
Udara yang sejuk dan hembusan angin lembut membuat udara pagi itu terasa dingin. Lissa terbangun dari tidurnya dan menggeliatkan badanya. Lissa meraih ponsel, melihat jam yang menunjukan pukul lima pagi. Lissa beranjak mengambil air wudlu untuk sholat subuh.
Pagi ini Lissa memutuskan untuk pulang ke kampung halamanya. Setelah selesai solat Lissa segera membersihkan badanya dan bersiap- siap. Kali ini ia pulang tanpa diantar Satria ataupun Siska sahabatnya. Lissa pulang seorang diri menggunakan bus antar kota.
Lissa sengaja tidak memberitahu Satria kalau ia akan pulang ke rumah kedua orang tuanya.
Lissa segera memesan taksi online untuk mengantarkanya ke terminal. Kruyuk kryuk , cacing di perut Lissa mulai berdemo karena belum diisi makanan apapun.
''Sabar ya perut, kamu makan nanti ketika sudah sampai terminal" gumam Lissa mengelus perutnya
Taksi online telah sampai di depan rumah kos lantai dua.
'' Pagi pak" sapa Lissa kepada supir taksi
''Pagi kak, kakak atas nama Lissa?'' tanya supir taksi
'' Betul pak, antar ke terminal ya pak" ucap Lissa
'' siap kak, silahkan'' ucap supir taksi membukakan pintu untuk Lissa
''terimakasih'' ucap Lissa
''sama- sama''
Sekitar sepuluh menit taksi yang di tumpangi Lissa telah sampai di sebuah terminal kota. Lissa memberikan selembar uang kepada supir. Lissa segera berjalan menuju tempat pembelian tiket bus.
'' Huh bus nya belum datang, masih setengah jam lagi hmm'' gumam Lissa
Lissa memutuskan untuk pergi ke mini market di terminal tersebut untuk membeli sepotong roti dan minuman untuk menenangkan cacing- cacing diperutnya yang sedari tadi berdemo.
Setelah mengisi perutnya Lissa naik ke dalam bus. Dia duduk di barisan paling depan tepat di sebelah seorang perempuan memakai masker yang tengah sibuk dengan ponselnya.
" Permisi" ucap Lissa
" iya silahkan" jawab perempuan itu
" seperti tidak asing dengan suaranya" gumam Lissa sambil mengingat
" Lissa" ucap Jihan menyapa Lissa dan membuka masker yang di kenakanya
''Jihan, masyaAllah'' ucap Lissa kaget
'' kamu mau pulang juga?'' tanya Jihan
'' iya Han, kebetulan libur beberapa hari'' ucap Lissa
'' kamu sendiri? lagi libur kerja?'' imbuh Lissa
'' ibuku sedang sakit dan harus dirawat di rumah sakit Lis, jadi aku minta cuti beberapa hari untuk merawat dan menjaga ibuku'' ucap Jihan dengan mata berkaca-kaca
Lissa mengusap pelan punggung Jihan
__ADS_1
'' sabar ya Han, nanti aku temenin kamu ke rumah sakit ya Han. Aku pengen jenguk ibu kamu, boleh?'' ucap Lissa
'' malah ngerepotin kamu Liss'' ucap Jihan
''enggak sama sekali Jihan, aku pengen liat keadaan ibu kamu sekaligus nemenin kamu'' jawab Lissa tersenyum
'' Terimakasih ya Liss, kamu memang teman baikku'' ucap Jihan memeluk Lissa
'' sama- sama'' ucap Lissa membalas pelukan Jihan
...****************...
Pagi itu di rumah sakit tempat Satria bekerja, seperti biasa Satria sedang sibuk dengan pasien barunya. Mulai dari anamnesa hingga pemeriksaan pasien Satria lakukan dengan baik dan teliti.
'' Bro pasien anak dengan diagnosa typoid pindahkan ke ruang anak ya bro" ucap dokter Tama
''siap dok'' jawab Satria
'' terapi dan advice sudah saya tulis di rekam medis" ucap Tama
''baik dok, ini rekam medis pasien baru dok. Diagnosa fraktur femur" ucap Satria
'' oke bro. Lakukan penanganan awal dulu, cek keadaan umum, tanda vital dan lakukan EKG . Saya konsul dokter SPOT dulu'' ucap Tama
'' Baik dok'' ucap Satria
Satria segera melaksanakan perintah dokter Tama, satu persatu tugas berhasil ia lakukan dengan cepat dan tepat.
