
" kalian berdua, bermaksud untuk menghasutku agar tidak berteman dengan Devia kan?" tanya Yeslin Seraya menatap ke arah dua orang kakak kelasnya itu dengan tatapan setajam silet.
" Siapa yang ingin menghasutmu. yang kami katakan itu benar adanya kok," ucap Melani dengan menatap sinis ke arah Yeslin.
Sementara itu, Yeslin yang mendengar perkataan Melani dan juga Celine, hanya menatap mereka berdua dengan tatapan Jengah.
" Sudahlah Kak lebih baik, kalian semua segera pergi dari sini. Aku tidak akan pernah terpengaruh terhadap ucapan bohong kalian. karena apa yang kalian katakan itu hanyalah bullshit Semata." ucap Yeslin Seraya melangkahkan kakinya pergi dari ruang kelas itu.
Karena memang rencananya, Yeslin akan menunggu Rivaldo dan juga Devia di kantin sekolah SMP saja. karena gadis cantik itu, merasa Jengah dengan perbuatan dan kedatangan kedua kakak kelasnya itu terus menerus.
Sementara Melani dan juga Celine ya memang masih berada di sana, merasa begitu geram. karena mereka semua, ingin mencoba memisahkan Devia dengan teman-temannya.
" Lalu bagaimana ini Celine, apa kita akan terus mencoba menghasut gadis ingusan itu?" tanya Melani menatap ke arah adik tingkatannya itu.
" Sudahlah Kak Melani, lebih baik Kakak masuk kelas saja. Bukankah Kakak bilang, kalau pagi ini ada kelas?" tanya Celine pada gadis berusia 19 tahun itu.
"hmm, Baiklah kalau begitu, aku masuk kuliah dulu. dan jangan lupa, kamu harus mempunyai rencana yang jitu untuk menghancurkan gadis yang bernama Devia Maharani itu." ucap Melani Seraya menepuk pundak adik tingkatannya yang juga menjadi teman untuk menghancurkan Devia itu.
"hmm Kakak tenang saja. semuanya pasti akan baik-baik saja." ucap Celine tersenyum dengan raut wajah dinginnya.
Akhirnya mereka semua keluar dari ruang kelas Devia untuk menuju ke sekolah masing-masing yang memang berada di gedung yang sama hanya berbeda lantai saja.
****
Sementara itu di parkiran sekolah, Devia tampak baru turun dari atas motor. disusul oleh Rivaldo yang juga ikut turun dari atas motor.
__ADS_1
semua mata, lagi lagi, menatap Devia dengan tatapan yang sangat beragam. ada yang menatapnya dengan tatapan sinis, ada yang menatapnya dengan tatapan penuh dengan kebencian, ada juga yang menatapnya penuh dengan rasa kasihan namun juga dengan ejekan.
" cewek pin-cang aja sok-sokan mendekati cowok terkeren di sekolah ini. mimpi banget tuh cowok ceweknya." ucap salah satu siswi yang kebetulan melewati Devia dengan melirik sinis ke arah gadis itu.
Seketika itu pula, wajah Devia segera memerah padamu. Karena rasa amarah ya meluap-luap di dalam dada. Sementara Rivaldo, laki-laki Tampan itu hendak melangkahkan kakinya menuju ke arah Siswi itu untuk memberikannya pelajaran.
Namun, hal itu segera diurungkan. saat merasakan, Devia menarik lengan baju laki-laki itu. dan setelah menoleh, Devia menggelengkan kepala.
" Nggak usah Kak. aku nggak mau Malah semakin membuat mereka semakin membenciku." ucapnya dengan memaksakan senyumannya.
Rivaldo yang mendengar itu, menghela nafas panjang. Kemudian, laki-laki itu menggenggam tangan Devia dan mengayun-ayunkannya ke depan dan belakang. seperti menunjukkan, bahwa Devia adalah gadis miliknya.
Hal itu tentu saja membuat Devia yang melihat itu, seketika tersenyum penuh dengan keharuan." Makasih ya Kak" bisik Gadis itu tepat di telinga Rivaldo. saat laki-laki itu sedikit membungkuk.
