
Satu Minggu Kemudian
Hari terus berganti, hembusan angin lembut menyejukan udara pagi itu. Suara alarm membangunkan Satria dari selimut tebalnya. Dia menggeliatkan tubuhnya dan melihat jam diponselnya. Waktu menunjukan pukul setengah lima pagi. Ia segera mengambil air wudlu dan melaksanakan shlat subuh.
Setelah shalat subuh Satria mengemasi barang-barangnya yang akan dipakai untuk praktek keperawatan selama 3 bulan di Kota Yogyakarta. Satria membawa 1 koper sedang dan 1 tas gendong .Satria akan berangkat pukul satu siang dengan rombongan mobil milik salah satu temanya. Satria dan teman- temanya memilih jalur darat daripada udara dengan alasan ingin lebih lama menikmati pemandangan sekitarnya di tanah jawa.
Krek, suara daun pintu dibuka.
"Nak sudah dikemasi barang yang akan kamu pakai untuk disana? " tanya ibu Nita
"sudah mah, baru aja selesai"
"yasudah mamah kira belum, biar mamah bantuin" ucap bu Nita
"udah mamahku" jawab Satria
"yaudah sarapan dulu yuk, mamah udah siapin sarapan kesukaan kamu. Papah sama Vania juga udah nunggu tuh di meja " ucap bu Nita
"Satria sarapan diluar aja mah, udah janji sama temen" ucap Satria yang sudah mengenakan pakaian rapi dan necis sambil mendekati bu Nita , meraih tanggan dan mencium punggung tangan bu Nita.
"Oh gitu yaudah hati-hati sayang" ucap bu Nita mengelus kepala anaknya
"ya mah Satria berangkat dulu, assallamualaikum"
"waalaikumsalam"
Satria menuruni tangga dan melewati Papah dan adiknya yang tengah berada di meja makan.
"Kak sini sarapan, ni makanan kesukaan kakak" teriak Vania
"kakak makan diluar dek , udah janji sama temen" jawab Satria
"heleh temen apa temen, palingan cewek ya" ledek Vania
"ish sok tau kamu, " jawab Satria mengacak rambut adiknya
__ADS_1
"ihhh kakak, rambutku baru di lurusin" ucap Vania kesal
"udah, udah kebiasaan tikus sama kucing gak pernah akur" ucap papah Satria
"pah Satria pamit dulu" ucap Satria menyalami papahnya
"iya nak, hati- hati gak usah ngebut" ucap papah Satria
''siap pah''
Satria mengendarai mobilnya menuju sebuah rumah kos tempat kediaman Lisa. Satria menemui wanita yang telah menarik hatinya.
tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu, dengan segera Lisa beranjak dari depan laptopnya untuk meraih jilbab dan menuju sumber suara.
Cekrek
Pria berpawakan putih tinggi berdiri didepan pintu.
"Ehm kak Satria, ucap Lissa terkejut
"iya kak nggakpapa. Ada apa kak tumben tiba- tiba kemari" ucap Lissa
"nggakpapa pengen cari angin segar aja ngajak kamu, lagi sibuk gak?" tanya Satria
"enggak kak, yaudah Lissa ganti baju bentar " jawab Lissa
"iya aku tunggu didepan" jawab Satria sambil menunjuk ke arah mobilnya
"iya kak, Lisa nggak lama kog" jawab Lissa
" iya tuan putri" jawab Satria
Sepuluh menit kemudian Lissa sudah siap dengan setelan baju pink hitam.
__ADS_1
"MasyaAllah bidadari surga cantik sekali" gumam Satria
''kak ko bengong '' ucap Lissa mengagetkan
"eh iya enggak kog, yuk berangkat" jawab Satria
Tak lama mereka telah sampai disebuah cafe.
Satria membukakan pintu untuk Lissa, mereka menuju salah satu meja dan memesan menu.
"ehm kakak tumben pagi gini nyamperin Lisa" ucap Lisa
"iya kakak mau pamit sama Lisa, tiga bulan kedepan kakak nggak bisa nemenin Lisa jalan dulu" ucap Satria dengan wajah muram.
"Kakak mau kemana?" jawab Lissa sedih
"kakak mau praktek klinik di luar kota " jawab Satria
"yah'' Lisa menundukan kepalanya sambil mengaduk aduk minumanya. Satria mendekati Lissa dan mengusap kepala Lissa. "Anak kecil jangan sedih, nanti juga kakak pulang setelah praktek selesai. Baik - baik disini, jaga hatinya buat kakak, tunggu kakak kembali" ucap Satria.
" Iya kak" jawab Lisa singkat dan matanya sudah berkaca-kaca bagai awan hitam mendung tinggal menunggu turunya air hujan.
Baru seminggu semenjak mereka saling mengungkapkan perasaan satu sama lain, pria itu selalu menemani kemanapun Lissa pergi dan selalu ada saat Lissa butuhkan. Kini untuk beberapa minggu kedepan Lissa harus jalani harinya sendiri.
"Tiga bulan waktu yang tidak sebentar ,bakalan kesepian deh" gumam Lissa
"Kakak disana juga jaga hati untuk Lisa ya. Jaga kesehatan, sayangi diri kakak untuk Lissa, Lisa sayang kakak " Ucap Lisa diiringi air mata Lisa membasahi pipi merahnya.
Satria meraih tubuh Lissa dan disandarkan kepelukanya.
"Kakak juga sayang sama Lissa" ucap Satria
...****************...
bersambung...
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir di novel Perawat si Pencuri hati.
Ikuti terus kelanjutan kisah Lissa bersama seorang perawat yang telah mampu mencuri hati Lissa Hana Fahrani.