Penyesalan Seorang Sahabat

Penyesalan Seorang Sahabat
Dasar Wanita!!


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan, kini Devia malah berbalik mendiamkan Rivaldo. hal itu tentu saja membuat laki-laki yang ada di depan Devia itu, seketika mengerutkan kening karena merasa keheranan dengan tingkah sahabatnya itu.


" Kenapa dia malah berdiam diri seperti itu? apa ini karena aku yang tidak menjawab pertanyaan yang baru saja dia lontarkan?" tanya Rivaldo dalam hati.


Namun Kendati demikian, laki-laki itu tetap enggan untuk membuka mulutnya hanya untuk sekedar bertanya. dirinya memilih mendiamkan gadis itu.


Sementara Devia yang berada di jok belakang, sesekali melirik sinis ke arah spion. di mana, sahabatnya itu Tengah menatapnya. dan di saat kedua mata mereka bertemu, Devia akan langsung membuang muka ke arah lain.


Sontak saja, Rivaldo yang melihat itu menjadi sangat kebingungan. karena seingat dirinya, laki-laki itu tidak pernah melakukan kesalahan satu apapun terhadap gadis yang ada di belakangnya itu.


Lama Rivaldo terdiam, akhirnya laki-laki itu menyadari akan sesuatu hal yang akan terjadi. dan dengan segera, laki-laki Tampan itu menghentikan laju kendaraannya. tentu saja hal itu membuat tubuh Devia seketika membentur ke punggung Rivaldo dengan Sedikit keras.


Hingga membuat gadis itu, seketika memetik dengan suara keras. karena merasa begitu kesakitan.


" aw Kak Rivaldo ngapain sih ngerem mendadak, sakit tau nggak!" ucapnya Seraya meraba kening yang terasa berdenyut akibat benturan itu.


" Kamu kenapa dari tadi kok diam?" tanya laki-laki itu Seraya menoleh dan menghadapkan tubuhnya ke arah Devia. hingga posisi keduanya kini, saling berhadapan di atas motor.


Membuat Siapa saja yang melihat kejadian itu, pasti akan langsung berpikiran negatif pada kedua remaja itu. Karena memang pada dasarnya, manusia lebih cepat menangkap dari apa yang ia lihat daripada kenyataan yang sesungguhnya.


Menjadikan seringkali Apa yang dilihat, menjadi bumerang pada manusia itu sendiri. padahal kenyataannya, tidak seperti apa yang mereka lihat.


Menyadari posisi dari mereka berdua, yang terlihat begitu intim, seketika membuat Devia Langsung Melompat dari atas motor Rivaldo. hal itu semakin membuat laki-laki itu, merasa sangat kebingungan.


" Kamu kenapa sih Devia? Kenapa aneh seperti ini?" Lagi Dan Lagi, Rivaldo menanyakan pertanyaan yang sama pada gadis itu.


" kakak yang kenapa, ngapain posisi seperti ini, dikiranya kita macam-macam tau nggak. udah kalau gitu, Aku mau pesan taksi online aja. bye!" ucapnya sedikit membentak di akhir kalimat.

__ADS_1


Belum sempat Rivaldo membuka mulut untuk menanyakan lebih lanjut apa yang sebenarnya terjadi, Devia sudah menyetop taksi yang kebetulan lewat di hadapannya.


"stoop!!" teriak gadis itu dengan tidak sadar. Karena, mungkin suasana hatinya yang mempengaruhi perilakunya itu.


" Devia tunggu, kamu mau ke mana?" tanya Rivaldo Dengan bodohnya. sudah jelas Devia akan pulang ke rumah, Kenapa harus ditanya ulang?


Huh, dasar. Ternyata memang sepintar-pintarnya manusia, jika dalam keadaan terdesak, apalagi masalah cinta, akan bersikap dan bertindak bodoh seketika itu juga.


" ya mau pulang lah Kak, Masa mau ke pasar! dasar aneh!" jawab Gadis itu dengan nada Ketus. tentu saja, Hal itu membuat sang sopir yang mendengarnya, seketika menahan tawannya karena merasa geli dengan ABG yang sedang bertengkar ini.


