Penyesalan Seorang Sahabat

Penyesalan Seorang Sahabat
Tampak Asing


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Devia hanya memasang wajah datarnya. yang terkesan sangat dingin bagi setiap orang yang melihat gadis itu. Sangat berbeda dengan kepribadian Devia sebelumnya.


Karena memang, Gadis itu sebelumnya memiliki kepribadian yang sangat humoris dan juga ceria. Meski dilahirkan dengan keadaan kurang, namun Gadis itu mampu menghibur setiap orang yang berada di sekitarnya. karena sifat humorisnya itu.


" Kamu jahat Kak Rivaldo hiks hiks hiks." ucapnya Seraya menangis terisak di dalam sebuah taksi.


****


Tak berapa lama, taksi yang ia tumpangi, akhirnya berhenti di depan rumah. dan dengan segera, Devia keluar dari dalam taksi. dan langsung membayar ongkos taksi itu. Setelahnya, gadis cantik itu berlari menuju ke samping rumah sang bibi untuk mencuci wajahnya.


Agar tidak terlalu kentara. jika gadis itu, baru saja menangis. Karena, dapat dipastikan Velove dan juga Agra yang melihat itu, tidak akan pernah tinggal diam.


Tok tok tok


Devia mengetuk pintu rumah sang bibi Seraya menatap ke sekeliling yang terlihat begitu sepi." mungkin Paman sama Bibi ada di kebun pisang" gumamnya Seraya melangkah menjauh dari arah pintu.


Kebetulan, saat itu Devia melihat ada seorang tetangga sang bibi yang baru saja keluar dari dalam rumahnya. dan dengan segera, Gadis itu melangkah menghampiri wanita paruh baya.


" Permisi Bu, Ibu tahu di mana Bibi saya?" tanya Devia setelah menghampiri wanita paruh baya itu. dan tepat berada di depan wanita paruh baya itu.


" Velove sama Agra tadi pergi ke kebun pisang." ucap wanita itu Seraya menunjukkan telunjuk ke arah jalan sana.


Devia yang mendengar itu, seketika menganggukkan kepala. dan dengan segera, Gadis itu melangkahkan kaki hendak menuju ke sana. Namun, Gadis itu terhenti saat mendengar suara seseorang yang sangat familiar di Indra pendengarannya.


" Devia ayo sini!" teriak orang itu dari arah belakang. Dengan perlahan, Gadis itu menoleh dan mendapati Meita Ibu dari Rivaldo berdiri di ambang pintu.


Dengan langkah sedikit malas, gadis itu melangkahkan kakinya untuk menuju ke rumah dari mantan sahabatnya itu. Iya, sekarang ini, Devia sudah menganggap Rivaldo sebagai mantan sahabat. dan berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan pernah sudi melihat laki-laki itu.


" Iya Tante ada apa?" tanya Devia dengan ekspresi sedikit berbeda. hal itu tentu saja membuat Meita yang melihat itu, sejenak tertegun di tempatnya.

__ADS_1


" kamu Kenapa Nak, ada masalah sama Rivaldo?!" tanya Meita Seraya menatap Devia dengan wajah cemasnya.


Sementara Devia yang mendengar itu, hanya menggelengkan kepalanya. Kemudian, melangkahkan kaki menjauh dari tempat itu.


Entahlah, yang jelas, Devia merasa sangat enggan untuk menginjakkan kakinya di rumah laki-laki yang bernama Rival itu Abbas itu.


" Kamu mau ke mana Devia?" tanya Meita setengah berteriak. Karena wanita paruh baya itu baru menyadari, jika Devia sudah sedikit menjauh dari rumahnya.


" Maaf tante, Saya mau menyusul Paman sama Bibi." ucap Devia sedikit berteriak.


Devia tak memperdulikan suara dari Meita Yang sepertinya memanggil namanya itu. gadis itu, tetap melangkahkan kakinya untuk menuju ke kebun sang paman.


Di tengah perjalanan, Devia tak sengaja berpapasan dengan Rivaldo dan juga teman-temannya Yang sepertinya, baru saja pulang dari sekolahnya.


