
Hari demi hari telah berganti.
Tak terasa 2.5 tahun sudah Satria bekerja di rumah sakit medika sebagai partner dokter Tama. Gaji yang Satria dapatkan, sebagian ia sisihkan dan sebagian digunakan untuk keperluannya. Semenjak bekerja, Satria tidak mau menerima uang pemberian mamah Nita. Satria juga mengajak mamah Nita dan Vania untuk berbelanja atau sekedar makan di restoran dengan menggunakan gaji yang ia dapatkan.
Kini Vania tengah duduk di bangku perguruan tinggi disalah satu kampus dekat rumah Satria. Vania adalah mahasiswa kedokteran semester empat. Dokter merupakan profesi yang Vania inginkan sejak dahulu. Berbeda dengan Satria, ia lebih memilih menjadi perawat dikarenakan materi kuliah perawat lebih sederhana dibandingkan kedokteran. Satria juga melihat prospek ke depan , seorang perawat lebih banyak dibutuhkan dalam dunia kerja. Satria ingin setelah lulus kuliah bisa langsung bekerja dan membanggakan kedua orang tuanya.
Sementara Lissa dan Siska telah menyelesaikan pendidikanya sebagai seorang ahli pertama kebidanan.
Kini Lissa telah resmi mendapat gelar di depan dan dibelakang namanya, yaitu Bd. Lissa Hanna Fahrani, S.Keb. Lissa mendapatkan indeks prestasi kumulatif dengan predikat cumlaude. Ia adalah lulusan terbaik kedua di angkatanya. Meskipun belum bisa menjadi peringkat pertama, namun Lissa sudah menunjukan yang terbaik dan bisa membanggakan ayah Imam dan ibu Herni.
" Alhamdulillah nduk, kamu sudah membuktikan bahwa kamu bisa menjadi yang terbaik" ucap bu Herni
" iya alhamdulillah anak ayah hebat" imbuh pak Imam
" Tapi maaf ayah, ibu. Lissa belum bisa bahagiain ayah dan ibu. Lissa janji setelah ini akan mencari pekerjaan." ucap Lissa
" Kamu selalu buat ayah dan ibu bahagia nduk. Kamu anak yang berbakti sama orang tua" jawab bu Herni
Merekapun saling berpelukan dan meneteskan air mata bahagia.
Tiga hari setelah acara wisuda, Siska dan dokter Tama menggelar acara resepsi pernikahan. Acara digelar di sebuah gedung pertemuan yang megah. Lissa dan Satria turut menghadiri resepsi pernikahan. Mereka ditunjuk sebagai bridesmaide dan groomsmen. Sangat serasi dan romantis, tidak kalah dengan pasangan pengantinnya.
__ADS_1
...****************...
Hari telah berganti, Lissa terlihat sibuk menyiapkan dokumen dan menyiapkan surat lamaran pekerjaan.
Lissa memutuskan untuk mencari pekerjaan di ibu kota.
" hmm coba masukin lamaran ke beberapa rumah sakit di kota ini ah, siapa tau rezeki" gumam Lissa
'' oh iya, waktu itu kan kak Tama nawarin gue sama Siska kerja di rumah sakitnya" gumam Lissa
Dokter Tama menawarkan pekerjaan untuk Lissa dan Siska. Dokter Tama adalah pemilik saham rumah sakit medika, rumah sakit dimana tempat ia dan Satria bekerja. Dan rumah sakit tersebut sedang membutuhkan tenaga bidan.
" Oke gue besok kasih surat lamaran ke kak Tama" gumam Lissa
"Sayang kata dokter Tama kamu dan Siska, hari senin besok disuruh interview dengan kepala bagian kepegawaian rumah sakit medika" ucap Satria
'' Serius kak?'' ucap Lissa gembira
" iya sayang, semangat interviewnya. Jawab pertanyaan dengan baik dan tegas" ucap Satria
'' siap kakak sayang, terimakasih kak do'ain Lissa terus ya kak biar bisa kerja bareng kakak" ucap Lissa
__ADS_1
''iya sayang, yasudah kakak lanjut kerja dulu ya" ucap Satria
" iya kak, semngat kerjanya. Jangan genit kalau ada pasien cantik hehe" ucap Lissa
" iya sayang. Genit dikit nggakpapa kan biar nggak serius mulu sayang. Penat kerja serius mulu hehe, tapi tenang saja hati kakak hanya untuk Lissa anak kecil seorang" ucap Satria
'' ihhh kakak pokoknya nggak boleh"
'' iya bawel, nanti pulang kerja kakak jemput ya. Kita makan es krim kesukaan kamu" ucap Satria
'' Siap kakak'' jawab Lissa
'' Assalamualaikum"
''waalaikumsalam''
''hmm bersyukur banget kenal kak Satria. Paling mengerti apa yang sedang aku inginkan hehe. Kayaknya punya mata batin, tahu banget kalo aku lagi pengen makan es krim " gumam Lissa
Bersambung.
Terimakasih sudah mampir di novel Perawat si Pencuri hati.
__ADS_1
Ikuti terus kelanjutan kisah Lissa bersama seorang perawat yang telah mampu mencuri hati Lissa Hana Fahrani.