
Jam telah menunjukan pukul 22:00 WIB.
Lissa memainkan ponselnya diatas tempat tidur kamar kosnya.
"Kak Satria udah nyampe belum ya" gumam Lissa
Lissa mulai khawatir karena belum ada kabar dari Satria sejak sore. Lisaa memutuskan melakukan panggilan ke nomor Satria.
tut tut tut
Handphone Satria bergetar, ia segera meraihnya dan mengangkat panggilan dari kekasihnya.
''Hallo sayang"
"hallo kak, kakak udah sampe Jogja ? kok nggak ngabarin Lissa" ucap Lissa dengan nada manja.
"Iya maaf sayang kakak ketiduran tadi di mobil, pas sampe langsung beres-beres ini baru kelar. Mau ngabarin malah kamu udah telfon duluan.'' jawab Satria
"Oh syukurlah kak kalo sudah sampe Lissa lega, yaudah kakak istirahat gih rebahin badan pasti pegel- pegel perjalanan jauh" ucap Lissa
"iya sayangku, sayang juga istirahat ya udah malem"ucap Satria
"iya kak" jawab Lissa
"love u " ucap mereka bersamaan tanpa sengaja
"love u too" ucap satria tersenyum
Merekapun menutup telfon masing- masing.
Satria segera menyelimuti tubuhnya dan segera memejamkan matanya, ia melihat teman- temanya sudah pulas tertidur. Ia pun menyusul teman- temanya karena keesokan paginya mereka harus mulai kegiatan orientasi rumah sakit pukul tujuh pagi.
...****************...
Kediaman Siska
Waktu menunjukan pukul 0700 WIB ,
__ADS_1
"pagi nak" sapa tante Helda
''pagi tante" jawab Siska sambil berjalan menuju meja makan yang sudah tersedia menu sarapan, roti beserta macam selai dan susu sapi segar .
Tante Helda adalah adik dari ayah Siska yang sangat dekat dengan Siska. Bahkan Siska diperlakukan sama dengan anak kandungnya sendiri. Nenek dan kakek Siska berasal dari keluarga sederhana. Mempunyai empat orang anak, dan beliau berprofesi sebagai petani.
Mereka tidak mampu menyekolahkan anaknya hingga keperguruan tinggi, namun ayah Siska yang bernama pak Rama adalah anak yang cerdas, beliau mendapat beasiswa sejak duduk di bangku menengah pertama hingga keperguruan tinggi.
Sewaktu masih duduk dibangku perkuliahan pak Rama telah diangkat menjadi pegawai negri di salah satu instansi. Pak Rama menjadi tulang punggung keluarga saat itu. Beliau seorang pekerja keras, yang harus menghidupi orang tuanya dan ke tiga adiknya.
Setiap pulang bekerja, pak Rama membantu orang tuanya mengurus sawah dan menjual hasil panen ke pasar yang jarak tempuhnya kurang lebih 1 jam dari rumah. Penghasilan yang pak Rama dapatkan , beliau gunakan untuk menyekolahkan adiknya hingga keperguruan tinggi, termasuk tante Helda. Biaya kuliah dan biaya hidup tante Helda di tanggung oleh pak Rama pada saat itu. Itulah sebabnya tante Helda menganggap Siska sebagai anaknya sendiri.
"Mau selai coklat atau keju nak?" tanya tante Helda
"cokalt aja tan," jawab Siska
"oke, habisin biar semangat beraktifitas" ucap tante Helda sambil menyodorkan segelas susu dan se potong roti coklat kesukaan Siska.
"Iya tante, makasih tan" ucap Siska
"sama-sama nak" jawab tante Helda
"iya tan, bentar lagi nyampe katanya" jawab Siska
" hati-hati nak, tante setuju loh nak kalo kamu sama Tama. Dia anak baik, dewasa dan bertanggung jawab" ucap tante Helda.
"Iya tante , penilaian Siska juga sama dengan tante, tapi kalo Tama ngajakin nikah cepet gimana tan? kan Siska baru saja masuk kuliah" ucap Siska
" Ya nggak apa-apa nak, kan nikah dulu sambil pacaran gak apa-apa. Ayah kamu juga pasti setuju kalo udah kenal Tama" ucap tante Helda
"iya tan" jawab Siska
"tapi terserah kamu nak, kan kamu yang menjalani , tante cuman berpendapat saja" imbuh tante Helda
"iya ,Siska jalani dulu saja tan" jawab Siska
''Anak baik'' ucap tante Helda mengusap ujung rambut Siska
__ADS_1
Tok tok tok
Bunyi suara ketukan pintu terdengar.
''Biar tante saja nak, kamu lanjutin sarapan" ucap tante Helda
''iya tan" jawab Siska
Cekrek, terlihat laki-laki pawakan tinggi putih berparas tampan menggunakan kemeja warna cream tersenyum menyapanya.
"Pagi tante" ucap Tama
"pagi nak Tama. Masuk sini, Siskanya lagi sarapan bentar" ucap tante Helda
"udah selesai tante," ucap Siska dari belakang
''tante siska langsung berangkat ya, Siska ada mata kuliah jam setengah delapan" imbuh Siska
"iya gak usah buru-buru nak, sarapanya sudah habis kan?''
''iya tan,sudah tante'' jawab Siska sambil meraih tangan tante Helda dan menciumnya.
Disusul dengan Tama yang menyalami tangan tante Helda.
''Hati-hati, makasih nak Tama sudah mengantar Siska kekampus"
''iya tante sama-sama''
"Tama pamit dulu tan"ucap Tama si koas tampan
"iya nak " jawab tante Helda
...****************...
bersambung
Terimakasih sudah mampir di novel Perawat si Pencuri hati.
__ADS_1
Ikuti terus kelanjutan kisah Lissa bersama seorang perawat yang telah mampu mencuri hati Lissa Hana Fahrani.