnya, Rivaldo segera melangkahkan kaki untuk menjauh dari sana dengan langkah gontai dan juga senyum yang masih dipaksakan. Devia yang melihat itu, sama sekali tidak memperdulikan mantan sahabatnya itu.
Karena saat ini, yang ia pikirkan adalah perasaan kekasihnya. itu yang lebih penting. Lagi pula, Rivaldo adalah masa lalu baginya. percintaan masa-masa kecil hingga SMP. dan itu pun, harus dikubur dalam-dalam Karena rasa pahit yang ada di dalamnya.
" nggak usah dilihat." ucap Michael sedikit sewot. Entah mengapa, laki-laki berlesung Pipit itu, menjadi kekanak-kanakan seperti ini. Padahal, biasanya diri Michael adalah sosok laki-laki yang sangat dewasa.
"uluh uluh, Mas pacal Cembulu ya,?" ucap Devia menirukan gaya bicara seorang anak kecil Seraya mencubit kedua Pipi laki-laki itu. hingga si pemilik pipi, hanya dapat meringis tanpa dapat berbuat apa-apa.
" Ya iyalah aku cemburu. kamu Itu milikku!" ucap Michael menekankan setiap kalimatnya. hingga membuat Devia, seketika terkekeh pelan.
" iya iya, pacar aku posesif banget sih." ucapnya dengan masih tersenyum kecil.
Pemandangan itu, semakin membuat Michael merasa gemas kepada kekasih kecilnya itu." Duh gemes banget sih, pengen aku karungin terus aku masukin ke kamar." ucap Michael Seraya menahan gemas.
__ADS_1
tentu saja itu membuat Devia yang mendengarnya, mengerucutkan bibirnya." Emang aku barang dikarungin." ucapnya Ketus. hal itu semakin membuat Michael, semakin tertawa renyah.