" sama-sama gembul, nggak usah sedih lagi lah. kamu itu tetap cantik di mata aku." ucap Rivaldo berbisik di telinga Devia.
Karena memang gadis itu beberapa hari ini sangat tidak berselera untuk makan di rumah bibinya. bukan, bukan karena masakan sang Bibi tidak enak. Melainkan, karena beberapa hari ini dirinya sering teror oleh fans-fans berat sahabatnya itu.
Hingga membuat Devia merasa begitu jenuh. ada kalanya, Gadis itu ingin mengadukan semua pada Rivaldo. tentang apa yang dia rasakan beberapa hari ini. Namun, rasa kasih hanya lagi lagi mendominasi hatinya.
Karena memang Devia adalah sosok gadis yang sangat mudah luluh dengan permintaan Maaf seseorang. dan anehnya lagi, Gadis itu sangat merasa tidak enakan kepada orang yang meminta maaf setelah melakukan kesalahan dan kejahatan pada dirinya.
Kadang, Gadis itu merasa kebingungan. Kenapa dirinya memiliki sifat yang mudah sekali memaafkan. Terkadang dirinya sampai mengatai bodoh untuk dirinya sendiri.
****
__ADS_1
Tak berapa lama, Devia dan Rivaldo telah sampai di depan Kantin Sekolah Devia. dan dengan segera, mereka berdua memasuki kantin. dan ternyata di sana, sudah ada Yeslin yang tengah duduk manis Seraya menikmati makanannya.
"hai Yeslin udah lama di sini?" tanya Devia Seraya menepuk bahu sahabatnya itu. Yeslin yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala. dan tak lama berselang, gadis cantik itu segera beranjak dari duduknya meninggalkan Devia ya masih mematung di tempatnya.
" Yeslin kenapa Kak,?" tanya Devia dengan tatapan mata nanar. karena tidak biasanya, sahabatnya itu menghindari dirinya.
" Sudahlah, mungkin dia banyak urusan dan juga banyak pikiran. sekarang kamu pesan aja, biar aku yang bayar. itung-itung traktir si gembul." ucap Rivaldo meledek untuk menghibur dan menenangkan perasaan sahabatnya.
Devia yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala. dan dengan segera, gadis yang memiliki rambut keriting itu, segera memesan apa saja yang ia suka. hal itu tentu saja membuat Rivaldo yang memandangnya, seketika menggelengkan kepala.
" kamu kecil-kecil Ternyata makanya banyak banget ya," ledek Rivaldo pada sahabat kesayangannya itu.
Mendengar, ledekan dari sahabatnya itu seketika membuat Devia menatap sinis. Seraya mencebikkan bibirnya." Biarin aja makan banyak, yang penting nggak gen-dut." ucap Devia Seraya menjulurkan lidahnya.
Rivaldo yang mendengar itu, hanya terkikik geli. dan dengan segera, mereka berdua menyudahi obrolannya. karena makanan yang telah mereka pesan, Akhirnya Datang Juga.
" setelah ini, aku ada les buat dance Kak, jadi jangan tungguin aku ya, aku bisa pulang sendiri." ucap Devia menatap ke arah Rivaldo.
" nggak, biar sama aku aja." ucap Rivaldo tanpa menoleh ke arah sahabatnya. dan dengan nada tegasnya.
Tentu saja hatiku tidak bisa dibantah boleh gadis tembem itu. jika Rivaldo telah mengeluarkan suara tegasnya. yang hanya bisa dilakukan, hanya menghembuskan nafasnya kasar.
" Iya deh terserah kamu aja." ucap Devia pada akhirnya dengan nada pasrahnya. Rivaldo yang mendengar itu, hanya tersenyum tipis. dan tentu saja hanya sebentar.
***
__ADS_1
Sementara di dalam kelas, Yeslin tampak menatap kosong ke arah luar. Entah mengapa, dan Sejak kapan, pikirannya menjadi terkontaminasi dengan perkataan Melanie dan juga Celine. sehingga membuatnya, sedikit menghindar.