
Sepanjang perjalanan, Devia dan juga Michael sesekali bercanda dan tertawa. hingga membuat suasana yang sempat tegang, menjadi cair kembali.
Apalagi, Michael adalah sosok yang mudah mencairkan suasana. Sementara Devia juga sosok orang yang sangat energik. hingga tak heran, suasana di antara mereka, kembali kondusif seperti semula.
" mau mampir dulu nggak, makan atau ngemil misalnya.?" tanya Michael menawari.
Devia terdiam sejenak menimbang-nimbang ucapan dari laki-laki yang ada di depannya itu." boleh deh, mau makan es krim ya. sama cemilannya sekalian." ucapnya disertai senyuman kecil.
Michael yang mendengar itu, menganggukkan kepala. Kemudian, mulai memarkirkan motornya di sebuah minimarket yang ada di sana.
" traktir ya Kak!" teriak Devia saat Michael sudah berjalan untuk masuk ke dalam minimarket itu. Sementara dirinya, sengaja menunggu di parkiran.
Tentu saja, teriakan Devia itu membuat Michael sejenak berhenti. dan dengan segera, langsung menoleh ke arah di mana Pujaan hatinya itu berada.
" dasar nyebelin." ucapnya Seraya terkekeh pelan. Kemudian, dengan segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam minimarket itu.
Tepat di saat Michael masuk ke dalam minimarket, Di Saat itu pula, sebuah motor berhenti tepat di samping Devia.
Tentu saja hal itu membuat Devia, seketika menoleh. dan dengan segera, langsung memalingkan wajah. saat mengetahui, Siapa orang yang ada di sebelahnya itu.
" Devia kita perlu bicara!" Ucap orang itu dengan tangan berusaha menggenggam tangan Devia. Namun, dengan segera, Gadis itu menepis kangen laki-laki yang sangat ia benci itu.
" nggak usah pegang-pegang!" ucapnya dengan ada yang sangat Ketus dan juga masih terasa dingin. hal itu tentu saja membuat Rivaldo, hanya dapat menghela nafas panjang.
__ADS_1
" sampai kapan kamu akan terus memusuhiku?" tanya Rivaldo dengan nada yang sangat lembut dan juga memelas.
Membuat Devia, sesaat seperti tersengat aliran listrik. Karena ternyata, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Gadis itu masih merasakan sesuatu yang berbeda. Walaupun hanya secuil.
Namun, dengan cepat, Devia menepis perasaan itu. Karena dirinya bertekad, akan mengubur dalam-dalam perasaan yang pernah ada di hatinya.
Toh mungkin saja, perasaan itu hanya perasaan cinta monyet dan bersifat sementara. karena Devia yakin, Seiring berjalannya waktu, dan seiring bertambahnya usia, perasaan itu akan menghilang.
" Apakah kau tidak akan pernah memaafkanku?" tanya Rivaldo kembali. dengan ekspresi wajah yang sangat meluas. Namun, Entah mengapa, Devia sama sekali tidak tersentuh.
Gadis cantik itu Justru malah tersenyum miring. dengan mata yang berkilat amarah." Bagaimana rasanya disakiti oleh orang yang paling kamu sayang? sakit bukan? Itulah yang aku rasakan dulu. tapi sekarang, semua sudah terkubur dalam-dalam!" ucapnya dengan penuh penekanan.
Bersamaan dengan perkataan gadis itu, Michael keluar dari dalam minimarket. Sesaat, laki-laki Itu tampak tertegun saat melihat pemandangan yang ada di hadapannya itu.
" Kak Michael, kok malah bengong, ayo sini!" teriak Devia dengan Melambaikan tangan. tentu saja hal itu membuat Michael, seketika tersadar dari lamunannya.
" Makasih Kak Michael, baik banget deh." ucapnya dengan senyuman lebar. tentu saja hal itu membuat Rivaldo yang ada di sana, sedikit merasa terbakar dengan interaksi yang dilakukan oleh Devia.
" Devia kita harus,--" belum sempat, Rivaldo melanjutkan ucapannya, Devia sudah naik di atas motor milik Michael.
Gadis itu segera menyentuh pinggang Michael untuk berpegangan. dan itu sangat jelas membuat Rivaldo merasa sangat cemburu. entah apa yang di inginkan oleh laki-laki itu. Bisa-bisanya, berbuat seolah-olah tidak pernah melakukan kesalahan terhadap Devia.
Padahal tidak ada sebab kalau tidak ada akibat. kalau saja, dulunya dia tidak berubah seperti itu, maka dapat dipastikan, sekarang ini Rivaldo Masih bersama dengan Devia.
__ADS_1
Memang, penyesalan itu ada di belakang. jika berada di depan, itu namanya pendaftaran hihihi. Maka dari itu, jika manusia ingin melakukan sesuatu, hendaknya memikirkan secara matang-matang.
Karena, jika salah memilih jalan, hanya penyesalan lah yang akan menemani di sisa-sisa waktu yang dia punya di dunia ini.
" tadi kamu sama sahabat kamu itu, ngomongin apa? kok kayak tegang gitu?" tanya Michael. saat mereka, sudah berada di depan rumah Devia.
Plak
Satu geblakan itu, seketika mendarat mulus di punggung Michael. saat mendengar ucapan dari laki-laki itu. hingga membuat Michael, seketika meringis karena merasakan panas dengan punggungnya.
" kok dipukul?" tanya Michael dengan ekspresi wajah cemberut.
" habisnya Kakak nyebelin!" ucap Devia mendengus kesal. dengan bibir, yang mengerucut. hingga membuat laki-laki itu, seketika terkekeh pelan.
Merasa gadis yang ada di hadapannya ini, sangatlah lucu dan menggemaskan." ternyata kamu orang yang tetap pada pendirian." ucap Michael tersenyum tipis.
" itu harus Kak, agar kita, sebagai seorang wanita, tidak diinjak-injak oleh orang lain." ucapnya tersenyum lebar.
Michael yang mendengar itu, juga ikut tersenyum. Kemudian, tangannya mengusap kepala gadis itu. dengan sangat lembut.
" masuk sana! setelah itu, kunci pintu, makan terus tidur." ucapnya tersenyum jahil.
Sontak saja, hal itu membuat Devia, seketika membulatkan mata. karena tahu arah pembicaraan dari laki-laki yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
" enak aja, Aku bukan anak kecil tau nggak." ucapnya memalingkan wajah dengan perasaan sebal.
Tentu saja hal itu membuat Michael tertawa dengan terbahak-bahak.