Perfect

Perfect
Bab 43


__ADS_3

"Lo kayaknya makin dekat ya sama Salma?" uca Ali langsung ke inti pembicaraan.


Rizky menghentikan makannya, lalu menatap Ali. "Kenapa lo nanya gitu?" tanya Rizky.


Ali mendecak. "Lo masih bisa nanya? lucu lo! Lo sadar ngga sih sekarang perlakuan lo ke Salma itu beda," ucap Ali dengan nada yang mulai meninggi.


"Urusannya sama lo apa? Gue cuma kasihan aja karena Salma kayak gue, ank broken home," jelas Rizky dengan nada bicara yang tidak mau kalah dari Ali.


"Tapi ngga gitu caranya, Ky." Akhirnya Eko ikut membuka suara.


"Lo kan tahu sendiri kalau Salma itu suka sama lo, gue cuma takut kalau Salma itu salah sangka sama semua perlakuan baik lo ke dia akhir-akhir ini," ucap Eko seraya mengambil kentang goreng yang berada didepannya.


Rizky terdiam.


"Gini deh Ky, lo berpikiran kalau perlakuan baik lo itu sebatas rasa kemanusiaan lah intinya, tapi apa Salma akan berpikiran gitu juga? Kalau Salma mikirnya lain gimana? Lo jangan mainin hati Salma!" Ali sudah tidak tahan dengan pola pikir Rizky yang menyamaratakan isi kepala orang lain.


Eko menggeser posisi kursinya mendekati Rizky, lalu menepuk pundak Rizky pelan.


"Gue sama Ali sebenarnya ngga mau ikut campur, tapi gue sama Ali juga ngga bisa biarin lo kayak gini, karena posisi lo punya pacar. Lo paham kan, Ky?" ucap Eko tenang.


Rizky menghela napasnya. Tujuan baiknya pada Salma tidak benar-benar baik, ternyata menjadi artian yang tidak baik di mata teman-temannya.


Rizky melihat Ali dan Eko secara bergantian seraya mengembangkan kedua sudut bibirnya. "Makasih udah ngingetin gue," ucap Rizky.


"Lo ngga marah kan?" tanya Ali merasa tidak enak karena beberapa menit lalu melontarkan kalimat dengan nada yang sedikit tinggi pada Rizky.

__ADS_1


"Gue berterima kasih sama kalian karena peduli sama gue," ucap Rizky.


Eko terkekeh, "Berarti malam ini lo yang bayar semua kan, Ky?" goda Eko seraya melihat makanan dan minuman yang berada di atas meja.


Rizky mengalihkan pandangannya dari Eko. "Kayaknya khusus hari ini gue ngga kenal deh sama lo," sahut Rizky tertawa.


Ali ikut tertawa, lalu mengeluarkan dompet dari sakunya. "Hari ini gue yang bayar," ucapnya seraya memberikan black card pada Eko.


"Jangan! Jangan! Gue aja yang bayar." Rizky juga mengeluarkan black card dan memberikannya pada Eko.


Bibir Eko maju beberapa sentimeter saat memegang dua black card milik Rizky dan Ali. "Teman-teman gue pada punya kartu hitam, kenapa cuma gue doang yang kartunya warna biru," ocehnya.


"Gimana kalau bayarnya pakai kartu biru aja, Ko?" goda Ali seraya menaikkan kedua alisnya.


"Lo tega banget sih, duit gue tinggal dua ratus ribu, masa suruh bayar ini semua," lirih Eko dengan wajah memelas.


Eko kembali menyantap kentang goreng dengan nikmat. "Temenan sama kalian itu adalah sebuah nikmat hidup yang harus gue syukuri," ucap Eko.


Ali yang sudah kembali dari meja kasir dan mendengar ucapan Eko langsung menyentil telinga Eko. "Temenan sama lo itu kekonyolan yang bakal gue ingat seumur hidup."


"Kalau kita udah dewasa nanti, lo akan kangen nih masa-masa kayak gini, mangkanya harus dinikmati sekarang," ucap Eko dengan mulut yang pernah dengan kentang goreng.


Rizky tersenyum melihat teman-temannya, memang benar kata Eko, berteman dengan mereka berdua adalah salah satu nikmat yang harus disyukuri, bahkan Rizky merasa beruntung karena bertemu dan berteman dengan orang-orang konyol seperti mereka.


*****

__ADS_1


Setelah dari cafe, Ali dan Eko memutuskan untuk menginap di rumah Rizky. Sesampainya di rumah Rizky, Ali dan Eko langsung ke ruang tengah dan bermain play station. Rizky selaku tuan rumah hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah teman-temannya itu.


"Udah lama banget nih kita ngga main bertiga kayak gini, padahal dulu sering banget kayak gini sebelum Rizky kenal Syifa, Ali kenal Ersya," ucap Eko dengan pandangannya yang fokus main game.


Ali melihat ke arah Eko, begitu juga dengan Rizky. Keduanya merasa tertampar dengan ucapan Eko. Memang benar, mereka sudah jarang sekali bermain bersama setelah Rizky mengenal Syifa dan Ali yang mendekati Ersya, mereka sibuk dengan urusannya masing-masing.


"Ko, maaf," ucap Ali.


"Sorry, Ko," ucap Rizky.


Eko terkekeh, pandangannya masih terus menatap layar tv, "Ngapain pada minta maaf sekarang sih? Lebarannya udah lewat," ucap Eko.


"Maaf karena gue jarang ada waktu buat ngumpul karena sibuk sama Ersya," ucap Ali.


"Gue minta maaf, Ko," ucap Rizky.


Eko menaruh stik play station-nya, melihat Rizky dan Ali secara bergantian. "Lo minta maaf gara-gara omongan gue tadi?" tanya Eko.


Rizky dan Eko mengangguk.


Eko tertawa dengan keras. Sungguh miris melihat wajah Rizky dan Ali yang seolah menyesal. "Gue cuma asal ngomong doang tadi, ngga bermaksud apa-apa," ucapnya.


"Ya tapi omongan lo ada benarnya, Ko. Kita udah jarang ngumpul karena sibuk masing-masing," ucap Ali.


Eko menghela, lalu merangkul kedua temannya itu. "Yaudah yang kemarin-kemarin lupain aja, sekarang kita nikmatin sekarang, kita puas-puasin main bareng," ucapnya.

__ADS_1


"Siap," sahut Rizky dan Ali seraya bergaya memberi hormat pada Eko.


__ADS_2