
Syifa menarik kopernya perlahan. Melihat sekeliling sekolah. Perasaannya hampa. Benar , dia ingin sekali untuk mengikuti program pertukaran pelajar, tapi disisi lain, ia seolah tak mampu meninggalkan semua yang sudah ia miliki sekarang.
Syifa mendonggakan kepalanya, membiarkan sinar matahari mengenai wajah putihnya. Syifa sangat menikmati terik matahari yang menusuk pori-pori kulitnya.
"Jangan panas-panasan," ucap seseorang dari arah belakang.
Syifa menoleh, melihat orang yang tengah tersenyum padanya, lalu berjalan mendekat.
"Sebelum lo pergi, gue mau minta maaf ya, seharusnya gue minta maaf dari kemarin, tapi gue belum berani," ucap orang itu, yang tidak lain adalah Adam.
Kedua sudut bibir Syifa mengembang, tangannya menepuk bahu Adam pelan. "Santai aja, udah gue maafin kok, lain kali jangan diulangi lagi ya. Gue yakin lo orang baik, Dam," ucap Syifa lembut.
Adam tersenyum, "Makasih karena lo masih nganggap gue sebagai orang baik."
"Lo hati-hati ya, gue mau balik ke kelas, sampai ketemu tahun depan ya Syif." Adam melambaikan tangannya pada Syifa, lalu pergi meninggalkan Syifa sendirian.
Syifa duduk di kursi panjang di dekat lorong sekolah, ia berpikir Rizky akan menemuinya sebelum ia pergi, tapi sampai saat ini ia belum melihat pria itu.
"Syifa ayo kita berangkat," ucap Bu Jasmin, guru yang akan mengantarkan Syifa dan anak lainnya ke bandara.
"Iya Bu, sebentar," ucap Syifa seraya melihat sekelilingnya, berharap akan bertemu dengan Rizky.
"Syifa,." Ersya berlari dan memeluk tubuh mungil Syifa dari belakang.
"Hati-hati di jalan ya," ucap Ersya dengan sorot mata yang berkaca-kaca.
Syifa membalas pelukan Ersya dengan erat.
"Gue akan kangen banget sama lo." Ersya masih memeluk tubuh Syifa dengan erat.
__ADS_1
"Iya, gue juga akan rindu lo."
"Oh iya Rizky mana, Sya?" tanya Syifa.
Ersya melepaskan pelukannya, meremas jari-jarinya. " Tadi sih di kelas dia nggakak ada," jelas Ersya.
Syifa menghela napasnya berat, raut wajahnya terlihat sedih. "Yaudah deh Sya, titip salam ya buat Rizky, kalau ada waktu, gue akan hubungin lo sama dia," ucap Syifa.
Kedua mata Syifa berkaca-kaca. Wajahnya mulai terasa memanas. Bukan karena panas matahari, melainkan ada rasa sedih yang tertahan. "Makasih ya Sya, udah mau jadi teman gue."
"Syifa jangan gitu ah," lirih Ersya.
"Kita kan mau wisuda bareng tahun depan," tambah Ersya lagi.
"Gue berangkat dulu ya Sya." Syifa menarik kopernya dan berjalan menuju Bu Jasmin.
"See you Syifa. " Ersya melambaikan tangannya pada Syifa.
"Udah siap Syifa?" tanya Bu Jasmin.
Syifa menarik napasnya panjang, memantapkan hati dan pikirannya. "Siap Bu," tegas Syifa.
"Baik kalau gitu, sekarang kita berangkat," ucap Bu Jasmin.
"Ayo anak-anak kita berangkat," tambah Bu Jasmin, mengajak murid yang lolos pertukaran pelajar lainnya untuk segera berangkat ke bandara.
Syifa berjalan lunglai, berharap Rizky datang dan berjumpa dengannya.
"Ayo masuk." Bu Jasmin menyuruh untuk masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Syifa menganggukkan kepalanya pelan, lalu masuk ke dalam mobil. Dalam hatinya timbul rasa kecewa pada pria yang dari tadi ditunggu kedatangannya.
Syifa melihat ke arah luar jendela, berharap sosok Rizky mengetuk kaca mobilnya dan menemuinya untuk terakhir kali saja sebelum berpisah, namun harapan itu telah gugur, karena mobilnya sudah melaju.
"Mungkin menurut orang lain, LDR itu gampang, bahkan di zaman yang canggih ini bisa tetap bertatap muka melalui layar ponsel. Namun, kerinduan bukan sebatas melihat wajah," ucap Syifa dalam hati.
°°°°°
"Sya, Syifa dimana?" tanya Rizky ketika bertemu Ersya.
"Udah berangkat," jawab Ersya.
Kedua mata Rizky membulat, mulutnya hampir terbuka sempurna. "Hah? Udah berangkat?"
"Iya, tadi Syifa nyariin lo, tapi lo nya nggakk ada," jelas Ersya.
"Baru berangkat?" tanya Rizky memastikan.
"Kurang lebih sepuluh menit yang lalu lah," jawab Ersya.
"Oke makasih, Sya." Rizky langsung berlari menuju parkiran sekolah. Ia tidak peduli dengan jam pelajaran hari ini, yang ada di pikirannya saat ini hanyalah bertemu dengan Syifa.
Rizky menyalakan mesin motornya dan berjalan keluar sekolah. Dengan kecepatan tinggi, Rizky memacu motornya. Keadaan jalan yang ramai, membuat Rizky harus lebih berhati-hati dalam berkendara.
Rizky melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Jika Syifa berangkat sepuluh menit yang lalu, berarti dalam jangka waktu lima belas menit, Syifa akan sampai di bandara. "Aduh, macet lagi," decak Rizky.
Rizky terus membunyikan klaksonnya, perasaan Rizky semakin kacau setelah melihat jarum jam yang terus bergerak, "Sehari aja, Jakarta nggak macet," Ucap Rizky dengan harap-harap cemas seraya terus melihat ke jam yang terus berputar.
Rizky mengambil ponsel dari dalam sakunya, mencoba menghubungi gadis itu, namun nomornya sudah tidak aktif. "Aelahhh! Nggak aktif lagi."
__ADS_1
Jarum jam bergerak semakin cepat, Rizky terus melihat ke arah jam, perasaannya mulai pasrah, melihat jam dan suasana yang terjadi sekarang. Ia ingin sekali bertemu Syifa saat ini, namun suasana seolah tak mendukung.
Langit yang terang benderang, kini berubah menjadi kelabu. Perlahan rintikan hujan turun membasahi. Rizky membuka telapak tangannya, membiarkan air menggenang disana. Ia ingat betul saat dirinya dan Syifa berdebat saat hujan. Langit pun seolah paham dengan perasaannya saat ini.