Perfect

Perfect
Bab 39


__ADS_3

Bel pulang berbunyi, seluruh murid bergegas memasukkan buku ke dalam tas, tidak terkecuali Rizky dan teman-temannya.


Rizky segera menggendong tasnya dan berjalan keluar meninggalkan kelas.


"Rizky," panggil Salma.


Langkah Rizky terhenti, ia menoleh.


"Boleh pulang bareng ngga?" tanya Salma, apapun jawaban Rizky, ia akan menerima, walaupun ia yakin Rizky akan menolaknya.


"Yaudah," jawab Rizky singkat, lalu kembali melanjutkan langkahnya.


Salma mematung sejenak. Apakah pendengarannya tidak salah? Rizky tidak menolaknya, Rizky mau pulang bareng dengannya.


Kedua sudut bibir Salma mengembang, ia segera berlari kecil untuk menyamai langkah Rizky.


Rizky meminjam helm pada petugas keamanan sekolah, lalu memberikannya pada Salma. "Pakai, biar aman," ucap Rizky dengan nada yang terdengar dingin.


Salma tersenyum kecil seraya mengambil helm yang diberikan Rizky.


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, tidak ada satu patah kata pun yang keluar. Hingga akhirnya Salma membuka suara. "Ky, nanti di depan berhenti ya," ucap Salma.


Rizky menuruti ucapan Salma, ia berhenti di depan sebuah rumah makan. "Lo nggak langsung pulang?" tanyanya.


"Gue lapar, mau makan dulu, kebetulan mama gue lagi tugas di luar kota," jelas Salma.


"Lo baliknya hati-hati ya, makasih udah ngizinin gue pulang bareng lo," tambah Salma.


Rizky melepaskan helmnya, lalu tiruan dari motor.

__ADS_1


Salma nampak bingung, "Kok lo lepas helm?" tanyanya.


"Gue boleh ikut makan disini nggak nih?"


Salma sangat mendengarnya, ia menggangguk semangat. "Boleh banget." Salma langsung menarik tangan Rizky untuk masuk ke dalam.


Rizky dan Salma memesan mie dengan level empat, dimsum, pangsit goreng dan dua es kelapa.


Untuk pertama kalinya Salma bisa makan berdua dengan Rizky tanpa harus memaksa pria itu.


Rizky menyantap makanan yang di hadapannya dengan lahap, ia tidak tahu kalau saat ini ia sedang menjadi titik perhatian Salma.


Salma tidak sengaja menjatuhkan sumpitnya, Salma langsung membungkuk dan mengambil sumpit yang berada di bawah meja. Dengan cepat Rizky menutup ujung meja di dekat Salma dengan tangannya.


Saat Salma bangkit, ia terhantuk ke tangan Rizky yang menutup ujung meja. Untuk beberapa detik Salma menatap Rizky lekat. Sial! Perlakuan Rizky membuat jantung Salma berdegup tidak beraturan.


"Makasih, Ky," ucap Salma.


"Mba," panggil Rizky pada pelayan wanita yang berada tidak jauh dari mereka.


Pelayan tersebut segera menghampiri Rizky dan Salma. "Ada yang bisa dibantu kak?" tanyanya dengan lembut.


"Mau minta sumpit baru mba, punya teman saya jatuh," ucap Rizky.


"Baik kak, ditunggu sebentar ya." Pelayan tersebet segere menuju kitchen untuk mengambilkan sumpit baru untuk Salma.


Tak berselang lama, Pelayan tersebut kembali dan memberikan sumpit. "Makasih, Mba," ucap Rizky dan Salma kompak.


"Sal, kalau Mama lo tugas di luar kota gini lo dirumah berarti sama Papa lo doang dong?" tanya Rizky, mengingat Rizky hanya tahu Salma adalah anak tunggal.

__ADS_1


"Sendiri," jawab Salma.


"Papa lo ada tugas juga?" tanya Rizky.


Salma menggeleng. "Papa sama Mama gue udah cerai. Mama udah nggak bisa sama Papa lagi karena Papa kasar banget ke Mama, emang berat sih rasanya harus besar tanpa sosok Papa, tapi gue juga nggak mau lihat Mama gue setiap hari selalu jadi bahan pelampiasan kemarahan Papa," cerita Salma.


Rizky terdiam sejenak. Hampir satu tahun berteman dengan Salma, Rizky baru tahu kalau ternyata Rizky dan Salma sama-sama berasal dari keluarga broken home, hanya saja orang tua Rizky bercerai karena hadirnya orang baru yang merusak rumah tangga mereka.


"Maaf Sal," ucap Rizky merasa tidak enak.


Salma tersenyum, lalu menyantap dimsum yang berada di depannya. "Nggak apa-apa, Ky," ucapnya.


Rizky bisa merasakan apa yang Salma rasakan, karena Rizky juga besar tanpa sosok seorang Papa, Mama Rizky membesarkan Rizky sendirian setelah Papa Rizky pergi dari rumah dan memilih tinggal bersama perempuan baru yang kini sudah menjadi Mama Tiri Rizky, yaitu Tante Sinta.


"Lo hebat, Sal," ucap Rizky.


Salma terkekeh, "Hebat apanya?" tanyanya.


Rizky menghentikan makannya, menaruh sumpit diatas piringnya dan menatap Salma lekat. "Lo bisa masih mikirin perasaan Mama lo, walaupun lo tahu, ke depannya nanti lo kehilangan figur Papa dihidup lo."


"Gue ngga tahu sejak kapan Papa gue kasar ke Mama, gue baru ngerti saat gue kelas 3 SD, hampir setiap hari mereka debat, bahkan Mama gue selalu lebam-lebam. Gue dengar pas mereka debat, Mama gue bilang kalau bukan karena gue, mungkin Mama gue udah mau pisah sejak lama, tapi karena gue, akhirnya Mama gue bertahan, karena Mama gue ngga mau anaknya nanti ngga punya Papa." Kedua sorot mata Salma berkaca-kaca saat menceritakan permasalahan hidupnya pada Rizky.


"Setelah mereka udah selesai debat, gue bilang ke Mama gue, kalau gue ngga apa-apa tanpa Papa, yang penting Mama gue ngga harus ngerasain ini lagi. Entah itu kesalahan terbesar gue yang bikin orang tua gue cerai atau gimana? Tapi gue merasa senang lihat Mama gue yang sekarang, Ky," jelas Salma.


Rizky tersenyum, ia mengelus punggung tangan Salma dengan lembut. "Pilihan sulit sih saat harus mempertahankan atau melepaskan demi kebahagiaan," ucap Rizky.


"Maaf ya Ky, gue jadi cerita masalah keluarga gue gini," ucap Salma sungkan.


"Gue harus bilang sekali lagi ke lo, kalau lo itu hebat, Sal," ucap Rizky seraya menunjukkan kedua ibu jarinya pada Salma yang sedang tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


__ADS_2