
Kai melemparkan tubuhnya ke tempat tidur. Hari ini sangat melelahkan bagi Kami, tapi rasa senangnya jauh lebih besar dibandingkan lelahnya.
Kai mengambil ponselnya seraya melihat foto dirinya bersama almarhumah adiknya, Biru. Perlahan, kedua sudut bibir Kai terangkat, bahkan sorot matanya pun berkaca-kaca. "Biru, hari ini kakak pergi ke Seoul Land sama teman kakak, kalau kamu masih ada, pasti kamu senang banget main disana kayak Syifa."
Kai mengelus foto Biru dengan sangat lembut. "Biru, kakak kangen banget sama Biru. Kakak kangen berantem sama Biru." Tanpa sadar air mata Kai pun terjatuh.
Melihat Syifa yang nampak bahagia saat bermain di Seoul Land, membuat Kai teringat sosok Biru yang juga menyukai taman hiburan.
Tiba-tiba Kai teringat kalau waktunya di Korea tinggal beberapa bulan lagi, dan akan meninggalkan Korea lebih dulu dibandingkan Syifa.
Kai bangkit dan berjalan menuju meja belajarnya. Melihat kalender yang penuh dengan tanda silang. Dari awal datang ke Korea, Kai selalu menandakan silang setiap harinya untuk menghitung berapa lagi ia tinggal di Korea, tapi sekarang, rasanya sangat berat untuk meninggalkan Korea, entah karena lingkungan atau orang yang berada di lingkungan Kai?
"Apa semuanya akan tetap berjalan seperti sekarang kalau kita udah di Jakarta Syif? Sedangkan gue sendiri tahu kalau lo punya pacar," ucap Kai sendiri.
Kai tidak mengerti dengan perasaannya, entah karena menganggap Syifa sebagai adiknya saja atau karena Kai yang sudah jatuh hati pada Syifa?
Kai menggelengkan kepalanya seraya menyadarkan dirinya sendiri. "Ngga! Ngga! Gue ngga boleh suka sama Syifa! Syifa punya pacar! Gue ngga boleh suka sama Syifa!" ucap Kai berulang kali.
Kebiasaan sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama, tidak menapik kemungkinan kalau Kai memiliki rasa yang lebih pada Syifa. Dari awal pertemuan mereka, Kai sangat merasa nyaman sehingga membuat Kai membagikan permasalahan pribadinya pada Syifa.
Drttt...
Ponsel Kai bergetar, sebuah panggilan dari Syifa tertera di layar ponselnya. Dengan cepat Kai menerima panggilan tersebut.
__ADS_1
"Kai," panggil Syifa dari seberang.
"Kenapa Syif? Kangen?" goda Kai.
Syifa mendecak. Mungkin jika bisa terlihat, pasti bibir Syifa tengah maju beberapa sentimeter karena ucapan Kai barusan.
"Makasih ya, Kai," ucap Syifa.
Kai kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur seraya menatap langit-langit kamarnya. "Sama-sama, Syif."
"Syif, kita masih bisa kayak gini ngga ya?" tanya Kai.
Syifa terdiam, tidak ada sahutan apapun dari Syifa.
"Syif," panggil Kai.
"Masih lah! Kita masih bisa keliling lagi, naik wahana ekstrem, saling tukar cerita. Kenapa harus ngga bisa coba?" ucap Syifa.
Hati Kai merasa lega setelah mendengar ucapan Syifa. "Kalau di Jakarta kita masih bisa kayak gini?" tanya Kai lagi.
Lagi, Syifa terdiam.
"Lo sayang banget ya sama cowok lo?" tanya Kai.
__ADS_1
Syifa merebahkan tubuhnya ditempat tidur, dan mulai menceritakan awal pertemuannya dengan Rizky dan apa yang membuat Syifa menyukai Rizky lebih dulu.
Kai mendengarkan cerita Syifa. Kai merasa Rizky sangat beruntung karena dicintai. Apalagi dari cerita yang ia dengar, Syifa benar-benar berjuang untuk menaklukkan hati Rizky.
"Sebenarnya malu sih kalau ingat waktu itu deketin Rizky, tapi ngga apa-apa, yang penting perasaan gue dibalas sama Rizky," ucap Syifa seraya menutup ceritanya.
Kai terkekeh, cerita Syifa bisa dijadikan motivasi untuk dirinya sendiri, bahwa tidak semua perjuangan berakhir sia-sia. Ya walaupun tidak semua perjuangan berakhir happy ending, tapi masih ada kesempatan.
"Kalau lo yang gue perjuangin mau ngga?" tanya Kai pada Syifa.
"Omongan lo ngawur, tidur sana," ucap Syifa.
"Syif, kalau gue baper sama lo, gimana?" tanya Kai dengan nada bicara yang terdengar serius, berbeda dengan beberapa menit lalu.
Syifa terkekeh, ia tidak menganggap serius ucapan Kai, "Boleh aja kalau lo baper," jawabnya.
"Serius?"
Kali ini Syifa paham, ucapan Kai tidak main-main. "Udah malam tidur sana, besok sekolah," ucap Syifa mengalihkan pembicaraan.
Kai menghela napasnya. Ia paham kalau Syifa tidak ingin membahas tentang ini sekarang, daripada membuat Syifa tidak nyaman, lebih baik ia mengakhiri pembicaraan saja.
"Yaudah, selamat malam, Syifa."
__ADS_1
"Selamat malam, Kaisar."
Kaisar menutup panggilan tersebut dan meletakkan ponselnya disamping tubuhnya. Pikiran semakin kalut saat tiba-tiba terlintas sebuah pertanyaan, bagaimana jika perasaannya pada Syifa semakin dalam? apakah Syifa akan membalas perasaannya? sedangkan Syifa sendiri mempunyai pacar di Jakarta? ****! Hal ini membuat Kai pusing.