Perfect

Perfect
Bab 20


__ADS_3

Rizky berjalan masuk ke dalam kamar. Langkahnya terhenti saat melihat papanya tengah duduk di pinggir tempat tidurnya. “Ngapain papa disini?” tanya Rizky sedikit tidak ramah.


“Ky, sini duduk” suruh Pak Surya.


“Kenapa?” balas Rizky sembari berjalan menghampiri papanya.


Pak Surya melihat Rizky dengan lekat. Lalu mengelus rambut Rizky dengan lembut. “Anak papa sudah besar sekarang,” ucap Pak Surya.


Tanpa basa-basi Rizky langsung melepaskan tangan papanya dari rambutnya dengan kasar. “Nggak usah drama, Pa” ucap Rizky.


“Papa tahu kamu masih benci sama papa, tapi papa mohon jangan bersikap seperti ini terus, Ky” ucap Pak Surya.


“Papa sedih ngelihat perlakuan kamu ke papa” tambah Pak Surya.


“Sedih? Pa, coba papa bayangin, lebih sedih mana, saat Papa ninggalin Rizky sama mama demi tante Sinta?” ucap Rizky sedikit nada tinggi.


Pak Surya terdiam.


Rizky menatap Pak Surya tajam, “Pa, jangan salahin Rizky yang bersikap kurang ajar ke papa. Rizky kayak gini karena kelakuan papa sendiri”.


“Maafin papa, Ky” lirih pak Surya.


Rizky mendesis pelan. Pikirannya saat ini sudah terbawa emosi, ia tidak bisa bersikap tenang. Karena suatu kenangan pahitnya selalu muncul setiap kali ia bertemu papanya.


“Andai aja maaf dari papa bisa mengembalikan masa kecil Rizky yang pedih, pasti Rizky sudah maafin papa dari dulu. Tapi sayang pa, Rizky udah terlanjur kecewa sama papa,” ucap Rizky emosi.


“Kalau papa masih mau di sini, Rizky pergi” ucap Rizky sembari berjalan keluar kamar membawa jaketnya.


“Rizky.. dengarin penjelasan papa dulu” ucap Pak Surya.


Rizky terus berjalan meninggalkan Pak Surya sendirian. Ia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak tahu ingin kemana saat ini. Karena yang terpenting baginya adalah untuk tidak bertemu dengan sang Papa.


°°°°°


Rizky berada di makam mamanya. Kedua sorot matanya tertuju pada batu nisan yang berada di depannya. “Ma, Rizky kangen” ucapnya.


“Ma, maafin Rizky ya. Dulu Rizky nggak bisa ngelakuin apa-apa buat mama,” tambahnya.


Tanpa disadari air mata Rizky terjatuh. Ia segera menghapusnya, ia tidak ingin terlihat cengeng, apalagi di depan makam sang Mama. “Rizky janji, Ma, Rizky nggak akan jadi cowok seperti papa. Rizky bisa ngerasain gimana sedihnya perasaan mama, gimana sakitnya mama saat papa ninggalin kita. Dan Rizky nggak mau orang yang Rizky cintai ngerasain hal yang sama kayak mama.”


Rizky mengelus batu nisan sang Mama dengan lembut. “Ma, nanti Rizky akan kenalin mama ke orang yang Rizky cintai. Dia cantik, pintar, ya walaupun sedikit aneh sih, tapi Rizky jatuh cinta sama dia, Ma,” ucap Rizky seraya bercerita pada mamanya.


Drttt.. Drttt..


Rizky mengambil ponsel dari dalam sakunya. Melihat ada panggilan video dari Syifa yang tertera di layar ponselnya. Rizky dengan segera menerima panggilan itu.


Rizky terdiam.


“Lo belum sampai di rumah?”


“Udah tadi, tapi keluar lagi”

__ADS_1


“Kenapa? Lagi ada masalah ya di rumah?”


Rizky tidak menjawab apapun.


“Pulang sana, pergi dari rumah bukan jalan terbaik untuk nyelesain masalah.”


“Pulang gih, nggak ada tempat yang paling nyaman selain di rumah,”


“Pulang sekarang.”


“Iya sebentar lagi,” sahut Rizky.


“Pulang ke rumah, jangan ke tempat lain.”


“Hmm..,”


“Lo pulang sekarang, gue temanin lo sambil video call sampai rumah.”


Perlahan kedua sudut bibir Rizky mengembang. Ia bangkit, lalu mengendarai motornya.


Syifa menyadari bahwa Rizky melakukan video call sambil mengendarai motornya.


“Lo video call sambil bawa motor? Gue kira lo dibonceng”


“Nggak. Gue sendiri” jawab Rizky.


“Ah udahlah, nanti lo malah nggak fokus bawa motornya. Takut gue.”


