Perawat Si Pencuri Hati

Perawat Si Pencuri Hati
Pengkhianatan


__ADS_3

Lissa dan Siska kembali ke ibu kota karena mereka harus menjalani rutinitasnya sebagai seorang mahasiswa.


Setelah mengantarkan Lissa ke rumah kos nya, Siska pulang ke rumah tante Helda. Tubuhnya terasa lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang.


Tok tok tok Siska mengetuk pintu.


" Eh Siska udah pulang nak" ucap tante Helda


"udah tante, ini tan oleh-oleh dari Ayah" ucap Siska menyodorkan sebuah kardus berisi makanan khas daerah dan buah hasil panen kebun sendiri.


"Banyak amat mas Rama bawainya" ucap Tante Helda


"ya sudah sana istirahat dulu nak" imbuh Helda


"iya tan, perjalanan cukup melelahkan, jalanan ramai huft" ucap Siska sambil melepas sepatu yang terpasang dikedua kakinya


"iya kan weekend sayang" ucap tante Helda mengusap ujung kepala Siska penuh rasa iba melihat keponakanya kelelahan.


"ya sudah Siska ke kamar dulu tan" ucap Siska


"iya sayang"


...****************...


"Sayang, kakak jemput sekarang ya, kita ngopi di cafe favorite kakak" ajak Satria kepada Lissa melalui pesan singkat


"iya kak, Lissa siap-siap dulu" balas Lissa


"oke 15 menit lagi kakak jemput ya" balas Satria


"iya kakak" kata Lissa


"Love u sayang"


"iya love you juga"


Satria segera beranjak dari tempat duduknya untuk berganti pakaian. Ia mengenakan setelan casual yang terlihat sangat cocok dengan postur badanya yang tegap dan kulit putihnya itu. Satria menambahkan jam tangan hitam ditangan dan mengenakan sepatu warna army.


Ia berdiri didepan cermin untuk memastikan penampilanya sudah rapi. Kemudian Satria sedikit merapikan rambut cepaknya.


"Oke sudah finish" gumam Satria


Selfi dulu cekrek hehehe.


Ini hasilnya...



Satria melajukan mobilnya menuju rumah kos Lissa.


Sesampainya di rumah kos lantai dua, terlihat gadis pujaanya sudah menanti di teras rumah kos.


"Hay sayang, nunggu dari tadi?" tanya Satria


"enggak baru saja kog. Tumben tiba- tiba ngajak keluar" jawab Lissa

__ADS_1


"iya kangen sama kamu hehe" jawab Satria sambil menyentuh hidung mancung Lissa ( sudah menjadi kebiasaan Satria yang suka nyentuhin hidung Lissa karena merasa Lissa anak kecil manis yang menggemaskan hehe).


"Masa??" ucap Lissa tersenyum


"iya aku jenuh di rumah. Kangen juga sama kamu dua hari ditinggal keluar kota hemm" ucap Satria


"hehe iya Lissa juga kangen" jawab Lissa sambil memeluk tubuh kekar Satria


"hehe ya sudah yuk berangkat" ucap Satria


"ayok" jawab Lissa


Satria membukakan pintu mobil untuk kekasihnya dan memastikan kekasihnya tengah duduk dengan nyaman kemudian ia menutup pintu mobil.


Merekapun pergi menuju cafe tempat langganan Satria dan teman- temanya nongkrong. Satria memutar lagu barat romantis favorit nya.


"Kakak suka banget lagu ini. Kamu tau nggak lagunya Yang?" tanya Satria


"Tau kak, Lissa juga menyukainya" jawab Lissa


Mereka bernyanyi bersama mengikuti alunan lagu sambil berpegangan tangan. Lissa bisa merasakan kasih sayang seorang pria yang tengah duduk disampingnya sangat tulus untuknya. Selama ini Lissa diperlakukan bak seorang ratu, Satria akan selalu ada dalam segala keadaan.


"Terimakasih Tuhan, kalo memang dia jodoh untuk aku jadikanlah semuanya mudah ya Tuhan" gumam Lissa


Satria yang sadar kekasihnya melamun, mendekatkan tangan Lissa dan mencium punggung tangan Lissa


"cup. Ngelamuni apa si sayang" ucap Satria tersenyum manis


"hehe enggak kak" jawab Lissa


" iya Lissa bersyukur kenal sama kakak, kakak baik selalu ada untuk Lissa" ucap Lissa


"hmm iya kan Lissa kekasih kakak. Kakak sayang sama kamu. Jadi ya kakak harus jagain kamu" ucap Satria


Lissa tersenyum manis dan memeluk Satria.


