Perfect

Perfect
Bab 19


__ADS_3

Jam besar di depan sekolah menunjukkan pukul enam lebih lima belas menit. Kedatangan Rizky dan kawan-kawan mampu menyihir seluruh siswi yang pada saat itu berada di lapangan. Sorot mata mereka fokus melihat Rizky seolah tanpa berkedip.


"Rizky makin hari, semakin ganteng aja" ucap salah satu siswi yang berada di lapangan.


"Ganteng banget, sumpah" puji siswi lain.


"Beruntung banget sih Syifa jadi pacarnya" timpal siswi lain.


"Idaman banget sih, Rizky" ucap siswi lain.


Ersya yang melihat para siswi itu memuji Rizky, lantas menyenggol bahu gadis yang tepat berdiri di sampingnya, "Tuh, cowok lo dipuji cewek lain" ucap Ersya dengan tawa kecilnya.


"Terus gue harus ngapain? Harus jambakin tuh cewek-cewek?" tanya Syifa logis.


"Ya nggak gitu juga, Syif" sahut Ersya.


"Sya, emang kenyataannya Rizky itu ganteng, jadi wajar kalau sembilan puluh persen cewek-cewek disini terpesona sama dia" tambah Syifa.


"Kenyataannya gue juga nggak terpesona sama cowok lo," sahut Ersya.


"Gue kan bilangnya cuma sembilan puluh persen, nah berarti lo itu salah satu dari sisa sepuluh persen," jelas Syifa.


"Tau ah gue pusing kalau udah bahas persentase" sahut Ersya.


"Bahas persentase aja lu pusing, gimana mau bahas masa depan," Goda Syifa.


"Yeh, masa depan gue mah udah fix lancar, jadi gue nggak perlu repot-repot buat ngurusin masa depan" sahut Ersya tak mau kalah.


Rizky dan teman-temannya berjalan menghampiri Syifa dan Ersya yang sedang melihat ke arah mereka. Pria itu berjalan seraya menunjukkan senyumanan pada Syifa.


“Ayo ke kelas” ajak Rizky.


“Ayo,” sahut Syifa.


“Tunggu..,” ucap Rizky, membuat langkah teman-temannya dan Syifa terhenti.


“Kenapa?” tanya Syifa dengan raut wajah serius.


Rizky menatap Syifa dengan lekat. “Tangan lo mana?” tanya Rizky.


Syifa mengerutkan keningnya, ia sedikit bingung dengan pertanyaan Rizky. “Hah? Kenapa?” tanya Syifa lagi.


“Mau digenggam,” jawab Rizky seraya tersenyum.


Rizky langsung meraih tangan Syifa, menggenggamnya dengan sangat erat. Syifa merasakan kedua pipinya yang memanas. Syifa tidak tahu harus berkata apa, perlakuan Rizky membuat dirinya ingin terbang saat ini. Syifa hanya menatap Rizky lekat seraya menahan senyumnya. Ia sangat tidak menyangka dengan yang dilakukan Rizky barusan.


“Bisa aja lo, kampret” gerutu Ali yang disambut oleh sorakan dari teman-temannya yang lain.


"Bisa nggak sih kalian jangan pada uwu di depan gue?" tanya Eko sedikit kesal.

__ADS_1


“Syirik aja lo, belalang” sahut Rizky tak mau kalah.


°°°°°


Syifa dan Ersya masuk ke ruang kelasnya, beberapa pasang mata menatapnya tajam. Syifa tidak menghiraukan, ia berjalan ke kursinya, lalu menaruh tasnya di atas meja.


“Syifa kira-kira pakai susuk merk apa ya bisa bikin Rizky luluh gitu?” bisik salah satu siswi.


"Masuk akal nggak sih kalau dua cowok ganteng di sekolah ini tuh pada suka sama Syifa?" sahut siswi lain.


“Dukunnya Syifa kuat tuh“ timpal siswi lain.


“Kok ada ya orang-orang yang bermulut sampah kayak kalian?“ ucap Ersya dengan keras.


Seisi kelas melihat ke arah Syifa dan Ersya. Syifa hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya saat ia mulai merasa dihakimi.


“Padahal masih banyak cewek di sekolah ini, tapi dua cowok ganteng itu malah suka sama satu cewe“ timpal siswi lain.


"Di sekolah ini tuh yang cantik bukan lo doang, Syif. Banyak!" sahut siswi lain.


