
Bel pulang sekolah pun, telah berbunyi beberapa saat yang lalu. dan dengan segera, Devia beranjak dari duduknya. dan dengan segera, keluar dari dalam kelas.
Gadis cantik itu, berjalan dengan langkah gontai meninggalkan ruang kelasnya. di sepanjang perjalanan, sebenarnya Devia merasa sangat aneh. Mengapa, Rivaldo tidak menjemputnya seperti biasa.
Apa yang sebenarnya terjadi, Mengapa semua orang yang dekat dengannya, perlahan-lahan semua menjauh. dan Devia masih tidak mengerti letak kesalahannya.
Dengan langkah guntai dan juga celingukan menatap ke sekelilingnya, Devia berjalan menyusuri koridor sekolah. bahkan, dari tadi, Devia menggerutu kesal karena tidak mendapati Rivaldo. Karena, biasanya laki-laki itu akan menunggunya di parkiran.
Namun, Mengapa semua sekarang ini tidak ada bahkan, motor Rivaldo pun tidak ada di tempatnya. Hal itu membuat Devia seketika kecewa. Karena, bisa-bisanya sahabatnya itu meninggalkannya seorang diri.
Namun beberapa saat kemudian Devia seakan tersadar dari apa yang ia lakukan." ah mengapa aku harus merasa kesal, lagi pula kan, Rivaldo, Bukan siapa-siapa Aku, Dia bebas untuk melakukan apapun. karena dia hanya sahabat untukku." gumam Devia mencoba menghibur dirinya sendiri.
Dengan masih melangkahkan kaki dengan perlahan, akhirnya Devia sampai juga di parkiran sekolah itu. Lantas Gadis itu mengeluarkan ponsel di dalam saku bajunya. dan dengan segera, ingin mencari nomor yang dapat dirinya hubungi.
Belum sempat gadis itu, menggunakan ponselnya, tiba-tiba saja, terdengar suara klakson motor dari arah belakang. dan dengan segera, Devia menoleh ke arah sumber suara.
Seketika itu pula, senyum yang sempat Terukir di dalam bibir tipisnya itu, seketika menghilang. Terganti dengan senyuman kecut yang tercetak di kedua bibirnya.
Namun demikian, gadis itu tetap melangkahkan kakinya untuk mendekati laki-laki yang membawa motor itu. dan dengan segera, laki-laki itu memberikan helm kepada Devia.
" Makasih Kak." ucap Devia Seraya mengambil helm dari tangan laki-laki yang tak lain adalah Michael itu.
" sama-sama sayang," ucapnya dengan nada Lirih. Namun demikian, Devia masih dapat mendengarnya dengan jelas. Gadis itu lantas memukul lengan Michael dan mencubit pinggang laki-laki itu. Sehingga membuat Michael mengadu kesakitan.
" iya iya maaf, galak banget sih jadi cewek. nanti kalau nggak ada yang mau gimana?" tanya Michael menggoda gadis menggemaskan itu.
__ADS_1
" bodo amat, nggak peduli. Ayo ah jalan" ucap Devia saat Gadis itu sudah naik di jok belakang motor milik Michael.
Tak berselang lama, motor Michael melaju dengan sangat kencang meninggalkan area sekolahan itu. Tanpa disadari, ada dua orang yang menatap mereka dengan tatapan misterius. Siapa lagi jika bukan Melani dan juga Celine.
" Nah akhirnya, kehancuran akan segera menghampiri gadis sialan itu." ucap Celine dengan suara yang mengerikan.
Melani yang mendengar itu, juga ikut tersenyum misterius. dan setelahnya, mereka berdua segera pergi meninggalkan tempat itu.
****
Sementara itu di lain tempat, lebih tepatnya di ruang UKS yang memang terpisah dari bangunan sekolah itu, terlihat Rivaldo Tengah menangani beberapa siswa yang terlibat tawuran dengan sekolah lain.
Sedari tadi, Rivaldo sangat mencemaskan dan merasa tidak tenang dengan meninggalkan Devia seorang diri. Karena biasanya, laki-laki itu akan selalu menjemput dan mengantarkan sahabat kecilnya itu. Terlebih lagi, keadaan motornya yang memang tidak ada di parkiran sekolah.