"Hmm kakak nyetir nya susah ni sayang kalo kamu peluk begini" ucap Satria


" hehe..iya iya" jawab Lissa


Tiba- tiba diperjalanan Satria melihat seorang laki- laki yang tak asing baginya. Seorang laki- laki paruh baya yang ia panggil dengan sebutan papah.


"Papah" gumam Satria


Lissa yang tersadar melihat kekasihnya memikirkan sesuatu menanyakan kepada satria.


"Ada apa kakak sayang" tanya Lissa


"Aku kaya ngeliat papah didalem mobil warna hitam itu.." ucap Satria


"Ya sudah kita ikutin aja kak" jawab Lissa


"oke kamu pegangan sayang. Aku mau kejar" ucap Satria


"oke" jawab Lissa

__ADS_1


wusshshh Satria pun mengejar mobil yang ditumpangi oleh papahnya. Kini satria tepat berada di belakang mobil itu dan mobil itu belok ke cafe yang akan Satria tuju.


Laki-laki paruh baya itu turun dari mobil nya menggendong anak berusia sekitar 5 tahun. disusul seorang wanita usia kisaran kepala 3.


"Papah" ucap Satria yang melihat pak alfian dari dalam mobilnya


Lissa yang seolah sudah mengerti isi hati Satria mencoba menenangkan kekasihnya.


"Sabar sayang, kita selidiki dulu" ucap Lissa


"iya sayang. Kamu tenang saja" jawab Satria meletakan kedua tanganya di pipi Lissa.


Satria menggandeng tangan Lissa dan berjalan mengikuti pak Alfian dari belakang. Terlihat papahnya sangat mesra bersama wanita tersebut.


"Pah adek mau makan kue" ucap anak kecil berusia 5 tahun itu


"Iya sini papah suapin adek" jawab pak Alfian


Satria yang mendengar anak kecil itu memanggil pak Alfian dengan sebutan papah . Ia kaget seolah jantungnya memompa aliran darah dengan kencang.


Lissa menatap Satria dan menggenggam semakin erat tangan Satria seolah memberi tanda bahwa ia akan selalu disampingnya.


Satria hilang kesabaran dan mendekati pak Alfian papah Satria.


"Hmm bahaya nih" gumam Lissa


"papah. Siapa wanita ini pah, mesra banget. Terus kenapa papah pulang gak ngasih tau Satria atau mamah. Maksud semua ini apa pah!!!" ucap Satria marah dan mendekatkan tubuh di depan pak Alfian hingga wajah mereka berdua saling tatap.


Lissa mencoba sekuat tenaga menahan tubuh Satria agak tidak berbuat melampaui batas di tempat umum.


Lissa baru pernah melihat betapa marahnya sosok pria yang dicintainya itu.


"Satria. Papah bisa jelasin nak dan papah memang berencana menjelaskan semuanya sama mamah, kamu dan Vania" ucap pak Alfian


"Satria gak nyangka pah!!" ucap Satria dengan muka merah


"ayo kita pulang " ucap Satria menggandeng Lissa


"nak maafin papah" ucap pak Alfian sambil mengejar Satria yang berjalan meninggalkanya dan berusaha menjelaskan kepada Satria. Namun Satria tidak memperdulikan dan meninggalkan pak Alfian.


Lissa hanya terdiam membisu, Lissa tidak tau harus berbuat apa . Yang ia tau hati kekasihnya itu sedang hancur melihat perilaku pak Alfian.


"Sayang aku gak bisa bawa mobil dengan kondisi seperti ini. Kamu yang bawa ya." ucap Satria


"Iya sayang.." jawab Lissa


"Kita ke rumahku, kamu ikut ke rumah ya" ucap Satria


"iya kak" ucap Lissa


Bersambung.


Terimakasih sudah mampir di novel Perawat si Pencuri hati.


Ikuti terus kelanjutan kisah Lissa bersama seorang perawat yang telah mampu mencuri hati Lissa Hana Fahrani.

__ADS_1


__ADS_2