
Lissa dan Angga tiba di rumah sakit.
Lissa menuju kamar tempat Siska di rawat
ceklek
Lissa membuka daun pintu kamar tersebut
'' bestie selamatttttt'' teriak Lissa berlari memeluk Siska yang sedang menyusui bayinya.
'' iya ca, tadi malam benar- benar berjuang melahirkan anak ini tau ca,, rasanya istimewa sekali'' ucap Siska
''sorry gue nggak pegang handphone semalam, sorry juga gue nggak ada di samping lo saat lo sedang berjuang. Please maafin gue ya'' ucap Lissa dengan wajah merasa bersalah
''hei tidak apa- apa, gue tau lo kan baru saja resepsi pasti sangat lelah'' ucap Siska mengusap bahu Lissa
''Jadi lo maafin gue kan'' ucap Lissa menggelayuti tangan Siska seperti anak kecil
Angga hanya menggeleng kepala saat melihat tingkah istrinya.
''iya gue maafin'' jawab Siska tersenyum
''sini gue gendong keponakan gue'' Pinta Lissa
'' iya nih, biar lo cepet ketularan ya xixixix'' ucap Siska cekikikan
__ADS_1
''gimana sudah apa belum nih kira - kira'' imbuh Siska
''sudah apaan maksud lo'' tanya Lissa
''sudah proses pembuatan keponakan gue hehe'' bisik Siska
'' ihhhh jangan keras- keras malu'' jawab Lissa berbisik
''pasti sudah hehehehe, semoga segera jadi ya'' bisik Siska
'' ko jadi bisik- bisik begitu hmm. Oh ya kak Tama dimana'' ucap Angga
''kak Tama sedang pulang sebentar menguburkan ari- ari''
''oh ya tante helda dan orang tuaku juga tadi malam kemari , ikut pulang juga dengan kak Tama . Nanti dia kemari lagi'' ucap Siska
'' iya mereka sangat senang bahkan sampai menangis ketika pertama melihat calista'' ucap Siska
''uluh uluh uluh, cantik sekali kamu, mata sipit mirip mama yah'' ucap Lissa
...****************...
Kediaman orang tua Lissa
Bu Herni dan pak Imam sedang duduk di teras rumah dengan secangkir teh dan camilan. Bu Herni dan pak Imam merasa lega karena Lissa sudah menikah dengan Angga.
__ADS_1
'' Alhmdulillah ya pak, kehidupan Lissa sudah terjamin sekarang. Meskipun ibu tau Lissa setengah hati menikah dengan Angga, semoga berjalanya waktu Lissa bisa mencintai Angga sepenuhnya'' ucap bu Herni
''hmm iya bu, terserah ibu saja. Namun ayah khawatir dengan Lissa. Apakah Lissa bahagia menikah dengan laki- laki yang bukan pilihannya. Ayah tidak melihat keceriaan di wajahnya selama prosesi pernikahan kemarin'' ucap pak Imam
'' setidaknya anak kita berada di rumah yang layak dan kebutuhan sehari- harinya terpenuhi dengan sangat layak yah'' ucap bu Herni
''kebutuhan kan tidak hanya materi bu, psikologi juga kebutuhan'' tukas pak Imam
'' iya nanti lama kelamaan juga Lissa mencintai Angga'' sahut bu Herni
'' tidak semudah itu, iya kalau Lissa bisa mencintai Angga. Kalau tidak? Keluarganya tidak harmonis'' ucap pak Imam
'' kok Ayah jadi berkata seperti itu. Berkata itu yang baik saja. Ucapan adalah doa.'' tukas bu Herni sedikit menekan
''yasudah terserah ibu saja. Kita doakan saja anak dan menantu kita agar langgeng dan menjadi keluarga harmonis'' ucap pak Imam
''hmm iya'' ucap bu Herni masuk ke dalam kamar
''hmm memang susah kalau bicara dengan orang yang berbeda prinsip'' gerutu bu Herni
'' hmm Tanggung jawabku masih ada satu. ya anak sulungku Handa'' gumam pak Imam
Handa memang belum ingin menikah. Handa sedang menjalani studi S2 nya di Australia dan belum memikirkan untuk mengakhiri masa lajangnya.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan Lupa like dan koment nya , agar author semangat
Salam