
Bu Nita masih setia menunggu ayahnya hingga larut malam. Nita kecil selalu dekat dengan ayahnya, pak Danar selalu melindungi Nita anak semata wayangnya. Apapun yang bu Nita inginkan selalu pak Danar penuhi. Namun bu Nita tidak menjadi wanita yang manja, bahkan ia tumbuh dewasa sebagai wanita mandiri. Semenjak menikah, berat sekali bagi Nita untuk tidak hidup satu rumah dengan pak Danar dan bu Ina ibu kandungnya.
Bu Nita selalu menganggap laki- laki pertama yang ia cintai adalah ayahnya setelah itu baru suaminya. Pak Danar laki-laki yang tidak pernah menyakiti hati Nita dan selalu ada untuknya. Nita ingat betul ketika ekonomi ayahnya sulit, pak Danar sepulang kerja hanya membawa 1 kotak nasi. Pak Danar rela tidak makan dan memberikan makananya untuk Nita anaknya dan Ina istrinya. Ya dahulu pak Danar hanya seorang buruh pabrik dengan gaji kecil karena pabriknya hampir tutup. Banyak teman- teman pak Danar yang di PHK secara bertahap, pak Danar hanya menunggu giliran untuk di PHK saja.
Tanpa sadar bu Nita tertidur di kursi tunggu ruang ICU.
'' ayah jangan tinggalkan aku, aku sangat menyayangimu Ayah. Hidupku tidak bermakna lagi kalau tidak ada ayah, suamiku pergi, anaku meninggal'' ucap bu Nita mengigau
''mama, kasian dia sampai tertidur di kursi'' ucap Vania yang baru saja datang untuk bergantian menjaga pak danar. Vania baru selesai mengerjakan revisi skripsinya.
Vania memberikan jaket yang di pakainya dan menutupi tubuh ibunya dengan jaket itu.
Bu Nita yang sadar ada seseorang yang meletakan jaket di tubuhnya pun tersadar.
'' Vania, kamu sudah selesai kuliah nak'' ucap bu Nita melihat jam di pergelangan tanganya
''astaga aku dari tadi tertidur di sini lama sekali. bagaimana keadaan ayah'' ucap bu Nita panik dan bergegas masuk ke kamar pak Danar
'' mama, ..'' ucap Vania menyusul langkah bu Nita
''ayah maafkan aku, aku tertidur lama sekali di luar'' ucap bu Nita
Pak Danar menggerakan jemari tanganya.
'' ayah , ayah sudah bisa menggerakan tangan ayah? Ayah Nita dan Vania akan selalu menemani ayah'' ucap bu Nita
meneteskan air mata
__ADS_1
Vania memeluk bu Nita
'' mama, mama tidak boleh terus menangis di depan kakek. Kakek mendengar ucapan mama dan tangis mama, nanti kakek ikut bersedih'' ucap Vania
'' kamu benar nak, sepertinya kakek mendengar. Karena tadi sewaktu papa mu kemari untuk meminta maaf sama kakek, kakek meneteskan air matanya. Padahal kakek masih koma.'' ucap bu Nita
'' papa kemari ma? Apakah papa berbicara sesuatu yang membuat mama sakit hati?'' tanya Vania
'' tidak nak, papa itu orang baik. Namun kekurangan papa mudah tertarik oleh wanita yang tertarik juga pada papa mu'' ucap bu Nita
'' iya ma Vania tidak akan lupa, papa sudah 2x menghiananti kita '' tukas Vania
Tiba- tiba pak Danar mengalami apnea (atau henti napas merupakan suatu kondisi berhentinya proses pernapasan dalam waktu singkat)
Monitor berbunyi, perawat segera memencet tombol code blue untuk meminta bantuan dokter dan tenaga medis lain.
Dengan cepat, tim dokter dan beberapa perawat datang.
"cepat injeksi epinefrin (Epinephrine dapat digunakan untuk obstruksi saluran napas yang reversibel)" ucap dokter
Sementara perawat lain sedang melakukan RJP (Resusitasi jantung paru-paru atau CPR adalah tindakan pertolongan pertama Bantuan Hidup Dasar pada orang yang mengalami henti napas karena sebab-sebab tertentu. CPR bertujuan untuk membuka kembali jalan napas yang menyempit atau tertutup sama sekali dengan melakukan beberapa teknik pemijatan atau penekanan pada dada).
Setelah dua siklus RJP dilakukan, tidak ada tanda-tanda kondisi pasien membaik, dokter mengecek keadaan pak Danar.
"Kondisi pasien sudah meninggal dunia" ucap dokter
" rapihkan semuanya" imbuh dokter
__ADS_1
" baik dok"
Bu Nita dan Vania sedari tadi cemas dan tak henti memanjatkan doa.
Vania memberi kabar kepada pak Alfian tentang kondisi kakek Danar.
Dokter dan perawat keluar dari ruang ICU dan memanggil bu Nita.
" keluarga tuan Danar" ucap perawat
" iya saya, bagaiamana keadaan ayah saya dokter" tanya bu Nita
" mohon maaf bu, saya dan tim sudah berusaha sebaik mungkin. Namun Tuhan lebih sayang kepada tuan Danar. Tuan Danar telah di panggil oleh yang maha kuasa. Saya harap keluarga menerimanya dengan tabah" ucap dokter
Bu Nita berlari menghampiri pak Danar dan memeluk erat jenazah pak Danar.
" hua hua hua hua hua" isak tangis bu Nita dan Vania menggema di ruang ICU
Belum ada 1 tahun kepergian anak laki-laki kesayangannya, kini satu- satunya orang tua kandungnya pergi meninggalkanya juga. Entah apa yang di rencanakan Tuhan, kini perasaan hati bu Nita hancur- sehancurnya hingga ia hampir tak kuat menerima kenyataan hidupnya yang terus- menerus di tinggalkan orang yang di cintainya.
Bersaambungg....
Jangan Lupa like dan koment nya , agar author semangat
💙💙
Salam
__ADS_1