''Perawat ini lagi" ucap Satria saat bertemu dengan Indah perawat baru ruang anak
'' Hallo kak ganteng, ketemu lagi kita'' ucap Indah tersenyum
'' iya nih mau kirim pasien diagnosa typoid bla bla bla'' ucap Satria
Sementara Satria menjelaskan riwayat penyakit pasien, Indah tidak mendengarkan penjelasan Satria. Indah malah fokus menatap wajah tampan Satria.
'' uwuww tampanya, sungguh menggemaskan'' gumam Indah
Satria yang sadar perawat baru itu tidak betul- betul mendengarkan penjelasanya, jiwa isengnya meronta-ronta.
Satria malah semakin mendekatkan wajahnya ke arah wajah Indah.
'' Astaga '' ucap Indah spontan karena kaget wajah orang yang sedari tadi ia tatap malah semakin dekat, dan membuatnya salah tingkah.
'' Bisa nggak kalau kerja fokus?'' ucap Satria
''i iya kak maaf, bi bisa ulangi lagi kak?'' ucap Indah
''huh buang waktu aja'' gumam Satria
Satria menjelaskan kembali riwayat penyakit pasien baru, dan Indah mendengarkan dengan seksama. Setelah selesai operan pasien, Indah mencoba merayu Satria.
__ADS_1
''Kakak marah? maafin Indah ya kak, karena nggak fokus kakak jadi harus mengulanginya, waktu kakak menjadi terbuang'' ucap Indah sedih
'' iya nggak apa- apa, lain kali fokus ya'' ucap Satria
'' iya kak, sebagai permintaan maaf ku ke kakak, sepulang kerja aku traktir kakak makan di cafe X. Itu pun kalau kakak ada waktu sih'' ucapnya sedih
'' oke, tunggu disana'' ucap Satria
Indah tak menyangka permintaanya akan disetujui Satria. Satu - persatu misinya mulai berhasil. Indah tersenyum bangga..
...****************...
Bus yang di tumpangi Lissa dan Jihan telah sampai di kampung halaman. Tepat di depan rumah sakit tempat ibunya Jihan dirawat, bus itu berhenti. Mereka berjalan menuju kamar bu Isti ibunya Jihan.
Cekrek, Jihan membuka pintu kamar rumah sakit. Lissa melihat seorang perempuan paruh baya dengan kondisi terpasang infus dan kanul nasal. Tubuhnya kurus dan lemah. Jihan menghampiri ibunya, mencium tangan ibunya lalu memeluknya.
Pemandangan yang sangat mengiris hati, Lissa membayangkan jika dia berada di posisi Jihan. Ibunya sudah lama mengidap penyakit Diabetes mellitus atau penyakit gula.
'' bu, kenalin ini Lissa teman sekolah Jihan dulu'' ucap Jihan
Dengan membawa parcel buah ditangan, Lissa menghampiri bu Isti dan mencium punggung tangan bu Isti.
'' Bu ini ada sedikit oleh- oleh untuk ibu" ucap Lissa
'' Iya nak, terimakasih banyak nak'' ucap bu Isti mengusap tangan Lissa
'' Sama- sama bu'' jawab Lissa
" ibu mau makan apa bu, biar Jihan suapin" ucap Jihan
'' Tolong ambilkan bubur di meja itu, ibu makan sendiri saja. Tapi ibu ingin buang air kecil dahulu'' ucap bu Isti
'' Baik bu, Jihan ambilkan pispot dulu" ucap Jihan dan segera berjalan menuju toilet.
Iya bu Isti tidak sanggup untuk berjalan ke toilet karena tubuhnya sangat lemas jika untuk berjalan. Jihan harus membantu ibunya saat buang air dan sekedar membersihkan tubuh.
''Biar Lissa bantu bu'' ucap Lissa
'' tidak usah nak, ibu malah malu'' ucap bu Isti tersenyum
'' Lissa gak apa- apa aku bisa kog, kamu nunggu di luar dulu ya?'' sahut Jihan tersenyum sambil mengusap pundak Lissa
'' baiklah Han'' kata Lissa sambil berjalan meninggalkan ruangan kamar.
''MasyaAllah Jihan, benar- benar anak berbakti'' gumam Lissa
Bersambung.
Terimakasih sudah mampir di novel Perawat si Pencuri hati.
Ikuti terus kelanjutan kisah Lissa bersama seorang perawat yang telah mampu mencuri hati Lissa Hana Fahrani.
__ADS_1
Setelah baca episode ini mohon tinggalkan like ya agar author semangat update😊 salam.