“Hati-hati lo, nggak usah ngebut-ngebut”


“Iya sayang.”


°°°°°


Rizky masuk ke dalam kelas Syifa, berpasang-pasang mata menatapnya dan bisikan-bisikan aneh terdengar di telinganya. Namun Rizky tidak mempedulikannya.


Rizky tersenyum kecil ketika pandangannya melihat sosok Syifa yang tengah duduk di bangkunya sembari berbincang dengan Ersya.


“Syifa..,” panggil Rizky.


Syifa dan Ersya menoleh, menatap sumber suara panggilan itu. Mereka baru menyadari kehadiran Rizky.


“Eh Rizky..,” sapa Syifa.


“Tumben lo, biasanya sibuk sama Salma di kelas” ucap Ersya tidak ramah.


Rizky mendesis pelan, jika ia tidak mengingat bahwa Ersya adalah pacaran temannya, pasti Ersya sudah mendapatkan serangan dingin dari Rizky.


Rizky menyodorkan satu susu kotak rasa coklat pada Syifa. “Buat lo,” ucap Rizky sembari menaruhnya di atas meja Syifa.


Syifa menganggukkan kepala, lalu mengambilnya “Makasih, Ky” ucap Syifa.

__ADS_1


“Lo bawa cuma satu? Jahat banget sih, Ky,” gerutu Ersya.


“Mintalah sana sama pacar tersayang lo!” ucap Rizky ketus.


“Gue balik ke kelas ya, jangan lupa diminum susunya” ucap Rizky sembari tersenyum kecil.


“Iya, iya nanti diminum” sahut Syifa.


“Susunya jangan dibagi ke dia nih,” ucap Rizky seraya menunjuk Ersya.


“Ih, dasar cowok gila,” gerutu Ersya.


Rizky tertawa puas sambil berjalan keluar kelas.


Cukup melihat Syifa satu menit saja itu sudah lebih dari cukup untuk Rizky, agar wajah gadis itu tidak membuat pikirannya terbagi saat belajar.


Rizky duduk di bangkunya, semenjak berpacaran dengan Syifa, gelar Rizky sebagai cowok dingin mulai menghilang. Tidak ada lagi wajah datar yang menghiasi wajah tampan Rizky, tidak ada lagi sikap tidak ramah yang Rizky tunjukkan. Semuanya berubah.


Gaeun duduk di sebelah Rizky. "Gue masih penasaran, kok lo bisa sih luluh sama Syifa?" tanya Gaeun.


"Sejak kapan lo jadi kepo?" tanya Rizky balik.


"Ky, gue tuh jadi saksi mata betapa banyak cewek yang hatinya lo patahin. Dan sekarang, tiba-tiba lo luluh sama satu cewek? Lo sehat kan Ky?" tanya Gaeun lagi.


Rizky menoleh ke Gaeun. "Alhamdulillah sehat," jawab Rizky.


"Emang ada yang salah kalau gue luluh sama satu cewek?" tanya Rizky.


"Nggak gitu Ky, cuma aneh aja, kenapa nggak dari kemarin-kemarin lo luluh sama cewek? Kenapa pas Syifa masuk ke sekolah ini lo baru bisa?" tanya Gaeun detail.


"Gaeun, lo percaya cinta kan?" tanya Rizky balik.


Gaeun menganggukkan kepalanya pelan.


"Cinta itu bisa ngerubah segalanya," ucap Rizky.


"Apalagi saat lo ketemu sama orang yang benar-benar bisa bikin lo jatuh cinta," tambah Rizky.


"Ky, lo itu udah banyak di dekatin cewek, bahkan rata-rata cewek itu udah kenal banget sama lo. Ya kali nggak ada yang bisa bikin lo jatuh cinta?"


"Cinta itu muncul bukan karena seberapa lama lo kenal orang itu, bahkan seberapa dekat lo sama orang itu. Tapi, cinta itu muncul karena kenyamanan yang tercipta saat lo sama dia," ucap Rizky.


Gaeun melihat Rizky tanpa berkedip, mulutnya hampir terbuka sempurna. Ia tidak menyangka bahwa Rizky yang mendapat gelar cowok cuek, kini berubah menjadi bucin.


"Gue nggak nyangka lo bucin, Ky" ucap Gaeun.


"Setiap orang akan jadi bucin jika masanya tiba. Apalagi kalau lo dapatin orang yang lo cintai," sahut Rizky.


Gaeun tersenyum senang melihat Rizky yang sudah bisa membiarkan orang lain masuk di kehidupannya. "Nah gini dong, ini baru teman gue" ucap Gaeun seraya memukul bahu Rizky.


"Teman? sejak kapan gue jadi teman lo?" goda Rizky.

__ADS_1


Gaeun mendesis pelan. "Sialan!"


__ADS_2