
Seminggu setelah kepergian Michael, Devia masih tetap murung. gadis cantik itu, bahkan tidak berniat keluar rumah. Walaupun, kedua orang tuanya telah mati-matian untuk membujuk gadis cantik itu. Namun, hasilnya tetaplah nihil. Gadis itu, Malah semakin murung dan mengurung diri di tempatnya.
" sayang, Ayolah keluar jangan mengurung diri seperti itu!" terdengar suara sang Ibu dari depan kamarnya.
" nggak Bu, Devia mau belajar." ujar gadis itu dengan nada suara yang sedikit gemetar karena menahan tangis.
Rasa Sesal yang teramat besar, membuat Devia sedikit meratapi dan berandai-andai. Andai saja, Gadis itu tidak meladeni Rivaldo untuk berbicara, maka semua ini tidak akan pernah terjadi.
Walaupun Devia tahu, pelaku yang menabrak Michael adalah Melani dan juga Celine. itu Devia dapatkan dari Rivaldo sendiri. Sesaat, setelah laki-laki itu kembali ke rumah sakit dan mengajaknya untuk pulang.
Rivaldo berkata, bahwa mereka melakukan ini untuk membuat Devia menjadi menderita dan terpuruk. Awalnya, Gadis itu merasa sangat geram dan ingin membalas semua perbuatan para orang-orang jahat itu.
Namun, sedikit tersadar saat mendengar penuturan dari kedua orang tua Michael.
" tidak usah nak jangan pernah mengotori tanganmu untuk orang-orang seperti itu biarkan hukum Tuhan yang bekerja.""
Begitulah ucapan yang terlontar dari mulut ibu Michael. Sepertinya, wanita paruh baya itu Mencoba untuk ikhlas dengan semua hal yang terjadi pada keluarganya.
Tentunya, itu membuat Devia semakin merasa bersalah. Berkali-kali, gadis cantik itu meminta maaf kepada kedua orang tua Michael. dan bahkan, Devia meminta bantuan kedua orang tuanya untuk meminta maaf. dan jawabannya pun tetap sama, ini bukanlah salah Devia melainkan takdir Yang Maha Kuasa.
" Devia ayo keluar. ini ada orang lho, mau ketemu sama kamu!" teriak Melvin dari depan kamarnya.
__ADS_1
Sejenak, Gadis itu terdiam. Rasanya, Devia sama sekali tidak berselera untuk menemui orang itu. Karena hatinya masihlah berduka akibat dari kejadian demi kejadian yang menimpa hidupnya itu.
" Apakah perlu Bapak gendong?" tanya Melvin Seraya mengetuk pintu kamar gadis itu. Setelah mendengar ucapan sang ayah, mau tidak mau Devia keluar dari dalam kamarnya.
kedua orang tuanya, seketika tersenyum saat Gadis itu menyembul dari balik pintu. Kemudian, Sephia menarik tangan putrinya untuk segera menuju ke ruang tengah.
Seketika itu, Devia menghentikan langkahnya. saat menyadari, bahwa di ruang keluarga itu, ada orang lain selain orang tuanya.
" nah Rivaldo, sekarang kamu hibur Devia ya, katakan padanya jangan pernah meratapi sesuatu hal yang telah berlalu. karena itu, akan menyakiti dirinya dan semua orang yang ada di sekitarnya." Melvin berkata Seraya tersenyum tipis.
Kemudian, melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan itu Seraya membawa istri dan anaknya keluar.
" Apa kamu masih memikirkan dia?" tanya Rivaldo saat melihat suasana telah kembali sepi.
" sangat dan tidak akan pernah terganti!" ucapnya menatap datar ke arah Rivaldo.
Tentu saja hal itu membuat Rivaldo yang mendengarnya, seketika menghela nafas panjang. "Sampai Kapan kamu akan seperti ini Devia?" gumamnya dalam hati.
Setelah berbincang-bincang cukup lama, Rivaldo memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Karena, laki-laki itu melihat Devia telah sedikit ceria. dan juga, hari sudah sore.
***
__ADS_1
Beberapa tahun kemudian,...
Kini, Devia telah lulus dari kampus ternama di kota itu. gadis itu, juga telah bekerja di sebuah perusahaan kecil yang bergerak di bidang tekstil.
Hari ini dirinya akan berangkat bersama dengan Maudy dan juga Romi. karena mereka berdua, memang satu perusahaan dengan Devia. dan terlihat, gadis itu telah ceria kembali.
" sudah mulai bisa move on ya?" tanya Romi Seraya Manuel pipi gadis itu.
Mendengar ucapan dari sahabatnya itu, membuat Devia menghela nafas panjang." sebenarnya, ini adalah pengalaman terberatku. Karena hanya Kak Michael yang mau menerima aku apa adanya." ujarnya Seraya menundukkan kepala.
"hais, aku juga menerimamu apa adanya kali," ucap Romi mendengus kesal.
" Maksudnya bagaimana?" tanya Devia yang masih tidak mengerti dengan ucapan sahabatnya itu.
Maudy yang mendengar pertanyaan dari Devia, seketika melangkah dan menghampiri Gadis itu Seraya tersenyum tipis." kamu tahu, Romi sudah sejak lama menyukaimu." ucapnya Seraya memandang ke arah laki-laki itu.
Devia yang mendengar ucapan dari sahabatnya itu, seketika membulatkan matanya. dirinya tidak pernah menyangka jika akan disukai oleh sahabatnya sendiri.
" dan aku juga Masih mengharapkanmu." tiba-tiba saja, terdengar suara dari belakang tubuhnya. dan itu membuat Devia seketika menoleh dan mendapati Rivaldo berdiri tepat di belakangnya.
Devia yang mendengar itu, sejenak terdiam. karena Jujur Saja, Gadis itu tidak memiliki perasaan terhadap kedua laki-laki yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
" aku tidak bisa." ujarnya menundukkan kepala. Devia memang telah memaafkan Rivaldo. Namun, untuk bersama, Gadis itu menolaknya.
" kita memang sudah berdamai. Tapi, tidak untuk bersama." ucapnya tersenyum tipis.