Syifa semakin merasa di pojokkan oleh omongan mereka. Syifa tahu, Rizky dan Adam adalah dua cowo idaman para siswi yang selalu jadi rebutan, tapi apa salah jika Syifa dekat dengannya? Lagi pula, Syifa hanya ingin Rizky, ia tidak bermaksud membuat Adam menyukainya.


“Gini nih, kalau orang-orang nggak diadzanin pas lahir, jadi dengki" ucap Ersya dengan keras.


Syifa melihat ke arah Ersya, gadis itu mengembangkan kedua sudut bibirnya sambil menaikkan alisnya. “Setiap orang punya sisi kelebihannya masing-masing, nggak mungkin sama rata. Hidup ini ada minus dan plus. Jadi nggak usah sok paling sempurna!“ ucap Ersya lagi.


"Gue kasih tau ke lo semua ya, setiap orang itu punya pilihannya tersendiri untuk menentukan hidup mereka. Jadi lo semua nggak usah ribet. Dasar mulut sampah!" tambah Ersya penuh penekanan.


°°°°°


Hampir tiga puluh menit, Rizky menunggu Syifa di parkiran sekolah. Sembari menunggu gadis itu, Rizky nampak sibuk dengan ponselnya. Tak lama kemudian, Syifa pun datang.


"Rizky,” panggil Syifa.


Rizky mengangkat kepala, melihat Syifa dengan sangat lekat. Ia dibuat terpukau dengan penampilan Syifa yang mengenakan baju santai. Gadis itu tetap cantik, bahkan lebih cantik dari biasanya.


“Kenapa ngeliatin kayak gitu?” tanya Syifa.


“Cantik,” jawab Rizky.


“Siapa?” tanya Syifa lagi.


“Pacar gue,” jawab Rizky datar.


“Lo bisa nggak sih lebih ekspresif lagi, jangan datar terus!” kelas Syifa.


“Lo terlalu cuek buat gue yang agresif” tambah Syifa.


Perlahan kedua sudut bibir Rizky mengembang. Ia berjalan mendekati Syifa, membuat jarak diantara mereka sangat sedikit. “Ini untuk pertama kalinya,” ucap Rizky sembari mengecup bibir mungil Syifa.

__ADS_1


Kedua mata Syifa membulat tak percaya saat sesuatu yang hangat dan lembut mendarat di bibirnya. Beberapa hari yang lalu, Rizky mencium pipinya. Sekarang, Rizky mengambil ciuman pertamanya.


Syifa berusaha mengontrol dirinya sendiri. Dengan erat ia mengepal kedua tangannya. Kegugupannya semakin lama tak bisa terkendali.


Beberapa detik kemudian, tubuh Rizky mulai menjauh, pria itu melepaskan bibirnya dari bibir Syifa. Rizky tersenyum kecil sembari menatap Syifa dengan lekat. “Lo masih mau bilang kalau gue terlalu cuek buat lo yang agresif?”


Syifa meremas jari-jarinya seraya mengendalikan dirinya sendiri. Syifa merasakan jantungnya yang berdetak tidak normal.


“Lo makin gemas kalau lagi gugup,” ucap Rizky tertawa.


“Ihhh.., Rizky!” kesal Syifa.


Rizky mengacak-acak pucuk kepala Syifa pelan. Rizky sangat suka melakukan itu.


“Rizky,” panggil Syifa.


“Iya, kenapa?”


“Rizky jangan cuek-cuek lagi ya, Rizky harus bisa bedain gimana sifat Rizky ke teman, sama ke pacar” ucap Syifa.


Rizky terdiam sejenak, lalu tersenyum sembari mengangguk pelan.


“Gue akan coba,” ucap Rizky.


Syifa tersenyum lega. Ia sangat senang mendengar jawaban Rizky. Karena jawaban itu yang ia inginkan.


Rizky meraih tangan Syifa, lalu menggenggamnya. “Gue sayang lo, Syif.”


Aku mau kamu


Seperti malam butuh rembulan


Atau siang butuh mentari


Aku ingin kamu


Sama seperti hujan


Mencipta pelangi


Aku ingin indahmu


Aku berharap di kamu


Dan memohon kepada Tuhan


Untuk melukis pelangi


Setelah rintik hujan menghujam hati

__ADS_1


Astaga..., Syifa ingin sekali berteriak histeris saat ini, namun ia mengurungkan niatnya agar tidak terlihat berlebihan di depan Rizky. Coba saja bayangkan, jika seseorang yang kamu sayangi, juga menyayangimu. Sungguh luar biasa. Hidup benar-benar memiliki banyak kejutan.


__ADS_2