
"Adiiiiiiit" gadis itu terbangun dari mimpinya. Keringat dingin terus bercucuran, wajahnya pucat. Mimpi buruknya kembali membuat gadis cantik itu menangis.
"Maaf aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Aku memang bukan kakak yang baik" katanya di sela-sela isaknya.
Kejadian 3 tahun yang lalu membuat luka besar di hatinya. Penyesalan yang mendalam hanya menambah sesak di hatinya. Jauh di dalam hatinya dia ingin kembali seperti semula. Merangkai semuanya dari awal, dan akan merubah segalanya.
Gadis itu terus menangis dan akhirnya dia terlelap melanjutkan tidurnya dengan sisa-sisa air mata di pipi chubbynya .
Hari itu adalah hari yang berat bagi Kiara.
"Kiara bangun nak sudah siang ini"
Rinjani menggoyangkan tubuh Kiara dengan lembut. Perempuan paruh baya itu mengerti bahwa gadis Kiara telah mimpi buruk semalam. Bunga tidur yang selalu sama, yang akan membuat gadis itu terbangun tengah malam. Rinjani melihat anak semata wayangnya, melihat wajah sang anak yang telah berubah semenjak kepergian adik satu-satunya. Mata gadis itu sembab. Rinjani membangunkan gadis itu lagi. Kiara terbangun dan menggeliat "Pagi bun" ucapnya. Lalu duduk di tepi ranjang di samping ibunya. Ibunya menatap lembut anak gadisnya. "Nak, kamu mimpi buruk ya semalam?" tanyanya.
"Iya bun" Kiara menjawabnya singkat dan langsung pergi ke kamar mandi.
Setelah mandi Kiara menatap wajahnya di cermin
"Mataku bengkak" gumamnya
Gadis itu memakai sepatunya dan terdiam sejenak. Kejadian 3 tahun lalu membayangi dirinya. Sesak rasanya saat dia berusaha menahan air mata yang sedari tadi ada di pelupuk matanya.
"Kiara cepat turun, ayo sarapan bersama!!"
__ADS_1
teriakan ibunya mengejutkan Kiara
"Iya bun" teriaknya
Gadis cantik itu keluar dari kamarnya dan melihat papanya disana
"Ayaaaaah!" serunya
"Pagi putriku, apa kabar?"
"Pagi ayah, baik yah. Bagaimana kabar ayah? Aku rindu dengan ayah. Ayah sudah lama sekali tidak pulang, bahkan ayah juga jarang menghubungiku" tanya Kiara tanpa ada koma dan titik yang jelas.
Pria itu tertawa dan menghembuskan nafasnya pelan
"Putriku sayang aku bekerja keras demi kamu dan bundamu tentunya. Maafkan ayah yang belum bisa jadi yang terbaik buat kamu dan bunda."
"Ayah tidak papa. Terima kasih yah. Ayah memang yang terbaik."
"Ayah aku berangkat dulu ya. byeeee"
"Iya putriku hati-hati"
sudah tidak ada jawaban dari putrinya itu.
__ADS_1
Kiara sangat dekat dengan ayahnya
hanya dengan ayahnya lah dia bisa menunjukkan keceriaannya. Sedangkan pada ibu tirinya Rinjani dia masih belum bisa menerimanya.
Ibu kandung Kiara sudah meninggal saat gadis itu berumur 6 tahun.
Dan Adit meninggal saat Kiara berusia 12 tahun.
Adit pergi menemui tuhan karena sakit yang di deritanya. Sakit yang Adit punya sejak dia masih kecil. Ketika sakit yang di deritanya kambuh , Adit akan mikokan. Kiara ingat saat-saat terakhir Adit akan pergi.
"Kak aku sayang kakak, maaf ya kak Adit selalu nyusahin kakak. Adit bentar lagi sembuh kok"
Kiara terisak mendengar kata-kata Adit
"Adit harus kuat ya. Adit gak boleh lemah. Adit bertahanlah"
"Kak maafin Adit belum bisa jadi adik yang baik. Kakak tetap tersenyum ya jangan nangis lagi. Kakak gak boleh cengeng."
"Iya kakak ga cengeng. Nanti kalau Adit sembuh kakak bakal main sama Adit sampai kapanpun"
"Kak tetap tersenyum yaaa Adit pergii"
Lalu Adit kejang-kejang air mata Dimas dan Kiara tidak bisa di bendung lagi
__ADS_1
Dokter sudah melakukan yang terbaik, namun Tuhan lebih sayang kepada Adit hingga Tuhan mengutus malaikatnya untuk menjemput Adit. Adit telah pergi selama-lamanya.
Kata- kata Adit terngiang- ngiang di telinga Kiara. Tanpa sadar air mata dengan derasnya turun sejak tadi.