Rivaldo hanya berharap, jika Devia masih berada di area sekolahan itu. Dengan gerakan tergesa-gesa, Rivaldo membantu mengobati para teman-temannya dan juga Adik kelasnya yang terluka. Sepanjang acara pengobatan itu, Rivaldo tak henti-hentinya bergumam sendiri.
Setelah semuanya selesai, Rivaldo segera berpamitan pada guru yang tadi memintanya untuk membantunya mengobati para pelajar yang terluka itu.
" maaf Pak Bu, Apakah saya boleh pulang sekarang?" tanya Rivaldo Soraya menatap ke arah dua gurunya itu secara bergantian.
" boleh Rivaldo, sekali lagi terima kasih ya atas bantuan kamu." ucap Sang Guru wanita Seraya tersenyum tipis.
Rivaldo yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala. dan dengan tergesa-gesa, keluar dari dalam UKS. dan dengan langkah tergesa-gesa pula, mengambil motornya dan hendak melajukannya.
Namun hal itu diurungkan saat mendengar sebuah suara dari arah belakang. dan dengan segera, Rivaldo menoleh. di mana Di sana, terdapat Celine dan juga Melani yang berdiri Seraya mengulas senyum tipis ke arahnya.
__ADS_1
" mau apa lagi kalian, belum puas kalian untuk mengganggu sahabatku?" tanya Rivaldo dengan nada dingin dan juga menakutkan.
Hal itu sempat membuat Celine yang mendengarnya, merasa sangat geram. karena sepertinya, sudah tidak ada lagi celah di hati Rivaldo untuk dirinya. Semuanya, dikuasai oleh gadis ingusan itu.
" Rivaldo, Kenapa kamu bisa seperhatian itu pada Devia, Padahal dia itu hanya sahabat kamu kan, bukan pacar kamu? Mengapa kamu sebegitu perhatiannya pada dia?" tanya Celine akhirnya memberanikan diri untuk membuka suara.
" heh itu bukan urusanmu!" ucap Rivaldo dengan nada tegas dan juga sedikit membentak. hal itu semakin membuat Celine yang mendengarnya, merasa sangat geram pada gadis yang bernama lengkap Devia Maharani itu.
Ingin rasanya Celine berteriak dan mengatakan bahwa dirinya sangat mencintai dan menjadi pengagum rahasia Rivaldo selama beberapa tahun ini. Namun, dirinya sadar. tidak akan pernah mendapatkan hati laki-laki itu.
" Hei kau mencari Devia kan?" tanya Melani saat melihat Rivaldo hendak menyalakan motornya. dengan segera, Gadis itu menghampiri Rivaldo yang sudah naik di atas motor.
" Tadi aku lihat, Devia diantar pulang oleh Michael." ucap Melani Seraya menunjukkan sebuah foto dan video yang terdapat di dalam ponselnya.
Karena Melani sudah merasa akan sia-sia jika mengatakan sesuatu tanpa bukti. Untuk itulah, gadis itu memotret dan memvideo saat Devia pulang bersama dengan Michael.
Seketika itu pula, wajah Rivaldo berubah merah padam. dan dengan segera, laki-laki itu melajukan motornya meninggalkan area sekolah. Sementara Melanie dan juga Celine, yang melihat itu, tertawa terbahak-bahak.
" setelah ini, pasti akan langsung ada perang dunia ke-3 hahaha." tawa mereka bersama-sama.
****
Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di kedai bakso, Michael turun dari atas motornya. begitupun dengan Devia, gadis itu, tampak sedikit kebingungan. Mengapa, Michael menurunkan dirinya di kedai bakso ini.
" Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Gadis itu kebingungan. Sementara Michael yang mendengar itu, hanya tersenyum. Kemudian, menarik tangan Devia untuk segera masuk ke dalam kedai bakso itu.
__ADS_1
" aku lapar, Aku mau makan dulu." ucap Michael tersenyum tipis.