" dasar anak muda zaman sekarang, kalau berantem lucu banget. kayak Tom and Jerry hihihi." ucapnya Seraya terkekeh pelan.


" Ayo Pak jalan kok malah bengong?" tanya Devia melirik ke arah sang sopir taksi itu. dan akhirnya, taksi pun segera berjalan meninggalkan Rivaldo yang masih tertegun di tempatnya.


Sesaat setelahnya, seakan Rivaldo baru tersadar dari lamunannya. dan dengan segera, laki-laki itu bergegas untuk mengejar taksi yang ditumpangi oleh sahabatnya itu.


Padahal, sudah jelas-jelas yang berulah siapa, tapi yang harus bertanggung jawab itu siapa? dengan segera, Rivaldo segera menyusul Devia yang masih berada di dalam taksi.


" Devia tunggu!" teriak Rivaldo dari arah belakang. sontak saja hal itu membuat Devia seketika menoleh ke arah sumber suara.


matanya membulat sempurna saat menyadari ternyata, Rivaldo benar-benar mengejarnya. Ada sedikit perasaan bahagia yang menggelayut di relung hatinya paling dalam.


tak terasa, kedua sudut bibir Devia seketika tertarik ke samping membentuk sebuah senyuman manis.


" maaf Nona, sepertinya teman anda itu sedang mengejar taksi yang anda tumpangi." ucapan dari sang sopir, seketika membuat senyuman Devia luntur seketika.


" Biarin aja Pak, Ya sudah kalau begitu, tetap jalan saja. kalau perlu, tambahkan kecepatan. jangan pedulikan orang yang ada di belakang sana." ucapnya dengan sedikit agak Ketus. dengan Harapan, laki-laki itu cepat menyerahnya.

__ADS_1


Sopir itu hanya menganggukkan kepala. dan dengan segera melajukan kendaraan roda empat agak sedikit meninggi. dan ternyata apa yang ada di pikiran gadis itu ternyata salah.


Karena pada kenyataannya, Rivaldo tetap mengejar dan sekarang, malah mengetuk kaca pintu taksi itu dengan sedikit kencang.


" Devia turun nggak kamu, atau mau kaca ini aku pecahin sekalian" ancam Rivaldo pada gadis itu. Seketika itu pula, sang sopir taksi segera menghentikan laju kendaraannya.


" kenapa berhenti Pak?" tanya Devia dengan ekspresi wajah sedikit kebingungan.


" sudah turun saja Nona, Saya tidak ingin terjadi apa-apa dengan kendaraan ini. karena kendaraan ini, bukanlah kendaraan milik saya pribadi." ucap sang sopir dengan nada tidak enak.


Devia yang mendengar itu, akhirnya turun dari dalam taksi. namun, gadis itu masih menyerahkan uang lembaran berwarna biru pada sang sopir.


" eh maaf nona, saya kan tidak jadi mengantarkan Anda ke tempat tujuan, lebih baik tidak usah membayar." ucap laki-laki paruh baya itu.


Devia yang mendengar itu, lantas tersenyum simpul." tidak usah Pak, saya Ikhlas kok. kalau begitu, Saya permisi dulu." ucapnya Seraya melempar senyum ke arah laki-laki paruh baya itu.


Kemudian senyumannya seketika luntur saat berhadapan dengan laki-laki yang masih setia duduk di atas motornya.


" naik!" ucap Rivaldo dengan nada tegas. Devia yang mendengar itu, sempat melirik sinis ke arah laki-laki itu. Namun demikian, gadis itu tetap menaiki motor milik Rivaldo.


di sepanjang perjalanan, Devia hanya terdiam. Seraya sesekali memejamkan mata menikmati segarnya angin Sore yang bertiup dengan irama lembutnya itu.


Sementara Rivaldo yang menyadari kediaman dan juga keheningan, mulai berdehem untuk mencairkan suasana.


Namun, hal itu sepertinya tidak mempan. Karena pada kenyataannya, Devia masih saja terdiam dengan masih menatap ke arah sekelilingnya.


Rivaldo yang menyadari hal itu, hanya bisa menghela nafas panjang." ternyata seperti ini jika seorang wanita Tengah marah" gumam laki-laki itu dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2