Devia sama sekali tidak menoleh ke arah laki-laki yang sempat menjadi idamannya itu. Dirinya memutuskan untuk tetap berjalan menuju ke arah kebun sang paman. yang memang, sedikit jauh hampir berjarak 2 km.


Sungguh, Gadis itu sama sekali tidak memperdulikan tatapan dari beberapa laki-laki yang tak lain adalah teman Rivaldo. di saat dirinya berjalan melewati mereka semua.


Mereka berdua, tampak asing satu sama lain. Padahal, dulunya begitu akrab dan juga romantis. Bahkan, Kedua keluarga mereka sangat bermimpi dan berharap, jika Devia dan juga Rivaldo bisa lebih dari sekedar teman dan sahabat.


Namun, Sepertinya itu mulai terlihat mustahil. Saat, benteng permusuhan itu, telah muncul dan menjulang tinggi menghalangi mereka berdua.


****


Sesampainya di perbatasan pemukoman dan kebun, Devia segera melangkahkan kakinya menuju ke kebun milik pamannya. kedua sudut bibir gadis itu, seketika terangkat membentuk sebuah senyuman manis.


Saat pandangan matanya, tertuju pada dua manusia paruh baya yang duduk santai di tempat itu.


" Paman bibi!" teriaknya dengan ekspresi wajah yang sangat ceria. dan dengan langkah tergesa-gesa, Gadis itu menghampiri Velove dan Agra yang menoleh ke arahnya.

__ADS_1


" kok datang ke sini, Kenapa nggak di rumah aja?" tanya Velove Seraya menarik tangan Gadis itu untuk duduk di sebelahnya.


" Bagaimana mau masuk, kan pintu dikunci sama Bibi." ucap Gadis itu dengan raut wajah cemberut.


Seketika itu pula, Velove segera menepuk keningnya karena merasa pelupa." Oh iya, maaf ya. Ya sudah kalau begitu, lebih baik kita pulang saja." ucapnya hendak bangkit dari duduknya.


Namun, dengan segera Gadis itu menahan tangan sang bibi. hingga membuat wanita paruh baya itu, kembali terduduk di tempatnya.


" nggak usah Bi di sini aja, lagi pula, tadi di sekolah Aku udah makan kok." ucapnya menyungkinkan senyuman tipis.


Velove yang mendengar itu, menganggukkan kepala dan juga kembali bercengkrama dengan suami dan beberapa orang yang ada di sana.


Drttt drtt


di saat semua orang tengah asyik berbincang-bincang, ponsel Devia tiba-tiba berbunyi. Membuat gadis cantik itu, segera merogoh dan memperlihatkan nama yang tertera di ponselnya.


" Kok tumben Ibu nelpon?" tanya gadis itu keheranan. Karena biasanya, orang tuanya tidak akan pernah menelpon seperti ini. Melainkan, langsung menghampiri gadis itu ke rumah sang bibi.


" Iya Bu Ada apa telepon?" tanya Devia saat panggilan sudah diterima.


" Kamu ada di mana sekarang? ibu sama ayah sekarang ada di rumah bibi kamu." ucap Sephia dari seberang sana.


" Devi ada di kebun pisang milik Paman Agra. Memangnya Kenapa Bu,?" tanya gadis itu.


" Oh nggak papa, Ibu cuma mau bilang sesuatu. dengar ya Devia sayang, sebentar lagi, kamu akan menjadi seorang kakak." ucap Sephia dari seberang sana.


Seketika itu pula, wajah gadis itu mendadak berbinar-binar saat mendengar penuturan dari sang ibu." serius bu, aaakhhh! Yeyeye." ucap gadis itu tanpa terasa melompat-lompat kecil.


Tentu saja itu membuat Velove dan juga Agra yang melihatnya, seketika memasang wajah bingung. mereka berdua, ketika Saling pandang.

__ADS_1


" Ada apa Devia?" tanya wanita paruh baya itu Seraya menatap ke arah keponakannya.


" Paman, bibi, Ayo kita pulang!" seru Gadis itu dengan raut wajah kegirangan. dengan segera, menarik tangan kedua manusia paruh baya itu.


__ADS_2